Pentigraf
Pentigraf (masih belajar)
*
*
*
Saya berlari lagi dan lagi. Kali ini saya ndak ingin tertinggal seperti biasanya. Kerikil tajam menusuk telapak kaki saya yang tanpa alas, terik matahari menyengat tanpa ampun menambah warna legam pada kulit saya. Saya percaya, kali ini saya akan bertemu dengannya, lelaki kharismatik yang selama ini hadir di mimpi saya, yang selalu memberi saya senyum menawan saat bertemu. Saya... Saya mencintainya.
"Mbok yo ojo ngimpi...
Awakmu ki sopo?Anak buruh tani, ndak berpendidikan, yo ga cantik. Ngarep ditresnani Mas Suryo, sing bagus, pinter, guru ngaji, shalih pula. Oalah Lastri...Lastri... Kamu itu seperti punguk merindukan bulan". Saya ndak menggubris kata-kata Suminah yang lagi-lagi ngonangi saya sedang ngintip Mas Suryo yang sedang ngajar ngaji di surau yang terletak jauh dari rumah saya. Saya cukup senang hanya dengan menatapnya seperti ini, di posisi yang tidak terlihat olehnya, setelah seharian bekerja membantu emak di sawah. Dan dengan senyum yang kecut, Suminah meninggalkan saya. Pelan, saya menghapus air mata saya.
"Nduk, kowe neng ngendi wae? Iki lo...oleh layang soko Suryo. Dia ke rumah siang ini. Mencarimu, sekalian pamit mau ke kota, melanjutkan kuliahnya". Dengan gemetar saya buka suratnya. Saya menangis bahagia, tulisannya begitu indah, kertasnya wangi semerbak. Saya dekap surat itu dengan tangis bahagia. Meskipun saya tidak bisa membaca.
Tamat
Hhhha, kuerenn. Ga tertebak endingnya
BalasHapusBerhasil!
BalasHapusSip sip sip...
BalasHapusKeren ini
BalasHapus