Rasul

Day 10 -----> Rasul
Kisah Eza hiatus lagi ya... Susah nyari inspirasi.

@lutfiyan28
@lisa_pingge
@ivieth_mutia
@komunitas.odop
@emakguru_

#rwcodop2019
#onedayonepost
#day10
#komunitasodop

Kali ini, lagi ingin menuliskan keresahan penulis yang mengganggu relung hati terdalam. Hehe...

Keresahan ini muncul karena sebuah pernyataan teman yang menohok. Menggugah daya pikir manusia.
Begini dia mengungkapkan.

"Tuhan itu nggak adil banget ya?" begitu dia mengawali diskusi. Kaget dong, secara Tuhan itu Maha Adil kan?.

"Eh...hati-hati... Pamali. Tuhan itu Maha Adil, tahu..." aku menjawab dengan bersungut sungut.

"Kamu pernah nggak ketemu Rasullullah? Nabi Muhammad?" tanya dia sok religi.

"Ya nggak bakal lah kita bisa ketemu Rasul, kan sudah wafat". Jawabku sambil esmosi. Aneh-aneh aja pertanyaannya.

"Nah...itulah...mengapa Allah itu nggak adil. Kita, yang hidup di jaman now ga bakal bisa ketemu Rasullullah. Gimana besok kita bisa kenal Nabi Muhammad saat hari akhir besok? Bahkan gambar dan fotonya saja tidak pernah bisa kita lihat. Nah lo...pikir!!" aku diam seribu bahasa. Eh...bener juga dia.

"Harusnya manusia yang tidak sejaman dengan Rasullullah, protes besar-besaran. Mengapa Tuhan menurunkan Rasul tidak sejaman dengan kita. Bagaimana nasib kita? Siapa yang mengoreksi cara beragama kita?siapa yang harus kita tanya saat kita punya masalah beragama yang pelik?Kalau saat jaman nabi mah, gampang..langsung saja tanya Beliau dan pasti dijawab dan dibantu menyelesaikan masalah umatnya. Bagaimana dengan sekarang?".

Aku manggut-manggut. Mungkin karena ini juga umat sekarang banyak yang memaknai agama dengan asal-asalan, banyak penyimpangan, banyak permusuhan, banyak pertikaian. Karena kita tidak punya seorang Rasul yang menjadi tuntutan hidup kita.

"Kan ada para ulama. Kan ada Qur'an juga. Itu nggak cukup kah?" aku bertanya sedikit ragu, karena tiba-tiba berkeliaran bayangan para pemuka agama di tivi-tivi yang semuanya tidak bisa dipedomi.

"Lah...ulama tahu dari mana? Dari buku?dari mbah google? Gitu doang cukup?mana bisa. Kalau jaman rasul dulu, para ulama, yaitu sahabat-sahabat Rasul, bertanyanya juga langsung ke Rasulullah... Bagaimana dengan ulama jaman now?". Aku membisu lagi. Logika sudah pelan-pelan menyusup di pikiranku.

"Qur'an pun harus ada Sang Ahli yang mampu menterjemahkan, yang  dipilih Allah sendiri. Bukan ditafsiri serampangan. Bahkan, ada juga kan ayat di Qur'an seperti Aliflamim, yang diterjemahkan oleh pentafsirnya dengan 'hanya Allah yang mengetahui maknanya'. Berarti para penafsir itu hanya menterjemahkan semampu dia saja, hanya makna pertara saja, tidak menguliti makna secara harfiah, secara sebenar-benarnya seperti yang di mau Allah".

Ah...sumpah...aku bingung, temanku yang satu ini biasanya sableng banget. Kali ini kok jadi cerdas ya??aku sampe speechless. Ga nyangka.

Aku bingung juga harus mendebat apa lagi. Lagian agama kan tidak untuk didebat, tapi dipikir dan ditafakuri.

Oke.. Butuh tanya ke ahlinya...
Karena di Qur'an menerangkan bahwa Tuhan menurunkan utusan di bumi, di setiap zaman. Maka kita disuruh mencari Sang Ahli itu.

Bismillahirrahmanirrahim...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP