Day 15 (ketupat)

Sayap-Sayap Malaikatnya hiatus lagi ya...

@lutfiyan28
@lisa_pingge
@ivieth_mutia
@komunitas.odop
@emakguru_

#rwcodop2019
#onedayonepost
#day15
#komunitasodop

***

TAK PERNAH ANGGAPMU ADA

Kali ini biarkan aku menceritakan kakak tertuaku.

Kalau mbak. Nik sudah menceritakan tentang 4 Srikandi anak-anak ibukku. Aku ingin menulis tentang kakak sulungku.

Kami biasa memanggilnya cacak. Kata ibukku, balitanya sangat ganteng, putih, sehat, dan menggemaskan. Aku belum bisa membayangkan seperti apa, melihat mukanya yang buthek gitu sekarang, hehehe... Cacak sangat cerdas, kata ibuk sekolah kanak-kanaknya sangat bagus dan membanggakan. Sekolah tingkat SD nya, banyak yang memuja dia sebagai anak yang sempurna karena selain penurut, cacak adalah anak yang tanggung jawab, mandiri dan rajin. Segala pelajaran dilahapnya dengan mudah. Daya ingatnya tak ada yang dapat menandingi dari ke lima anak ibuk. Bahkan hingga sekarang.

Ibuk dan bapak sudah merangkai harapan besar dan menata masa depan buat cacak.

Menginjak SMP, cacak masih menjadi anak kebanggaan orang tua kami. Tapi masuk tahun ke dua SMP, Tuhan berencana lain. Cacak tiba-tiba mengalami banyak perubahan. Mulai sering melamun, sering tidur, sering tidak fokus, sering menghilang begitu saja dan puncaknya cacak jadi sering membentak ibuk.

Ibuk begitu shock. Begitu kehilangan anak lelaki kebanggaannya.

Tak tahu jelas apa yang menyebabkan cacak berubah. Sering ngamuk-ngamuk, klimaksnya saat duduk di bangku SMA, tetangga takut padanya, bahkan cacak sering disebut orang gila. Sering ngamuk dengan memecahkan barang-barang di rumah, sering menghancurkan motor bapak dengan kecelakaan yang berulang kali, sering teriak-teriak di ladang yang terkenal angker di belakang balaidesa.

Rumah kami seperti neraka. Cacak menjadi pribadi yang menyeramkan, menjijikkan dan penuh amarah.

Ibuk dan bapak mengalami kemerosotan ekonomi yang tak henti-henti. Padahal sebelumnya kami hidup berkecukupan. Semua karena cacak. Maka, para adiknya, yaitu 4 Srikandi anak-anak ibuk membenci cacak. Bahkan di antara kami ada yang berdoa untuk kematiannya.

Kami mendamba seorang kakak lelaki tangguh yang dapat melindungi dan menyayangi adik-adik perempuannya. Tapi kami tak dapatkan itu.

Kadang, satu waktu cacak menjadi orang yang normal, yang bisa berbaur pada adiknya, yang penurut dan sabar. Aku ingat, saat cacak tidak 'kumat', lima hari setelah hari raya adalah lebaran ketupat di daerah kami. Tak ada yang bisa  bagaimana membuat bungkus ketupat. Ada adik ragilnya bapak yang mengajari kami. Tapi tak ada yang bisa mengikuti step by step dari paklik selain cacak. Dengan ajaib cacak menangkap apa yang diajarkan paklik dengan sekali contoh. Cepat sekali. Kemudian cacak mengajarkan adik-adiknya dengan sabar dan telaten hingga kami bisa.

Cacak kami memiliki dua kepribadian. Kepribadian seperti malaikat, satu sisi seperti iblis.

Cacak menyelesaikan SMA nya dengan berantakan. Ibuk yang berusaha kuat agar seluruh anaknya lulus setidaknya 12 tahun dari bangku sekolah. Ibuk memang sangat peduli pendidikan anak-anaknya di antara para tetangga yang acuh dengan pendidikan. Bahkan keluarga kami secara langsung menjadi contoh yang lain untuk menyekolahkan anaknya sampai SMA.

Ibuk memondokkan cacak di sebuah daerah di sekitaran Pare Kediri. Atas saran salah satu tetangga yang perduli dengan nasib keluarga kami.

Setiap seminggu sekali cacak tetap pulang dengan ulah yang membuat adik-adiknya takut keluar rumah. Hanya ibuk yang bisa menghadapi amukan cacak. Bahkan bapakpun selalu tak ada di rumah saat cacak 'kumat'. Ibuk kami memang luar biasa. Tak jarang kami mendengar isakan ibuk dari kamar sambil memeluk cacak agar tantumnya mereda. Kadang, ibu yang memunguti pecahan kaca di lantai sambil terisak, dibantu Mbak. Nun kakak perempuan tertua kami setelah tahu cacak pergi tak memperdulikan ibuk. Mbak. Ila jarang di rumah karena kegiatan sekolahnya. Mbak. Nanik dan aku yang mengurung diri di kamar dengan takut-takut.

Kemudian atas saran Pakpoh kami yang di Nganjuk, kakak dari ibuk, keluarga kami pindah ke kota angin itu. Mengikuti Pakpoh dan mbah yang sudah lama tinggal di sana. Pakpoh kami bisa merasakan rumah kami yang penuh dengan aura negatif.

Di Nganjuk, cacak masih sering ngamuk-ngamuk bahkan lebih parah lebih lama.
Ibuk tidak pernah bisa istirahat dengan baik, adik-adiknya benci sekaligus malu dengan kondisi cacak kami. Kami benci karena kasihan ibuk, tanpa tahu dan tanpa mau tahu apa yang dirasakan cacak kami.

Cacak memang tertutup. Cacak tidak pernah menyangkal atau menyangga tuduhan, fitnahan yang tumplek blek diarahkan padanya di setiap masalah atau salah paham yang ada, bahkan kesalahan yang tidak dilakukannya, dia tak menyangkal. Itulah cacak. Memilih diam.

Saat kami beranjak dewasa dan menjadi orang tua, baru kami bisa merasakan apa yang dulu dirasakan cacak. Cacak mulai terbuka, kami mulai 'mau' bertanya pada cacak.

Sama sekali bukan menuduh, tapi ibuk merasakan kejanggalan awalnya, namun ibuk tidak berani berprasangka. Kemudian cacak menjawab prasangka kami. Mengapa anak lelaki sulung ibu yang penurut menjadi beringas dan menyedihkan?

Semua pertanyaan dan tabir hitam terkuak.

B E R S A M B U N G

Ini adalah cerita nyata yang penulis ceritakan tentang keluarga penulis, harapannya ga terlalu muluk-muluk. Cukup bisa memberi inspirasi, hikmah dan pembelajaran bagi pembacanya.

Sekaligus sambil mengikuti Ramadhan Writing Challange dari ODOP (One Day One Post). Siapa tahu bisa jadi bakal novelku nanti...hehe...diaminin dong...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP