Day 9 (Sholawat)
SAYAP-SAYAP MALAIKAT
Day 9
*
*
*
Kuurungkan niatanku berkunjung ke keraton Jogja. Sayang sebenarnya, hanya saja hatiku berkata aku harus meneruskan perjalanan. Kubiarkan kakiku merasakan lelah berjalan dari satu desa ke desa yang lain. Aku mencoba menikmati segala yang ada di kota gudeg ini. Kearifan lokalnya, hiruk pikuknya, laut-lautnya, pemandangannya, budayanya yang kental, bahkan segala hal-hal supranatural yang sempat kurasakan.
Ini adalah hari ke 6 aku di Jogja, mencoba mengenali kota kelahiran kakek buyut dari jalur ayahku yang banyak mengajarkannya menjadi pribadi yang kokoh, santun dan sabar.
Lagi-lagi aku menghentikan langkahku di sebuah masjid, mengistirahatkan ragaku dan pikiranku.
Ini adalah masjid tua bergaya jawa kuno yang hampir seluruh bagiannya dibangun dengan kayu jati tebal dan tua dengan warna coklat kehitaman yang khas. Bedugnya berukuran jumbo dari batang pohon yang maha besar, mungkin diambil dari pohon jati yang berumur jutaan tahun. Atapnya mengerucut tinggi yang juga terbuat dari jati tua yang mengkilap, beberapa lampu kuno bergantungan di sana sini dengan cahaya yang temaram. Ada 17 tiang penyangga yang menopang langit-langit bangunan ini. Kuhitung sekali lagi tiangnya, ya... memang 17 tiang. Ada satu bagian yang seharusnya diberi tiang yang sama, tapi sengaja dikosongkan oleh arsitekturnya. Seakan di-pas-kan agar tiang penyangganya menjadi 17 tepat.
Aku sangat percaya, bahwa bangunan masjid, keraton atau padipokan kuno selalu memiliki historisnya juga pendirinya pasti memiliki arti filosofis bangunannya.
Kutilik jam tanganku, jam 11 malam. Pantas saja, mataku sedah berat. Kucoba memejamkan mata. Beberapa orang nampak mengistirahatkan diri juga dibeberapa tempat. Mungkin mereka dalam perjalanan sepertiku. Ada pula yang hanya berdiam diri, ada yang mengaji, dan banyak yang melaksanakan shalat. Mungkin mereka melaksanakan tarawih karena tak sempat tadi.
Setengah sadar aku mendengar suara wanita merdu bersholawat. Ah..tidak, lebih tepatnya bernyanyi. Kudengar arahnya ada di tempat berjamaah bagi jamaah putri. Aku terbelalak. Hilang kantukku seketika. Apa itu Shafita? Tidak mungkin...bagaimana bisa dia berada di Jogja sekarang? Aku terduduk, meresapi suara samar-samar yang merdu dengan lagu yang tak pernah kudengar sebelumnya.
Cintailah Rasul-Nya
Taatilah Rasul-Nya
Bersholawatlah kepadanya
Syafaat anugerahnya
Karena Allah dan para malaikat-Nya
Semuanya bershalawat kepadanya
Juga para kekasih para wali-Nya
Jika kamu rindu sholawatlah kepada-Nya
Bersandar pada Rasul-nya itulah kesungguhan hamba.
Shalallahu alaa, alaa muhammadin
Kuumu ila syaid, ilaa syaidikum
Kuumu ila syaid, ilaa syaidikum..
Bukti shalawatmu adalah
Nyata menjalankan petunjuknya
Bukti shalawatmu adalah
Kekeluargaan bersatu bersama
Bukti shalawatmu adalah
Sadar sebagai hamba yang lemah
Allahumma shalli alaa
Muhammadin wa alaa alihii wa sallim...
Aku tergugu mendengar lantunannya yang diulang berkali-kali. Menusuk hati terdalamku. Mencabik relung jiwa yang kering. Siapa wanita itu sebenarnya?
Mengapa dia memporak porandakan kesadaranku yang selama ini mati.
siapa pencipta lagu itu? Begitu indah dan menusuk sukma. Aku ingin belajar shalwat kepada pencipta lagu itu. Sholawat yang sebenarnya. Tidak hanya terucap di lisan, tapi terasakan di hati,termaktub dalam qolbu, teraplikasi dalam tindakan. Membuktikan dengan nyata bagaimana bershalawat sebenarnya.
Kuusap air mataku, kemudian bangkit untuk bertanya pada pelantun lagu tadi. Bertanya banyak hal.
Dengan setengah berlari aku menuju ruang untuk berjamaah putri yang hanya terpisahkan dengan bentangan kayu tipis.
Hah....?
Kosong...
Tak ada siapapun...
Dimana pemilik suara tadi?
Kususul ke depan, mencoba mencari sosok wanita. Tapi tetap kosong. Malam sudah gelap, banyak pengendara dan pejalan kaki. Tapi aku tak menemukan seorang wanita yang kuyakini si empu suara.
Jadi, siapa tadi?
Malaikat kah?
***
BERSAMBUNG
agak horor dikit tak apalah...
Hehe...
@lutfiyan28
@lisa_pingge
@ivieth_mutia
@komunitas.odop
@emakguru_
#rwcodop2019
#onedayonepost
#day9
#komunitasodop
Komentar
Posting Komentar