Day 7

SAYAP-SAYAP MALAIKAT
Day 7
*
*
*

Memasuki Rumah Pak Haji Gandhi, lelaki yang mengoreksi cara wuduku tadi. Bau terasi semerbak masuk di hidungku. Ku lirik jam tangan, iya...sudah waktunya menyiapkan menu untuk berbuka. Mungkin sang istri sedang berkutat dengan terasi dan bumbu-bumbu dapur lainnya.

Pak Haji mempersilahkan aku duduk pada sofa bercorak navi dan  bergaya Eropa dengan dilengkapi meja kaca berukuran jumbo yang di atasnya terpampang berbagai macam bunga hidup yang menyegarkan.

Kusapu pandanganku ke segala penjuru ruang tamu berukuran 4x5 ini. Lampu Itali dengan ornamen kristal-kristal berbentuk seperti kristal air menyoroti ruangan. Hari memang sudah mulai gelap. Dinding bercat hijau muda dengan atap ruangan putih menambah kesan bersih dan elegan. Dindingnya terpampang banyak foto berbagai ukuran. Ukuran terbesar yang menjadi point of view ruangannya adalah foto keluarganya, foto si bapak dengan istri dan ke enam anaknya. Semua kompak mengenakan baju adat jawa.

Disamping foto tadi sepertinya foto si sulung dengan pasangan dan diikuti foto ketiga adiknya dengan keluarganya masing-masing.

Di bagian yang lain, terpasang foto-foto masa kecil ke enam anak Pak Haji.

Pak Haji berdeham dan menyusulku duduk di sofa pada posisi 'sang empu rumah'. Kutegakkan tubuhku. Siap mendapat wejangan apapun dari Pak Haji.

"Nanti berbuka di sini saja. Istri saya masak enak dan banyak, karena tadinya anak sulung saya beserta keluarganya mau datang dari Jakarta, tapi ternyata ndak jadi". Reflek kulihat foto Si Sulung.

"Terimakasih Pak Haji" jawabku hormat. Bersyukur karena kebaikan orang yang tak ku kenal yang senantiasa datang bergantian. Nikmat mana lagi yang kudustakan?

"Anak saya enam, tiga atas laki-lak, tiga yang bawah perempuan. Yang empat sudah berkeluarga, yang dua masih kuliah di semester enam dan kelas sebelas". Aku manggut-manggut.

"Sekarang giliran kamu cerita". Aku mendengus pelan, dalam hati ngedumel, nasib pengelana, setiap bertemu orang dituntut cerita. Tapi aku tersenyum.

"Saya dari Jakarta, baru saja selesai ujian akhir di kelas 12. Dan saya tiba-tiba ingin keluar dari kehidupan saya yang enak dan mencoba hidup apa adanya, ada pertanyaan yang mengganggu saya yang ingin saya cari jawabannya". Kali ini kupasang wajah seriusku dan bersiap bercerita panjang lebar ke Pak Haji.

"Alhamdulillah.... Bedug maghrib... Ayo kita berbuka dulu, setelah itu kita ke masjid dan jalan-jalan". Aku mengangguk antusias.

Di atas meja makan yang besar milik Pak Haji, ada banyak sekali menu lezat, istrinya memasak kare ayam kampung yang tampak sangat menggoda, ada es buah sebagai desert nya. Lontong dan nasi tersedia sangat rapi, membuatku bingung memilih, beberapa sayur tak bersantan melengkapi hidangan keluarga ini. Aku garuk-garuk. Bingung yang menyenangkan. Di pojok meja, ada sambal terasi yang mencuri perhatianku, dilengkapi terong bakar dan daun ubi yang direbus. Ada ikan asin pula sebagai pelengkap. Melihatnya aku langsung bisa memutuskan menu apa yang aku pilih kali ini. Hidangan itu mengingatkanku pada Pak Naryo, istrinya yang bersahaja dan rumahnya yang luar biasa.

"Untung ada nak Eza datang, ibu sudah masak banyak, eeh... Ternyata si Sulung ndak jadi datang". Curhat Bu Haji. Aku lagi-lagi hanya bisa tersenyum.

Kemudian muncul dua gadis cantik dengan hijab dan busana rumahan. Keduanya kemudian menyusul duduk di sebelah ibunya.

"Ini Nadia, anak kami yang ke lima, semester enam di UGM jurusan kedokteran. Dan yang itu Mashitah baru duduk di bangku kelas sebelas SMA 2 Jogja" keduanya menangkupkan tangan menyalamiku. Aku meniru dengan ikut menagkupkan kedua tangan di dadaku.

"Bapak tadi sudah bercerita sedikit tentang Nak Eza. Saya takjub banget lo, kok ada anak muda yang berani berkelana di bulan puasa gini? Eh... Monggo dibatalkan dulu sama es buahnya nak Eza, habis itu kita jamaah maghrib dulu di belakang". Aku tersenyum dan beranjak berdiri dan berjalan menuju meja yang terletak di pojok ruangan mengambil segelas air putih dan takjil yang ada. Setelah itu, kami berjamaah di rumah pak haji. Berbeda dengan jamaah di surau Pak Naryo di Sumur Kondang yang imamnya hanya membaca surat pendek ala kadarnya, di sini Pak Haji membaca surat yang sangat panjang, bukannya semakin khusyuk, pikiranku semakin ke mana-mana. Konsentrasiku sangat terganggu, bertanya dalam hati, surat apa yang dibaca Pak Haji itu? Mengapa harus sepanjang itu? Dan kapan ini selesai dan segera makan menu buka yang banyak dan lezat itu?

Seusai jamaah yang hampir satu jam itu, aku sempoyongan mengikuti Pak Haji kembali ke ruang makan. Menunggu Pak Haji mengambil menunya. Kemudian Bu Haji mempersilahkanku untuk giliran ke dua. Kuambil menu yang aku pilih. Sambel terasi dengan lalap daun ubi rebus yang ku tambah dengan terong bakar serta ikan asin, kuhirup aromanya dan berjalan menuju kursi yang mengelilingi meja bundar untuk makan keluarga. Tanpa sendok kulahap nasiku. Tiba-tiba aku rindu Bapak dan Ibu Naryo.

Semua orang memandangku aneh, kuhentikan suapanku. Memandang mereka bergantian.

"Nak Eza kok ambil sambel terasi dan lalapan saja?itu ada kare ayam lo...enak banget...sayur kesukaan seluruh anak saya. Itu sambel terasi sebenarnya yang bikin mbok Jarmi, pembantu kami. Ndak tahu, kenapa ada di meja makan situ?kebawa tanpa sengaja sepertinya. Ayo nak Eza, cobain kare ayamnya".

Oh...ini ternyata yang membuat mereka memandangku aneh.

"Saya suka sambel terasi dan lalap daun ubi rebus bu, saya mengenal makanan ini saat kemarin berada di Cirebon, ikut keluarga sederhana yang luar biasa. Saya awalnya aneh, tapi setelah dicoba rasanya luat biasa nikmat. Kadang, kelezatan makanan didapat bukan selalu dari makanan yang mewah bu, tapi dari makanan sederhana dan dimasak denga keikhlasan juga bisa kita dapat rasa nikmat yang luar biasa. Itu juga saya baru tahu. Maaf kalau saya nyerobot makanannya si mboknya, nanti akan saya bikinkan buat si mbok sambel terasi. Saya bisa kok. Hehehe..." Aku jadi nggak enak sendiri. Main serobot saja.

"Ah..ndak papa nak, biar simbol nanti yang bikin lagi". Aku mengangguk dan meneruskan makanku dengan khidmad.

*
*
*

Kupandang dengan diam simbok keluarga Pak Haji yang sedang berbuka. Aku sengaja pamit ke belakang dari keluarga Pak Haji sehabis tarawih dan ingin berkenalan dengan simboknya. Ternyata, simbok belum berbuka puasa, karena harus menyelesaikan tugas dengan membereskan banquet keluarga Pak Haji dengan dibantu anak gadisnya yang masih SMP.

Pak Haji memintaku menginap semalam di rumahnya. Aku mengiyakan karena aku berencana akan melakukan banyak hal di Jogja. Dan aku ditempatkan di kamar tengah yang berhadapan dengan ruang makan tadi.

Dan aku tergoda untuk mengajak si mbok dan anak gadisnya untuk ngobrol. Rumah si mbok Jarmi ada di Kaliurang, daerah dataran tinggi di Jogja. Memiliki lima orang anak dan si bungsu baru duduk di SMP yang ikut dengannya bekerja di Pak Haji Gandhi. Keempat anaknya sudah berkeluarga dan hidup berkecukupan. Sebenarnya semua anaknya melarang mbok Jarmi bekerja, tapi wanita 50an ini tidak ingin hanya berdiam nganggur saja.
Dia tidak bisa meninggalkan keluarga Pak Haji, karena orang tua Pak Haji dulu sudah sangat baik pada keluarganya. Dan dia berjanji akan mengabdikan hidupnya pada keluarga ini sampai keluarga ini sudah tidak membutuhkan tenaganya lagi.

Anak pertama mbok Jarmi adalah seorang dokter specialin jantung di Jakarta sana, anak kedua seorang direktur bank swasta di Bogor, anak ketiga tinggal di Jepang mengikuti suaminya yang seorang dosen di sana dan yang ke empat masih kuliah semester akhir di Jogja dengan biaya sendiri karena sudah memiliki penghasilan dari CV yang didirikannya yang menjual dan mengekspor batik Jogja. Tinggal si bungsu yang masih dirawatnya, bersekolah di SMP favorit di Jogja sambil berjualan tas online dan memiliki omset jutaan perminggu.

Aku takjub luar biasa. Kukira si mbok Jarmi wanita biasa yang serba pas-pasan hingga harus bekerja di keluarga seorang pengusaha tekstil, Haji Gandhi yang terkenal di lingkungan sini. Terkenal karena leluhurnya yang menjadi orang besar. Tapi nyatanya, si mbok adalah wanita luar biasa yang memiliki ratusan hektar kebun teh dan kebun kopi di desanya sana. Hidup sebagai kacung adalah untuk menenggelamkankan rasa ego, keakuan dan sombong yang kapan saja bisa muncul. Menjadi pembantu adalah pelajaran baginya untuk hidup sederhana, hidup sebagai hamba.

Ah...Pelajaran luar biasa kali ini yang aku dapay dari wanita sederhana yang tangguh. Seorang malaikat tanpa sayap yang memuja kesederhanaan, keikhlasan dan kesabaran.

Seperti terasi, dia bau menyengat, jelek pula warna dan bentuknya. Seseorang harus mengenalnya dan mencoba merasakannya agar mendapat kenikmatan rasanya yang tak terlupakan.

*
*
*
BERSAMBUNG

@lutfiyan28
@lisa_pingge
@ivieth_mutia
@komunitas.odop
@emakguru_

#rwcodop2019
#onedayonepost
#day7
#komunitasodop

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP