Day 5 (Lanjut kisah Eza)

SAYAP-SAYAP MALAIKAT
Day 5

Tarawih di surau sini sangat menakjubkan, surau kecil di pojokan desa, tempat pertama aku bertemu Pak Naryo, yang bangunannya hampir rubuh tapi memiliki aura sangat berbeda saat menjelang maghrib. Jamaah memenuhi suraunya sampai meluber di luarnya dan hampir menyentuh jalan. Anak kecil berbagai usia meramaikan suasana dengan mendendangka puji-pujian setelah adzan dengan semangatnya. Bahkan sebelum adzan para jamaah sudah berbondong-bondong menyerbu surau melakukan apapun yang mereka bisa. Ada yang menyapu surau, menyapu dedaunan di teras surau dan menggelar tikar untuk jamaah yang tidak kebagian tempat di dalam. Kata Pak Naryo keadaan seperti ini tidak hanya di Ramadhan, ini sudah menjadi rutinitas harian.

Para ibu-ibunya dengan mukena yang Sederhana, menempatkan diri di shof belakang jamaah putra. Beberapa sambil membawa makanan ringan, yang sebenarnya menurutku itu makanan berat seperti rebusan singkong, ubi, atau makanan yang diolah dari bahan yang sama, singkong dan ubi. Adapula yang membawa satu teko kopi dan teh, juga kacang rebus. Semua makanan memenuhi meja bundar yang terletak di depan pelataran mushola. Itu semua untuk persediaan para jamaah dan siapapun yang 'nderes' qur'an.

Setelah tarawih usai, ada pujian-pujian panjang yang bagus sekali. Aku merinding mendengarnya. Semua melantunkannya dengan khidmad dan sambil memejamkan mata. Andai saat ini aku membawa telepon genggamku, aku pasti sudah merekam alunan indah ini.

Allahumma shali wassalim wabarik alaa
Sayyidina Muhammadin abdika wanabiyyika warasulikaa nabiyyil ummiyyi wa'ala alihii washahbihi wassalim adadama kana wa 'adadama yakuunu wa adadama huwa kaainun fi'ilmillah.

Ah...
Aku begitu damai mendengar alunan ini.

Aku bahagia menyambut malam di desa ini. Selama 3 hari di sini aku pasti menjadi orang pertama yang duduk di dalam surau, menyambut para jamaah yang datang, anak-anak yang luar biasa dan ikut menyiapkan segala yang harus disiapkan untuk tarawih dengan senang hati.

Banyak sekali yang aku dapat di sini. Aku diajari bagaimana bertanam yang baik, dengan pola tatanan sehat dan amanah oleh Pak Naryo dan beberapa saudara sinorowedinya. Katanya, Pak Naryo juga diajarkan oleh Gurunya.

Aku juga belajar bagaimana menjadi pribadi yang sederhana, belajar bagaimana hidup bersama saling menolong dengan ikhlas. Pak Naryo juga mengajariku bagaimana cara mengenali jati diri. Belum tuntas dia mengajariku, karena kata Pak Naryo, dia tidak berhak menuntaskan penjelasan tentang hal yang satu itu. Ada yang lebih berhak dan sah yang harus aku cari sendiri.

Sebenarnya aku enggan sekali meninggalkan desa Sumur Kondang ini. Tapi perjalananku masih sangat panjang. Aku masih di kota Cirebon. Dan harus melanjutkan perjalananku ke timur.

Ah Shafita, pintar sekali kamu memberiku PR luar biasa ini.

Kemudian aku melangkah menapaki segala kisah, segala hikmah dan menjemput keselamatan abadi.

***

BERSAMBUNG

yeey... Ketemu Eza lagi... Udah kangen to?
Nantikan kisah Eza selanjutnya ya...
Sekarang penulisnya bobok cantik dulu, mata sudah tinggal lima watt ini.

@lutfiyan28
@lisa_pingge
@ivieth_mutia
@komunitas.odop
@emakguru_

#rwcodop2019
#onedayonepost
#day5
#komunitasodop

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP