Day 2
SAYAP-SAYAP MALAIKAT
Day2
Aku berjalan ke arah timur dengan bekal seadanya. Hanya membawa beberapa pakaian, beberapa rupiah dan air minum secukupnya. Ibu tadi memaksaku membawa kartu kreditnya, dengan diam-diam kukembalikan di laci kamarnya. Ayah membekaliku dengan segudang semangat yang mampu mengisi amunisi keteguhan dalam hatiku.
Entah...
Akan berakhir ke mana langkahku. Aku hanya mengandalkan hati dan logikaku.
Sudah menjelang maghrib, kuputuskan untuk berhenti di sebuah masjid di kawasan Jakarta Timur. Sudah hampir seharian aku berjalan tapi aku belum juga keluar dari kawasan Jakarta. Mungkin karena aku terlalu lemah untuk bisa berjalan seperti ini, mungkin juga karena aku terbiasa hidup enak hingga berjalan begini saja aku serasa ingin menyerah, ditambah sekarang aku juga berpuasa. Kuhapus peluhku, merebahkan tubuhku di dalam masjid dan menikmati rasa lelahku serta mengatur nafasku yang tinggal satu-satu sembari memejamkan mataku.
Aku tergagap, sentuhan lembut pada lenganku membuatku sadar, ternyata aku tertidur barusan. Aku segera bangkit duduk dan mendapati pria paruh baya duduk tepat di depanku.
"Sudah maghrib anak muda, waktunya berbuka puasa" ucapnya sambil tersenyum.
"Batalkan puasamu, di sana ada air sirop yang bisa kau minum". Aku melihat arah yang dimaksud dan aku mengangguk padanya sembari berterimakasih.
Disana ada berjejeran gelas plastik yang berisi air sirop aneka warna. Sangat menggugah selera dan dahagaku. Kupungut satu gelas dan menegaknya tanpa sisa.
"Kalau sudah, berwudhulah. Sebentar lagi akan berdatangan jamaah untuk sholat maghrib". Ternyata bapak tadi masih memantauku. Aku mengangguk dan bergegas mengambil wudhu.
"Sebenarnya kau mau ke mana anak muda?". Setelah berjamaah bapak tadi, yang ternyata imam masjid ini mendudukkanku setelah keadaan masjid berangsur sepi.
Aku bimbang akan menjawab apa? Bercerita dari mana? Masa iya aku harus menceritakan keinginan berkelanaku karena ditolak cinta oleh seorang gadis?
Aku meringis, menyiapkan jawaban yang lebih masuk akal.
"Saya Eza pak, saya ingin mencari pengalaman. Saya ingin selama Ramadhan berkelana. Ingin mencari jati diri" kilahku.
"Lihat air sirop itu nak Eza!" Pak Rajib, sang imam masjid menunjuk ke arah meja yang masih ada beberapa gelas dengan minuman berwarna yang masih utuh.
"Dia adalah air, meskipun sudah berubah warnanya karena tercampur sirop, tapi esensinya tetap sama. Penghilang dahaga. Itu lah air. Bagaimana dengan manusia?". Aku manggut-manggut
"Berarti mengenali jati diri, saya harus tahu esensi diri saya, begitu pak?". Tiba-tiba ada secercah cahaya menyibak pikiranku yang sebelumnya gelap.
"Mengenali esensimu adalah mengetahui tujuan hidupmu. Mengenali tujuan hidupmu adalah mengetahui jalan hidupmu. Mengenali jalan hidupmu dengan tahu untuk apa kamu diturunkan Tuhan di bumi" Aku tergetar. Ternyata Shafita benar, aku belum tahu siapa diriku yang sebenarnya.
"Ajarkan saya pak... Saya mohon..."
"Bukan dariku kau akan bisa belajar nak Eza. Belajarla dari alam, dari rerumputan, dari gunung, dari angin, dari manusia lainnya. Dan carilah Guru sejati yang barhak dan syah menunjukkan mu"
Bagaimana kisah perjalanan dan pencarian Eza?
Bersambung di Day 3 ya....
Nantikan selalu kisahnya...
@lutfiyan28
@lisa_pingge
@ivieth_mutia
@komunitas.odop
@emakguru_
#rwcodop2019
#onedayonepost
#day2
#komunitasodop
Tanjunganom, 7 Mei 2019
Yulia Tanjung
Komentar
Posting Komentar