Day 16 (Bukber)

SAYAP-SAYAP MALAIKAT
Day 16
***
***
***

@lutfiyan28
@lisa_pingge
@ivieth_mutia
@komunitas.odop
@emakguru_

#rwcodop2019
#onedayonepost
#day16
#komunitasodop

Pov's Shafita

Sudah mulai liburan. Banyak rencana yang sudah kurancang untuk mengisi liburanku. Jadwal Bukber juga seperti kereta. Bukber satu angkatan, bukber keluarga besar, bukber grup literasi, bukber bersama pengurus dan anak-anak panti dan beberapa yang lain.

Siang ini aku berencana ke panti dan bermain bersama anak-anak. Saat hatiku gundah, aku lebih sering menghabiskan waktuku di panti, bercerita bersama anak-anak, atau membantu apa saja.

Aku juga tak mengerti mengapa akhir-akhir ini merasa gundah. Pikiranku melayang entah ke mana. Sering menangis tanpa kutahu apa penyebabnya. Aku merasa hampa, kosong dan tak berguna.

Sejak kutahu, Kak Eza sedang mencari hati dirinya dengan berkelana, aku sadar telah mempermainkannya. Aku memintanya mencari jati diri, mencari siapa dirinya padahal aku sendiri belum tahu siapa diriku. Saat mengucapkan kalimat itu padanya ketika dia menuntut jawaban atas pernyataan cintanya, aku  hanya berniat membuatnya mundur, aku hanya mengutip kalimat itu dari buku yang kubaca tentang kisah Mashitah. Mencari jati diri yang seperti apa dari buku itu, aku juga belum memahaminya. Tapi aku sudah mengungkapkan itu ke Kak Eza.

Aku seperti tong kosong. Membaca tanpa aplikasi, berkata tapi belum melakukan apapun. Aku.... Aku seperti orang bodoh. Banyak buku yang aku baca selama ini seolah mengolokku, memojokkanku, menuntutku untuk mencari apa yang telah aku minta ke Kak Eza. Tapi aku tidak tahu dari mana aku mulai.

"Eh...Shafita pagi-pagi sudah di sini?"
Bu Tutut, ketua pengurus panti yang sudah seperti ibuku sendiri tiba-tiba muncul di belakangku.

"Fita pengen bantuin persiapan bukber bu. Udah belanja?". Aku bangkit dari dudukku.

"La ini ibu mau belanja. Ikut yuk...". Aku mengangguk dan berjalan mengiringi langkah Bu Tutut.

"Fita bonceng bu pakai motor Fita nih..." aku menawarkan sambil menunjuk motorku yang sudah aku standart

"Halah, jalan saja, wong deket saja kok". Bu Tutut mengibaskan tangannya menolak.

"Oke deh..." Sahutku ceria. Kemudian kami berjalan beriringan menuju pertigaan jalan dekat panti yang di sulap menjadi pasar dadakan setiap paginya.

"Kamu ngapain tadi duduk sendiri di depan teras kantor? Seperti melamun saja. Awas kesambet lo, kebanyakan melamun". Bu Tutut mengawali dialog sambil sesekali menyapa tetangga.

Aku terkekeh. Malu kepergok sedang melamun.

"Fita sedang galau bu..." jawabku asal, tapi bener.

"Galau kenapa? tumben kamu galau segala?". Aku suka curhat sama Bu Tutut. Sifat keibuannya yang membuatku nyaman bersamanya. Dan menggantikan posisi ibu yang selama ini aku rindu.

"Katanya kamu di tembak kakak kelas ya?" aku kaget, kok ibu tahu? Pasti.....

"Ida udah cerita ke ibu". Aku meringis. Ih....Mbak Ida...! Nakal...!

Mbak Ida adalah salah satu pengurus panti yang sudah sangat dekat denganku. Pada ke dua orang inilah aku suka membagikan keluh kesahku. Bu Tutut dan Mbak Ida.

"Itu yang membuat kamu galau?". Aku terdiam sesaat.

"Bukan itunya yang bikin Fita galau bu. Fita hanya merasa mengatakan hal yang belum Fita tahu apa yang Fita ucap padanya, Fita merasa menjadi munafik. Berkata tapi tak menjalani". Uraiku sambil memperlihatkan wajah sedihku.

"Kamu ngomong apa emang?". Pasar dadakan yang kami tuju sudah dekat. Terlihat para pedagang yang menggelar dagangannya dikelilingi penjual yang berlimpah ruah.

"Kita nanti masak apa bu?". Bukan bermaksud mengalihkan pembicaraan, tapi waktunya kami break dan mulai memilih bahan yang harus kami beli.

"Kita bikin rendang. Dan soup buntut untuk pelengkapnya. Ambil beberapa buah untuk takjil. Nanti akan ada donatur baru yang ikut bukber bersama kita. Jadi kita bikin yang pantes untuk menyambut donatur kita". Jawab Bu Tutut, kemudian kami memisah diri yang sebelumnya bu Tutut sudah membagi, apa saja yang harus aku beli.

"Siap buk..."

B E R S A M B U N G



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP