Day 23 (lailatul qadar)
@lutfiyan28
@lisa_pingge
@ivieth_mutia
@komunitas.odop
@emakguru_
#rwcodop2019
#onedayonepost
#day23
#komunitasodop
SAYAP-SAYAP MALAIKAT
Day 23
***
Malam ini terasa beda, aku menghitung hari. Ini adalah malam 25 Ramadhan. Mungkin ini malam Lailatul Qadar. Aku dengan sadar mengambil wudu di masjid agung di kawasan Pare Kediri.
Setelah bertemu Yasmin, Sang Pelantun lagu yang menggetarkan hatiku saat itu. Dia menunjukkanku lagu aslinya. Syair aslinya dan siapa penciptanya. Lagu itu berjudul Shalawat dan Cintai Rasul.
Membaca syairnya membuatku rindu dengan sosok yang tak pernah aku tahu, tak pernah aku kenal. Sang Utusan. Rasulallah. Selama seminggu setelah meninggalkan Jogja aku merasa teramat frustasi. Aku merindukan Utusan Allah itu. Tapi bagaimana aku bertemu dengannya? Sedang aku tak pernah bertemu dengannya? Sedang aku berbeda zaman dengannya? Dia hidup ratusan tahun yang lalu. Bagaimana aku bertemu dengannya?.
Yasmin berpesan padaku.
"Kak Eza, kalau ingin damai hidupnya, selamat hidupnya, carilah Sang Juru Selamat. Carilah yang bisa menunjukkan siapa diri kakak. Kakak tak akan bisa mengenali diri Kakak jika tanpa bantuan Maha Guru yang berhak menunjukkan". Kemudian aku diarahkan menuju Timur dengan selalu berdoa dipertemukan dengannya. Sang Ahli Menunjukkan. Entah siapa itu.
Selama perjalanan kulantunkan lagu yang ditunjukkan Yasmin. Hingga aku hafal di luar kepala. Semakin aku sering melantunkannya semakin aku merasa seperti orang gila. Menangis dan meraung sendiri di saat aku merasa tak tahan dengan rasa rindu dan lelah ini.
Di masjid ini. Dipertiga malam, yang aku harap malam ini adalah malam Lailatul qadar, aku bersujud, menangis, memohon pada Sang Khalik dengan kepasrahan di titik terendahku.
"Allah Yang Maha Agung....
Hamba tak ingin banyak. Hamba hanya ingin sebelum ajal menjemput hamba, tunjukkan hamba Sang Ahli itu. Biarkan hamba mengenal siapa diri hamba yang sesungguhnya. Hamba bersedia jika dengan pertemuan itu hamba ganti dengan nyawa hamba. Hamba hanya ingin kembali padaMu dengan keadaan selamat. Bertemu denganMu dengan damai dan bahagia. Biarkan hamba mengenalMu melalui utusanMu. Tunjukkan pada hamba bagaimana bershalawat pada RasulMu yang sebenarnya.
Tuhan Yang Maha Segalanya. Tuhan yang mencakup segala sesuatu. Yang berhak atas segala sesuatu. Mohon... Biarkan hamba mengenalMu, seperti Robiatul Adawiyah yang memuja kekasihnya, yaitu Engkau Sendiri kemudian kembali padaMu dengan wajah berseri-seri. Ya Allah Ya Rabbi. Izinkan hamba. Aaminn".
Aku bersujud dalam dengan isak tanpa henti. Aku merasa tak menginginkan apapun saat ini. Aku sudah berada pada titik nadzirku.
Selesai bersujud lama. Aku beranjak hendak meninggalkan masjid. Sudah pukul dua dini hari. Aku harus berjalan, siapa tahu sudah mulai ada yang buka warung untuk makan sahurku nanti.
Kurogoh saku celana. Uang yang aku miliki sudah menipis. Seminggu ini aku tak mencari pekerjaan. Biasanya aku bekerja sambil mengembara untuk meneruskan hidupku dalam perjalanan.
Di tangga masjid ada lelaki paruh baya sedang membersihkan tangga sendiri. Kudekati lelaki itu.
"Saya bantu pak" tawarku padanya.
"Oh...makasih dik... Itu ada sapu lain di pojok" aku mengangguk dan bergegas mengambil sapu yang dimaksud bapak tadi.
"Kok bersih-bersihnya jam segini pak? Ndak menunggu sudah agak terang gitu?". Tanyaku sekedar basa-basi
"Saya tidak enak aja lihat kotoran sisa tarawih tadi masih berserakan di sini. Nggak enak di mata dik, karena bapak lihatnya dini ini, ya dibersihkan saja to". Penjelasan yang singkat tapi begitu mengena. Aku meringis sambil menggaruk kepala malu. Padahal aku melihat sampah-sampah ini dari tadi tapi kalah respon sama bapaknya.
"Bapak juga sedang dalam perjalanan ya?" aku menebak karena bapaknya memakai jaket kulit dan celana seperti bukan orang asli sini.
"Iya dik, saya mau ke Blitar, menjenguk anak saya. Adiknya mau ke mana?" aku garuk kepala lagi, kalau aku beritahu sebenarnya pasti butuh waktu lama ini.
"Saya ke Kediri sini aja pak, di rumah saudara di sekitar sini. Karena sudah malam ndak enak mengganggu, saya mampir masjid dulu saja". Ah...panjang juga ternyata penjelasanku yang kukarang ini. Hehe..
Si bapak ber 'ooh' ria dengan tetap menyapukan sapunya di tiap tangga masjid berukuran besar ini.
"Sepertinya malam ini malam Lailatul Qadar ya pak. Sepi banget dan hening malamnya". Aku mencoba ngobrol lagi setelah kami sama-sama duduk di salah satu tangga sembari melepas lelah dan mengatur nafas kami.
"Lailatul Qadar? Adik tahu apa itu malam Lailatul Qadar?"
"Salah satu malam di bulan Ramadhan yang sangat mulia. Malam seribu bulan kan pak? Saat kita melakukan ibadah di malam itu, pahalanya sama dengan kita puasa selama seribu bulan?"
Bapak tadi tersenyum. Mungkin menertawakan jawabanku yang teramat umum. Aku sendiri ragu dengan apa yang aku paparkan tadi.
"Lail dalam frase Lailatul Qadar adalah adjective atau kata sifat. Bukan noun alias kata benda. Ia berfungsi sebagai penjelas. Sehingga tidak bermakna malam.
Qodar adalah sesuatu yang diupayakan dalam sebuah proses yang terus menerus.
Lailatul ketersambungan antara gerak proses dengan akhir proses atau hasil.
Sehingga Lailatul Qadar bermakna bertemunya sebuah upaya yang dilakukan secara sadar dan terus menerus dengan hasil dari perjalanan proses tersebut.
Pertemuan dengan sesuatu yang dicari dan diupayakan oleh sang pencari.
Ibarat saat adik dahaga dan sangat butuh minum, maka adik mencari air kemana mana. Saat bertemu dengan air yang bisa adik minum, lantas adik mengambilnya untuk adik cecap. Lantas adik ambil cangkir sebagai wadah yang mengantarkan air ke tenggorokan adik. Titik bertemunya cangkir dengan bibir sang pencari yang sangat dahaga itulah detak nadi Lailatul Qadar". Aku tersentak.
"Berarti perjalanan saya menjelajah ini adalah proses saya menuju Lailatul Qadar pak?" aku dengan reflek menepuk dadaku dan membelalakkan mataku sembari mengucapkan itu.
"Berarti adik ini sedang dalam perjalanan berkelana? Mencari Lailatul Qadar?" aku mengangguk semangat.
"Apa yang dicari adik?"
"Saya mencari Tuhan pak"
BERSAMBUNG
Yang kangen Eza, angkat tangan... Hehe...
Komentar
Posting Komentar