Day 18 (Sajadah)
SAYAP-SAYAP MALAIKAT
*
*
*
@lutfiyan28
@lisa_pingge
@ivieth_mutia
@komunitas.odop
@emakguru_
#rwcodop2019
#onedayonepost
#day18
#komunitasodop
Lagu Sajadah dari Bimboo mengalun samar terdengar dari dalam masjid. Lagu yang diputar seorang petani yang sedang mencabuti hama di sawah yang terletak persis di samping masjid. Aku terbangun tapi tak segera beranjak. Rupanya aku tertidur. Misteri sebuah lagu dan pelantunnya membuatku terjaga semalam sampai subuh. Kulirik jam tangan, 07.30. Senja sudah beranjak dari peraduan. Tapi hawa dingin masih sangat terasa. Aku beringsut bangun sembari mengusap wajahku kasar. Mencoba mencerna makna lagu Sajadah milik Bimboo ini.
Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati
Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar interupsi
Mencari rezeki mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara azan
Kembali bersimpuh hamba
Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau sepenuhnya
Entah, sejak mengenal Shafita aku sekarang suka mencerna lirik lagu yang menyentuh. Berharap siapa tahu ada jawaban dari pertanyaanku atau setidaknya menggiringku kepada jawaban yang aku cari.
"Ayo le...kita jalan-jalan. Simbah kenalkan sama pengurus masjid dan pengurus TPA di sini". Aku terduduk saat kurasa sentuhan lembut di tanganku.
"Iya mbah, saya cuci muka dulu". Hawa sedingin ini nggak mungkin kan kalau harus mandi?
Aku berjalan mengiringi langkah mbah Saleh yang berjalan pelan-pelan. Kami menuju sisi kanan masjid yang menjadi madrasah islamiyah yang masih tutup. Tapi kantor sudah beroperasi.
"Masjid ini dibangun kapan mbah?" Aku baru menamatkan bangunan masjid dari luar yang tampak kuno dan kokoh.
"Masjid ini sudah lama sekali berdiri nak Eza. Kira-kira sudah 450 tahunan". Aku menggumam kagum. Kayu jaman dulu memang tak tertandingi. Dan itu hanya jati yang bisa begini. Tahu kan? Jati itu berasal dari mana? Jawa.
"Ini kantor TPA. Ibu itu ketua pengurusnya". ibu yang dimaksud mbah Saleh berdiri menyalamiku. Aku mencium tangannya. Umurnya seperti nenekku.
"Dan yang lainnya itu para pengajarnya". Aku menebar senyum pada semua.
Mbah Saleh berperawakan biasa. Sangat biasa malah, tapi semua orang yang kami temui sangat menghormatinya. Bahkan imam masjid yang selalu memimpin shalat setiap harinya. Tebakanku, mbah Saleh orang paling tua di desa ini. Pantas jika semua menghormatinya.
"Dan yang nak Eza dengar suaranya semalam itu salah satu pengajar TPA sini. Namanya Yasmin". mbah Saleh mengedarkan pandangannya.
"Tapi sepertinya orangnya sedang ndak ngantor sekarang". lanjut simbah. Aku mengeluh dalam hati.
"Dia lagi keluar sebentar, mbah... Sedang fotocopy sesuatu". Salah seorang menyahut perkataan si mbah Saleh.
Mbah Saleh keluar kantor, aku mengikutinya.
"Si mbah kok tahu kalau suara semalam punya Yasmin mbah? Kan mbah ndak ikut dengar semalam?". Aku yakin semalam hanya aku yang terjaga.
"Ya tahulah... Simbah kan sakti" jawab mbah asal. Eh... Simbah nakal juga.
Aku ikut duduk di dekat mbah Saleh di samping masjid. Sepertinya menunggu seseorang.
"Yang bisa lagu itu ya memang cuma si Yasmin. Dia tahu lagu itu dari Gurunya di jauh sana. Dia itu pengajar baru di sini. Dia akan mengajarkan lagu itu ke anak-anak. Makanya dia terdengar menyanyikan lagu itu terus. Latihan untuk anak-anak".
"Ooh..."
Tak lama seorang gadis datang dengan sepeda until dengan jilbab lebar berwarna toska. Si mbah berdiri. Aku mengikuti gerakannya. Pasti ini si pemilik suara.
BERSAMBUNG
Lanjut besok ya...
Have nice reading...
Komentar
Posting Komentar