Day 14 (Keramik Masjid)
SAYAP-SAYAP MALAIKAT
Day 14
***
***
***
@lutfiyan28
@lisa_pingge
@ivieth_mutia
@komunitas.odop
@emakguru_
#rwcodop2019
#onedayonepost
#day14
#komunitasodop
***
Masjid ini terlihat beda di pagi hari. Kesan klasik sangat jelas terlihat. Kayu jati yang kokoh mengkilap nampak begitu eksotis dengan warnanya yang khas. Dindingnya saparo ke atas dibangun dengan jati lebar yang mengelilingi seluruh bagian masjid dengan warna aslinya yang terplitur dengan sempurna. Setengah bagian bawah dikeramik dengan warna coklat susu yang bersih. Lantai keramik masjid kelas terbaik berwarna coklat kehitaman menambah kesan elegan yang tak bisa ditutup-tutupi.
Masjid ini berdiri di atas hamparan tanah yang sangat luas. Memiliki dua sisi sayap yang sengaja dibangun sedikit menjorok ke dalam. Sisi kanan ada tiga bagian untuk toilet dan tempat wudu jamaah putra dan putri dan satu bagian untuk gudang. Sayap kanan dibagi menjadi empat ruangan. Tiga ruang digunakan untuk madrasah di sore hari, dan satu ruangan yang paling luas untuk kantor.
Halaman depan dibiarkan kosong untuk parkir dan untuk penjual kaki lima di sore hari saat madrasah beroperasi.
Siapapun akan betah berada di sini. Selain dinginnya suasana masjid, dibagian depan masjid berjejer rak-rak yang tinggi menjulang dan dipenuhi dengan aneka jenis bacaan. Buku, majalah, tabloid, Al-Qur'an, dan koran. Koleksi bukunya tidak hanya buku agama, tapi ensiklopedia umum turut melengkapi koleksi masjid. Beberapa bacaan berbahasa inggris juga terlihat berjejer di sana.
Masjid dengan kuba tunggal berlambang bintang ini unik, di dalam masjid yang tak banyak dihiasi kaligrafi seperti umumnya masjid kebanyakan, terdapat foto Presiden dan Wakil Presiden serta lambang negara Garuda Pancasila. Di sisi-sisinya tertempel sebuah banner memanjang yang bertuliskan ayat-ayat qur'an beserta artinya. Lafadz Allah dan Muhammad bertengger di samping pengimaman, tapi tidak begitu mencolok.
Di samping kiri terdapat dua mimbar. Mimbar besar untuk khotbah jum'at atau khotbah di hari besar. Mimbar satunya lebih kecil dilengkapi dengan satu kursi. Mungkin itu untuk kajian yang rutin dilaksanakan seminggu sekali di sini.
Keramik masjid yang dingin menembus tubuhku saat kuselonjorkan tubuhku dengan nyaman. Masih pagi. Si mbah Juna akan mengajakku jalan-jalan katanya. Dan menjawab pertanyaan ku tentang suara misterius tadi malam.
Aku mengerjapkan mataku. Sudah setengah bulan aku berkelana. Menyusuri perjalanan yang begitu panjang dan melelahkan. Tapi aku belum menemukan jawaban pertanyaanku. Mungkin perjalanan ini tidak akan cukup kutempuh hanya satu Ramadhan saja. Sepertinya aku harus menahan rindu pada rumah dan orang tuaku lebih lama lagi.
Kupejamkan mata. Sekelebat bayangan gadis berjilbab dengan kaca mata bulatnya tersenyum tulus hadir di dalam pikiranku. Aku ikut tersenyum. Ah... Ternyata aku juga merindukannya. Shafita.
B E R S A M B U N G
maaf kalau cuma dikit. Dikejar deadline...
Uluh-uluh authornha sok sibuk ya?? Hehe...
Komentar
Posting Komentar