Day 13 (Setan)

SAYAP-SAYAP MALAIKAT
Day 13

@lutfiyan28
@lisa_pingge
@ivieth_mutia
@komunitas.odop
@emakguru_

#rwcodop2019
#onedayonepost
#day13
#komunitasodop

*
*
*

"Ayo...ikut saya shalat malam, dari pada ngelamun gitu". Tiba-tiba sosok tua berbadan bungkuk berjalan mendekatiku. Aku tersadar dari lamunan tentang pemilik pelantun lagu tadi. Masih duduk bersila tak bergeming. Ku lirik jam dinding masjid. Kedua jarum menunjuk angka satu. Si Mbah menatapku heran, menyadari kebingunganku.

"Kamu itu apa habis mimpi buruk to? Kok seperti kerasukan jin gitu?". Kali ini ada nada bercanda dari Si Mbah yang baru kulihat ini. Kemudian dia ikut duduk bersila di depanku.

"Saya tadi mendengar ada suara wanita di sana mbah. Dia melantunkan lagu yang sangat bagus, saya menangis sesenggukan mendengar lagunya. Syairnya menyadarkan saya tentang makna shalawat. Tapi, setelah saya cari, wanita itu hilang mbah, bahkan sudah saya cari di jalan. Saya tidak menemukan. Apa mungkin dia itu setan ya mbah?". Aku menceritakan kronologi kejadian malam ini, yang membuat kantukku terbang entah ke mana.

Si mbah terkekeh, terlihat giginya yang tinggal beberapa saja.

"Oalah, ada juga to setan yang pinter nyanyi?". sambung si mbah sembari tertawa dengan pelafalan kata yang tidak begitu jelas. Khas orang tua.

"Kalau sedang nyanyi gitu bukan setan, tapi malaikat. Setan itu bisanya cuma emosi, marah, congkak dan hal yang ndak baik lainnya". Aku diam.

Si mbah melanjutkan.

"Setiap manusia itu bisa jadi setan, bisa jadi malaikat. Kalau hati nuraninya yang bergerak, berarti dia malaikat. Tapi kalau hati sanubarinya yang lebih banyak menguasainya, berarti dia menjadi setan". Si mbah diam sejenak sambil menelan salivanya dan mengatur nafasnya.

"Bukannya setan itu makhluk yang tidak bisa kita lihat, yang suka ganggu manusia agar melakukan hal buruk dan menjerumuskan manusia gitu mbak?". Iya kan? Setan yang selama ini aku pahami dan orang umum pahami memang seperti itu kan?

"Kalau Guru si mbah dulu mengajarkan ke si mbah, setan itu godaan yang datang dari luar diri. Contohnya saat kita puasa, kemudian kita lihat ada makanan enak, kita tergoda untuk makan dan membatalkan puasa, itulah setan. Ya... Diri kita ini setannya, saat kita ndak bisa menahan diri dari godaan tadi. Setan itu tidak di mana-mana. Setan itu ada dalam diri kita sendiri-sendiri. Kalau mau lihat setan, ya ngaca sono...". Si mbah mengakhiri penjelasannya dengan tertawa. Aku tersenyum sambil manggut-manggut.

Tak kusangka pria serenta ini dapat menjelaskan dengan analogi yang sangat mudah kucerna.

"Ayo...wes ndak usah ngelamun, ambil wudu kita shalat malam berjamaah". Aku masih tak bergeming.

"Embah tahu wanita yang bernyanyi sangat menyentuh yang saya maksud tadi mbah?". Aku masih memohon.

"Kita shalat dulu, nanti mbah kasih tahu".

B E R S A M B U N G

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP