Day 8 (Rumah)
SAYAP-SAYAP MALAIKAT
Day 8
*
*
*
Rumah yang selama ini aku pahami dan ku rasakan tidak jauh beda dengan pemahaman pada umum. Yaitu tempat kita berlindung untuk raga kita juga hati kita. Rumah Pak Naryo adalah rumah bagiku karena hatiku tertambat di sana, meskipun aku hanya tinggal di sana 3 hari saja. Seperti halnya rumahku di Jakarta adalah rumah untukku karena aku lahir dan besar di sana selama bertahun-tahun.
Rumah Pak Haji Gandhi ini sebenarnya nyaman, orangnya baik semua. Hanya saja ini belum 'rumah' bagiku karena aku merasa kurang sreg dengan perlakuan mereka pada si mbok Jarmi. Konglomerat desa Kali Urang itu memang tak menuntut diperlakukan baik oleh majikannya. Dengan tubuh kurusnya, dia melakukan segala macam kerjaan yang ada. Mencuci, setrika, bersih-bersih, masak, dan banyak lainnya.
Akan lebih ringan saat anak gadisnya membantunya sepulang sekolah.
Yang membuatku sedih, bu haji Gandhi menyendirikan makanan untuk simbok dan Mila, anak gadisnya di bufet dapur secara terpisah, dan seringnya makanan itu adalah sisa makanan keluarga Gandhi. Atau kadang simbok nyambel terasi dan ditambah ikan asin yang dia beli sendiri. Aku miris mengapa mereka membedakan makanan untuk pembantunya?
Anak-anaknya juga seenaknya memperlakukan si mbok dan Mila. Kadang hanya untuk mengambil air saja, bu haji Gandhi berteriak meminta si mbok mengambilkannya. Aku ganjil melihat itu.
Tiba-tiba aku ingat bu Reni, yang bekerja dengan keluargaku. Ibuku menganggap bu Reni seperti kakaknya sendiri.
Kubuang jauh-jauh perasaan tidak nyaman ini.
Kusiapkan seluruh barang bawaanku. Saatnya aku pamit. Melanjutkan perjalananku.
***
Aku meninggalkan rumah haji Gandhi dengan gundah. Meskipun aku percaya mbok Jarmi akan baik-baik seperti sebelum-sebelumnya. Dia wanita berhati besar yang luar biasa.
BERSAMBUNG
kali ini dikit aja ya... Dikejar deadline...hehe...
@lutfiyan28
@lisa_pingge
@ivieth_mutia
@komunitas.odop
@emakguru_
#rwcodop2019
#onedayonepost
#day8
#komunitasodo
Komentar
Posting Komentar