Day 6
SAYAP-SAYAP MALAIKAT
Day 6
*
*
Jogja. Kota yang selalu teristimewa. Kota yang selalu sukses menyajikan memori tak terlupakan bagi pengunjungnya.
Dari Cirebon kemarin, aku berjalan ke Brebes dengan menumpang truk angkutan pasir. Kemudian dari sana aku menuju Prambanan dengan mobil sayur milik Pak Ngadimin. Dalam perjalanan aku di atas mobil baknya bersama sang istri, ibu Ngadimin, wanita tambun yang memiliki jiwa humoris yang menyenangkan. Dengannya perjalanan dari Brebes ke Magelang tidak terasa melelahkan karena dagelan bu Ngadimin yang lucu. Sebenarnya mereka menawariku tinggal di rumahnya, tapi dengan halus ku tolak dengan alasan, aku ingin ke Prambanan dan Borobudur. Maklum, aku tak pernah berkunjung ke kota wisata Indonesia di luar Jakarta. Ayah dan Ibu malah lebih sering mengajakku berlibur ke California, Turki atau bagian benua Eropa lainnya. Maka, aku begitu takjub dengan segala yang ada di Prambanan dan Borobudur. Jauh lebih menakjubkan dari deskripsi yang sering aku baca di buku pelajaran atau dari internet. Aku di magelang hanya dua hari, karena hatiku tidak sabar ingin segera memasuki kawasan Jogja.
Dan disinilah aku sekarang. Daerah Istimewa Jogjakarta. Kota bersih dengan aura bersahaja yang kental. Setiap orang di sini memiliki daya pikat selayaknya sikap seorang bangsawan Jawa. Santun, halus tutur katanya, bicara dengan penekanan emosi yang luar biasa. Abdi dalem, begitu mereka mengistilahkan.
Aku berhenti di masjid yang terletak tak jauh dari alun-alun Jogja. Aku berencana mau berkunjung ke keraton Jogja. Tapi kuputuskan untuk shalat ashar dulu. Kuambil air wudu dulu. Selesai berwudu ada seseorang yang menegurku.
"Siapa yang mengajarimu berwudu, nak?"
Seorang bapak dengan perawakan besar, perut buncit dengan peci berwarna putih ditambah sorban putih yang elegan. Kukernyitkan dahiku, mengambil sikap berdiri dan mematikan kran air di depanku.
"Tidak ada bapak, saya hanya belajar dengan memperhatikan orang lain"
Jawabku dengan hormat.
"Pantas saja cara berwudu kamu salah, nak..." aku memang tidak pernah diajarkan cara berwudu yang detail oleh siapapun, apalagi ayah ibuku. Aku mulai belajar shalat dengan tertib pun setelah mengenal Shafita. Aku meringis, mungkin terlihat aneh caraku berwudu tadi.
"Kamu harusnya mencincing lengan bajumu sampai di atas siku, karena air harus mengenai seluruh bagian lengan bawah sampai batas siku. Berwudu itu dahului dengan berkumur dan membasuh hidung, agar kau dapat sunnah Rasulullah. Membasuh keningpun harus maksimal, kau boleh membasuh seluruh kepalamu, jangan tanggung! Dan... Celanamu ini, angkat sampai dengkulmu. Seperti halnya lengan tanganmu tadi. Wudu itu syarat sahnya shalat, saat wudumu tidak sah, shalatmupun tidak mungkin sah...!"
Aku merasa di adili oleh malaikat saat ini. Tapi kudengar juga apa yang bapak ini sampaikan.
"Coba sekarang kau ulangi lagi wudumu, ikuti semua yang sudah aku jelaskan tadi" aku menurut, dan mulai menggulung lengan jemperku serta celana jeansku.
"Heh..heh... mana bisa itu basuh telinga cuma begitu saja? Basuh seluruh bagian telinga dari bagian dalam, memutar sampai bagian luar. Seperti saat kau membersihkan telinga kamu itu to? ulangi dari awal...!" aku menurut dengan sedikit takut. Tiba-tiba aku ingat guru bahasa Inggrisku di SMP, yang suka sekali membentakku saat aku tak bisa bikin kalimat.
"Ah...oke lah... tapi aku harus mengajarimu cara berwudu dengan benar. Aku curiga, jangan-jangan niat wudumu juga perlu kuuji sekalian setelah ini" aku mendelik takut, aku mendengus kesal dalam hati, gagal deh rencanaku ke keraton hari ini.
"Tinggal di rumahku, aku akan mengajarimu berwudu, dan shalat. Kurasa kau ini muallaf, yang baru belajar syareat islam. Aku akan mengajarimu di rumahku. Sudah... Sini, sekarang berjamaah denganku!" aku melotot, oi...Aku islam dari lahir oi... Tapi aku diam saja.
Aku menurut, dan memposisikan diri sebagai makmum. Meskipun sebal dengan bapak yang bahkan belum kutahu namanya ini, tapi saat mengikuti shalatnya, aku tersenyum, aku pasti mendapatkan hal yang luar biasa berhikmah setelah ini.
Iyakan? Jogja selalu istimewa.
***
BERSAMBUNG
nantikan kisah selanjutnya..
@lutfiyan28
@lisa_pingge
@ivieth_mutia
@komunitas.odop
@emakguru_
#rwcodop2019
#onedayonepost
#day6
#komunitasodop
Komentar
Posting Komentar