Day 3
SAYAP-SAYAP MALAIKAT
Day 3
Siang terasa terik, panasnya membuat setiap orang terbakar.
Aku tetap berjalan, sembari menahan rindu pada kemewahan, pada ibu, ayah dan.... Shafita.
Berkelebatan pikiran untuk menyerah menghantuiku, menggodaku untuk balik kanan dan berlari menuju rumah yang ku rindu. Tapi... Hati kecilku menolaknya.
Entah desa apa yang sudah aku masuki saat ini. Mungkin aku masih berada di perbatasan Jawa Tengah. Kuputuskan untuk istirahat sejenak di sebuah surau terdekat yang kulihat.
Surau ini seperti sudah lama dibangun, kentongan tua bertengger di depan, dindingnyapun sudah banyak yang terkelupas, beberapa genteng sudah terlihat pecah di sana sini, lantainya hanya terbuat dari semen biasa yang diratakan dan sudah mengkilap.
Udara dingin menyergapku saat kumasuki surau ini. Surau yang terletak di pojokan sebuah daerah yang sepi penghuni. Di depannya terbentang kebon luas yang rimbun dengan aneka pepohonannya. Meskipun beberapa orang tampak berlalu lalang, tapi tetap saja serasa sepi terasa. Beberapa kawanan burung berterbangan menyiratkan kesejukan desa yang belum terjamah polusi.
Dari dalam, kulihat seorang pria sedang mencangkul kebun sendirian. Setelah lelahku berangsur hilang, kuputuskan untuk berkenalan dengan bapak itu.
"Assalamualaikum pak.... Kalau boleh tahu, ini desa apa ya pak namanya?"
Si bapak menghentikan kegiatannya dan menjawab salamku dengan takzim.
"Oh...ini desa Sumur Kondang, mas... masnya mau ke mana?" jawabnya sembari melepas topi bututnya yang warnanya sudah pudar
"Saya sedang berkelana pak... Mencari hikmah" jawabku sekenanya.
"Bapak sedang mencangkul untuk apa pak?" tanyaku lanjut. Di sekitar bapak ini ada beberapa ubi bergeltak sembarangan.
"Bapak mau panen ubi, mas... Buat bikin kolak istri bapak buka puasa nanti" aku ikut tersenyum. Bapak ini ramah sekali. Setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu dibarengi dengan senyuman.
"Saya boleh bantu pak?" tawarku bersemangat.
"Oh...boleh..boleh..." jawabnya lebih bersemangat
"Masnya ini dari mana to aslinya?"
Aku tersenyum sembari mulai mencungkil tanaman ubi dengan sebilah sabit milik bapaknya. Ada rasa sejuk di hati yang merambat pelan-pelan.
"Panggil saya Eza saja pak, saya dari Jakarta"
Kemudian kami bekerja sambil saling bertukar cerita. Bapak sederhana dan ramah ini bernama Pak Naryo. Memiliki 3 orang putra yang semuanya telah dewasa dan merantau ke Ibu Kota dan sudah berkeluarga pula di sana. Kesehariannya adalah bertanam di kebun milik pemerintah yang dia rawat, dan menjual segala yang dia tanam di pasar. Kebun yang tidak seberapa besar ini memang lebih terawat dengan aneka macam tanaman. Pohon-pohon mahoni menjulang tinggi yang membuat kebun tampak sejuk. Beberapa pohon singkong pun nampak telah siap dipanen, ada pula tanaman cabai yang menambah warna warni kebun karena telah memerah buahnya. Di bagian dasarnya menjalar tanaman ubi yang membentang. Semang sekali melihatnya.
"Sudah sore nak Eza, ayo ikut bapak pulang, bapak kenalkan dengan istri bapak. Nanti biar sekalian buka di tempat bapak, incip kolak bikinan istri bapak"
Pak Naryo memanggul karung berisi ubi jalar yang telah dipanen sambil berjalan ke arahku yang dari tadi memetik daun ubi.
"Wah... Mau sekali saya pak..." aku surprise diberi tawaran itu.
"Trus, daun ubi ini buat apa pak?"
"Daun ubi ini, kalai direbus trus dimakan bersama sambal terasi dan nasi hangat juga ikan asin, waaah....nak Eza akan lupa kenikmatan surga pokoknya...". Aku meringis, belum bisa membayangkan rasanya seperti apa.
Kami tiba di pekarangan rumah pak Naryo. Aku takjub, rumahnya begitu indah. Maksudku, bukan seindah layaknya rumah mewah. Rumah sederhana yang terbuat dari bambu dengan dikelilingi tanaman hijau yang terbentang subur. Di sisi kanan kirinya terdapat beberapa tanaman seperti kubis yang siap dipetik, wortel yang gemuk dan menggoda, bawang merah dan bawang putih yang melambai-lambai tertiup angin juga beberapa pollibag dengan sayur selada dan sawiny yang subur merekah. Di halaman depannya berdiri beberapa tanaman yang sama bedanya bagian ini ditanam di dalam media verti dari bambu yang berukuran besar. Ditengahnya ada dua kolam buatan berhadapan yang berukuran 3x4 dan penuh dengan ikan lele dan nila. Tak kusembunyikan decak kagumku.
"Ini semua bapak ya yang mengerjakan?"
Tak tahan kulontarkan pertanyaan pada Pak Naryo.
"Bersama istri nak, dan ada beberapa saudara yang membantu". Jawab Pak Naryo dan meletakkan peralatannya di depan rumah.
Kemudian Pak Naryo membuka pintu sembari beruluk salam. Terdengar sauhutan dari belakang.
"Mak e... Ini lo...ada tamu"
Seorang wanita seumuran Pak Naryo datang tergoboh dengan kebaya hariannya dan kerudung blusukan berwarna tak jelas menyambut kedatangan kami. Aku mencium tangannya dengan hormat. Meskipun sudah menua, masih jelas guratan sisa-sisa kecantikan semasa muda dulu.
"Ini namanya Nak Eza, mak e. Tadi bantuin bapak di kebon" Bu Naryo mempersilahkan aku duduk lesehan pada tikar yang sengaja di pasang di pojokan ruang tamu.
"Nak Eza biar nginep di sini saja beberapa hari. Ada kamar kosong kok, kamar anak kami tak terpakai. Ndak papa... Nanti sambil kita belajar tanam-tanam bersama". Aku memang tadi mengutarakan keinginanku untuk belajar bertanam dengan Pak Naryo di kebun tadi. Tanpa menunggu lama, aku menerima tawaran mereka.
"Alhamdulillah...
Mak e... Itu ubinya, nak Eza yang panen tadi. Ayo...katanya mau bikin kolak? Buruan bikin yang banyak dan enak" aku tertawa. Dan segera mengambil ubi dari tangan Pak Naryo, kukeluarkan dari karung di dapur dan membantu mengupasnya satu-satu.
BERSAMBUNG
Apa saja hikmah yang akan di dapat Eza?
nantikan lagi di day4 ya...
InsyaAllah akan lebih seru...
@lutfiyan28
@lisa_pingge
@ivieth_mutia
@komunitas.odop
@emakguru_
#rwcodop2019
#onedayonepost
#day3
#komunitasodop
Tanjunganom, 8 Mei 2019
Yulia Tanjung
Komentar
Posting Komentar