Hari Buruh? Hari apaan itu?
Heran ya...
Kok ada hari buruh itu dirayakan?
Apa orang-orang itu pada bangga jadi buruh? Udah marem punya profesi buruh? Merasa cukup sebagai buruh?
Siapa yang memprakarsai adanya hari buruh sebenarnya? Pengen tak bejek-bejek deh... Apa Sebenarnya maksud terselubung dengan diadakannya perayaan hari buruh internasional? Agar semua penduduk bumi jadi buruh gitu? Biar nggak ada yang maju gitu?
Karena sebuah perayaan itu langsung atau tidak langsung sangat mempengaruhi psikologi masyarakat.
Saat dirayakannya hari buruh internasional maka banyak orang memaknai dan mempengaruhi pikiran bawah sadar mereka bahwa menjadi buruh itu baik, dan oke-oke saja. Mereka akan puas berada di posisi buruh. Mereka tidak ingin mempunyai level lebih.
Saya curiga jangan-jangan penduduk Indonesia dan banyak orang di belahan bumi ini tidak maju-maju secara finansial, kreatifitas, mental dan pikiran, mungkin ini salah satu sebabnya. Semua orang di program untuk menjadi buruh. Puas sebagai buruh. Dan ga ada pikiran memperbaiki taraf hidup mereka. Ya, mental block lah istilahnya. Mereka 'dipaksa' menjadi buruh tanpa mereka sadari. Bodohkan?
Padahal setiap orang itu bisa jadi boss, setiap orang pantas jadi boss, setiap orang harus jadi boss. Don't be a passenger! Make your own factory. Itu anjuran dari Robert Kiyosaki di seluruh buku tulisannya, juga kata Bob Sadino, Chairil Tanjung dan para orang sukses lainnya.
Robert T Kiyosaki menuliskan di bukunya, kita tidak akan menjadi orang yang bebas jika kita tidak bebas secara finansial. Jangan mau menjadi budak. Karena sebenarnya kebanyakan penduduk bumi ini adalah budak yang dibayar tinggi. Meskipun jika kita dapat gaji besar, kita tetap saja budak, buruh. Karena seorang boss itu tidak bekerja untuk uang, tapi uanglah yang bekerja untuk dia. Tapi tidak banyak orang sadar akan hal ini.
Kita ini, kebanyakan menunggu awal bulan untuk terima gaji, seminggu kemudian udah susah karena gaji udah habis, trus kita mati-matian cari ceperan untuk mendapatkan uang extra. Tull nggak? Pak Kiyosaki bilang itulah employee. Mereka yang seperti ini masih berjibagu dengan quadrant level rendah. Mengapa begini? Simak! Saya ingin sedikit mengingat apa yang diajarkan Robert Kiyosaki dan Royke Sahetapi.
Thomas Edison, pendiri General Electric; Henry Ford, pendiri Ford Motor Company; Steve Jobs, pendiri Apple; Bill Gates, pendiri Microsoft; Walt Disney, pendiri Disneyland; Mark Zuckerberg, pendiri Facebook adalah orang-orang yang sukses yang hebat yang hidup bebas dari masalah keuangan dan mereka semua memiliki kesamaan yang mencolok. Mereka bukan orang yang konsumtif. Mereka hidup serba cukup tapi tidak hidup mewah. Bahkan Mark Zuckerberg adalah seorang yang memiliki model dan gaya busana yang sama di setiap harinya. Mereka membeli suatu karena butuh, bukan karena ingin atau gaya apalagi tuntutan life style.
Beda dengan kita, apalagi penduduk Indonesia. Dapat gaji, ya habis buat jalan-jalan, ngemall, nyalon, membeli hal yang tidak urgen, yang kalau kita tidak belipun akan baik-baik saja, atau buat makan-makan di rumah makan elit, atau beli baju bermerk, tas dan sepatu brended, gonta ganti gadget yang tidak penting hanya karena nuruti keinginan. Bahkan seorang pendiri perusahaan Apple, Steve Jobs menggunakan phonecell yang sangat sederhana untuk berkomunikasi, padahal perusahaannya adalah perusahaan alat komunikasi termahal dan bergengsi di dunia.
Seorang boss itu punya duit ya investasi, ditabung atau bikin bisnis baru lagi meskipun awalnya kecil-kecilan. Tapi kalau buruh seperti kita, punya duit ya jalan-jalan, belanja, beli perhiasan, tas baru, baju baru, bayar cicilan mobil, motor, phonecell, yang salah sendiri beli dengan angsuran hanya memenuhi gaya hidup. Dan pertengahan bulan udah pusing uang habis. Kapan kita jadi boss kalau gitu? Boss itu nggak pernah pusing dengan hutang atau cicilan, karena mereka tidak bergaya hidup sembarangan.
Saya bersyukur dimaukan Tuhan membaca buku-bukunya Robert Kiyosaki dan mengikuti workshop mahalnya pak Royke Sahetapi yang diajarkan kita bagaimana cerdas mengelola keuangan, tidak mudah tergiur dengan iming-iming discon, tidak mudah tergoda dengan ajakan ngemall teman atau sodara. Karena pada dasarnya manusia itu mudah dibodohi dengan hal-hal semacam itu.
Saya juga bersyukur yang teramat sangat dipertemukan dengan Guru saya, yang mengajarkan bagaimana bekerja itu bukan karena materi, tapi karena ibadah, berlakon untuk keselamatan mati nanti. Jadi berdunia untuk pancatan ke akhirat. Jadi mudah sekali memahami apa yang ditulis Kiyosaki dengan terapan seperti apa yang diajarkan Guru saya, Bapak Kyai Tanjung. Jangan mengejar dunia, dia akan lari dan kita akan menjadi budaknya. Tapi lakukan karena Tuhan, lakukan karena keinginanmu untuk selamat bertemu Tuhan diakhirat nanti, lakukan untuk akhirat maka dunia dengan sendirinya katut. Dunia itu seperti lambaian tangan saat kita berjalan. Ketika kita berjalan, maka lambaian itu ikut sendiri.
Masih mau merayakan hari butuh? Masih mau jadi buruh? Masih bangga jadi buruh? Ya sana! Teruslah berhutang, teruslah beli barang kredit, teruslah hidup konsumtif. Kalau saya sih biarin aja HP jelek, biar saja ngga pergi ke mall saat banyak discon, biar saja baju biasa-biasa saja tanpa merk, tapi saya punya tabungan dan memulai berbisnis dan membangun kerajaan bisnis saya. Tentunya dengan arahan Guru saya, tentunya dengan niatan ibadah, bukan tujuan hidup saya.
Selamat malam...
Daripada ga bisa merem, mending nulis aja...
Tanjunganom, 3 Mei 2019
Yulia Tanjung
Keren.
BalasHapusSetuju dengan pola pikir mbak Yulia ini, go mandiri finansial.
Jika telah dilebihkan rejeki, tetaplah sederhana tapi sedekah yang ditambah
Keren, mental kayak gini ini Mbk yang mestinya digembleng sejak awal.
BalasHapusApik, apik, apik....
BalasHapus"Gile lu, Ndro!" kata Om Kasino.
BalasHapusAliyas keren banget. Syukaa!!!
Waw lumayan berisi tentang expansi materijya. Ya setiap orang punya kesempatan untuk jadi bos.
BalasHapusNampar banget .....
BalasHapus