Tulisku

Aku seorang pembaca, yang mulai merangkak menjadi penulis. Mencoba menciptakan hasrat manis pada setiap tulisanku. Menggali apa saja yang pernah aku baca, dengar, lihat menjadi sesuatu yang layak untuk ditulis hingga menjadi pantas untuk dibaca, bahkan meski jika itu hanya aku saja yang membacanya.

Dan aku membenci mereka yang menulis seperti lidahnya yang tajam. Menguak luka, membakar amarah, mencabik rasa. Tak perduli berapa banyak manusia jatuh, bangkit, hingga sekarat hanya dengan goresan pena sang penulis.

Dunia baca tulis itu teramat sakral untuk dinodai dengan percikan benci, iri, adu domba. Jadi jangan rusak rasa itu.

Menjadi penulis yang baik dengan teknik kepenulisan yang mumpuni, bahasa yang ciamik, hingga bisa membumbung rasa setiap pembaca itu mudah. Yang sulit adalah tetap menjaga hati si penulis untuk hangat, mendamaikan, menyelamatkan bagi pembacanya. Karena rasa yang dimiliki sang penulis akan tersalurkan ke rasa si pembaca.

Seperti pujangga Jawa yang terkenal Ronggowarsito yang mampu menciptakan karya abadinya yang kadang menderu bahagia, memabukkan, mencekik, mengiris hati tapi pada akhirnya menginspirasi jutaan manusia untuk berkarya, untuk mencari keselamatan, untuk menjadi 'seseorang' atau untuk kemaslahatan.

Atau penulis modern seperti Dewi Dee, Andrea Hirata, Tere Liye, Rhenald Kasali, atau Robert Kiyosaki yang berjuang menciptakan keharmonisan, kebaikan atau keselamatan hidup dengan goresan penanya. Bukankah itu menyenangkan?

Sebuah tulisan tak akan pernah mati meski penulisnya sudah tiada ratusan tahun sesudahnya. Dia telah merangkai sebuah sejarahnya sendiri. Tak perduli berapa banyak yang akan membacanya, tapi dia sudah merubah sebuah peradaban tanpa atau dengan kesadarannya.

Menulis akan menciptakan harmoni sang penulis juga sang pembaca. Kesantunan akan tercipta, rasa juga akan terasah.

Jadi, jika ada yang menodai dunia tulis dengan tujuan untuk memecah belah, menyebarkan kebencian, menciptakan perpecahan.  Seharusnya ada Undang-Undang untuknya dengan hukuman yang setimpal. Karena dampak dari tulisannya bisa sangat berbahaya bagi khalayak.

Kita sedang berjuang, berjuang menjadikan dunia lebih damai dan harmonis dengan tulisan tangan kita.

Menulislah, tulis kabaikan, tulis keindahan, keselamatan agar dunia lebih mudah terkendali dengan damai.

Terimakasih untuk semua penulis santun yang meski kadang membangkitkan rasa masa muda menjadi sedikit liar. Tapi tetap mampu membuat hati menjadi damai.

Teruslah beraksara.
Merangkai kata yang kadang brutal tapi kaya makna.

Biar setiap pembacamu terinspirasi hingga sanggup menyajikan sebuah karya yang pantas dipersembahkan untuk dunia, untuk sejarah yang lebih baik.

Thanks.

Yulia Tanjung
Nganjuk, 02 Okt 19

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP