Lela

Malam ini benar-benar kelam. Warna hitam mempersembahkan diri sepenuhnya hari ini. Bulan bersembunyi di balik awan, bintangpun melakukan hal yang sama. Dan hujan rintik ini, melengkapi suasana kelabu yang tak bersahabat.  Aku sama sekali tak menyukainya walau aku mencoba menikmatinya.

Aku duduk di depan asrama, tepat di bawah tulisan 'Asrama Putri Az-Zahra'. Tempat ini paling pas untuk melihat halaman pondok putri yang luas dan hijau menyegarkan bila matahari menamoakkan dirinya nanti. Ini memang sudah menjelang dini hari, tak heran jika suasana begitu sunyi, sesunyi hayiku semenjak kejadian sore tadi.

"Kenapa nggak Lela saja?"
Suara Ustadzah pembimbing ketika kami rapat penentuan MC untuk acara penyambutan tamu dari Propinsi. Entah mengapa aku merasa tidak enak hati. Masteriss Of Ceremony adalah pekerjaanku sejak tahun pertama aku masuk di ARA AITA ini. Tak ada seorangpun yang meragukan kemampuanku. 

Tapi ketika Lela datang, pelan-pelan semua berubah. Minggu lalau dia menggantikanku menjadi petugas dirijen tetap tim koor di SMA, tiga hari lalu dia dipercaya memegang kendalu atas radio FM kami yang biasanya kupegang, kemarin dia pula yang dibawa Ustadzah ketua asrama rapat Diknas, dan kali ini...ia mengambil posisi tertinggiku. MC.

Secara fisik Lela memang lebih baik dariku. Tinggi semampai, mata yang indah, hidung bangir, dan senyum sopan yang menawan hingga tak sekalipun kami pernah melihat deretan giginya. Dan aku, pelan-pelan turun di bawah kakinya. 

Lela memang lebih baik. Jujur aku mengakuinya. Ia juga tidak ambisius, baik hati dan sangat pengertian terhadap sesama, dia sangat mudah memberikan miliknya kepada yang membutuhkan. Sesuatu yang tak kupunya. Hhh...

Hanya dalam dua bulan ia telah menyita begitu banyak perhatian di sini. ARA AITA, Pondok modern dengan kualitas nasional bahkan mulai go internasional di mana santrinya harus melalui lima kali tes sebelum diizinkan untuk menuntut ilmu di sini. Tes yang amat melelahkan pada awalnya dan sangat memuaskan di babak akhirnya. Tak seorangpun mengeluh atas tenaga pengajar atau fasilitas selama lebih dari sewindu, semuanya hanya ada di ARA AITA.

Lamunanku buyar seketika melihat sosok wanita berjalan melintasi taman yang mengelilingi halaman. Ia berjalan merapat dinding asrama. Merasa aneh, aku mencoba menggeser posisiku di balik meja tamu yang sedari tadi aku sandari. Siapa yang dini hari begini keluar asrama sendirian?

Aku adalah orang yang selalu pertama kali tahu kalau ada Ustadzah sidak di malam hari karena kebiasaan burukku ini. Dan sidak tak pernah dilakukan oleh satu ustadzah, minimal tiga. 

Dan kali ini...
Sosok itu kian mendekat, dan jantungku berdegup amat kencang ketika wanita otu membuka pintu depan kamar 2A, kamarku, Rasti, Arimbi dan Lela. 

Lela? What did she do outside? Under the rain?
****

"Can you lend me your Math?"

Lela menileh ke arahku yang sedang berjalan ke arah rak bukunya untuk mengambil buku yang kumaksud.

"Wait! I'll take it for you."
Aku menghentikan lagkah. Lela bergegas menuju arah rak bukunya yang teramat rapi. Mungkin ia tak izinkan tanganku meeusak tatanananya. Atau...ia menyimpan sesuatu yang tak ingin aku mengetahuinya.

"Thanks." Ucapku ketika diserahkannya buku setebal 459 halaman itu ke tanganku.

Entah karena cemburu atau Lela memang terlalu sempurna yang menjadi sosok yang banyak diperbincangkan, aku tak tahu. Yang jelas aku nerasa ada yang salah dengan Lela, ia menyembunyikan banyak rahasia. Ia terlalu baik dan sempurna untuk ukuran manusia. 

Tapi aku tak tahu harus mulai dari mana, dan apa yang mustinya aku lakukan. Aku hanya merasa aku tak boleh membiarkan sesuatu yang aku yakini urgen untuk dipecahkan. 

Mengatakan keganjilan Lela pasti aku akan dicap sebagai rival Lela yang tak sportif, jadi aku mulai demgan mendekati Lela. Membuang pembatas yang selama ini aku buat begitu tinggi. 

Aku mendekati Lela yang sedang berjalan sendirian sambil menenteng tas besar dan mendekap buku-buku tebalnya.

"Hi, where will you go?"
Tanyaku sambil menjajari langkahnya. Lela tersenyum khas sambil menunjukkan kartu 10x8 centimeter warna merah berbingkai emas kepadaku.
What? Kartu itu adalah akses masuk ke kediaman Romo Kyai. Dan tidak semua orang mempunyai kartu itu, apalagi setingkat santri. Setahuky hanya aku dan Rain, santri putra yang memilikinya setelah kami benar-benar melalui banyak ujian dan izin. 

Dan kini, Lela...dengan dua bulan saja. How could it be?

"You have it?"
Tanyaku setelah meragukan keasliannya, atau meragukan pandanganku sendiri. Lela hanya mengangguk sambil berlalu meninggalkanku dan mengucap salam 

Aku menjawabnya sambil terpaku di tengah halaman yang sejuk diterpa angin yang berhembus dari arah utara di mana banyak sawah ladang membentang. Lela benar-benar telah mendapatkan segala yang dipunya ARA AITA.

***
"Do you know Lela?"
Tanyaku pada Rain saat kami diundang rapat sebagai pengurus harian dalam rangka pembahasan acara tahuna PHBI Isra' Mi'raj.

"The most beautiful girl in ARA AITA?"
Aku merengut mendengar jawabannya. Yernyata Lela lebih populer dari yang aku kira.

"Don't be jealous, what's up?"
Rain menahan senyum sambil mencoba serius.

"I want you to watch her!" Jawabku sambil membenahi catatan rapat.

"If I have time I always do that." Rain berseloroh, tawanya terdengar renyah. Ia menertawakan kata-katanya sendiri yang dia pikir lucu. Padahal garing menurutku.

"Hear me! I found her out of dormitory late in the night.  And it was strange, she was alone." Jelasku bersungguh-sungguh.

Kali ini ganti Rain yang mengerutkan dahinya hingga ia tampak tua. Sebenarnya aku ingin tertawa, tapi aku sedang di mood serius sekarang.

Rain tahu jelas kalau santri putri memiliki jam malam sehabis shalat isya.  Dan tak pernah terjadi pelanggaran selama ini. Berita yang ia dengar ini oasti membuatnya heran.

"Are you sure?" Tanyanya meragukanku

"I saw her with my own eyes." Jelasku yakin.
****

"Rara, Ista'alai!" (Rara, kemarilah!)
Aku mendekati Ustadzah Rahma yang memanggilku untuk memasuki ruangannya.

Senyum beliau mempersilahkanku untuk duduk di depan beliau yang sedang menghadap laptopnya.

"Mal illah Ustadzah?" (Ada apa Ustadzah?)
"Wajadtu hadza fi kitabi Lela." (Saya menemukan ini di dalam bukunya Lela)

Ustadzah Rahma menyerahkan  selembar kertas HVS kepadaku. Cuma berisi peta kasar sebuah lokasi. Tak ada yang istimewa. Tidak ada tulisan apapun atau mata angin.

"Illa khoritotan, Ustadzah." (Hanya sebuah peta, Ustadzah) ucapku setelah memperhatikan sejenak.

"Na'am, tusawy bi waq'ati ma'hadina. Aro Aitaha?" (Ya, dan itu mirip sekali dengan lokasi pondok kita. Apa kamu menyadarinya?)

Aku melihatnya lagi, untuk lokasi sebelah kiri ini seperti lokasi pondok putri. Benar-benar persis bahkan detail jalan dan ruangannya. Tapi sebelah kanan aku tak begitu jelas, karena aku tak pernah masuk ke pondok putra.

Lalu untuk apa Lela menggambarnya?

"Ahmiluha min samahat ya Ustadzah?" (Bolehkah saya membawanya Ustadzah?)

"Alaiki tashwir fahasb, tsumma ruddaha ila kitabi Laila." (Dikopi saja, nanti dikembalikan ke buku Lela). Ide cerdas, batinku sambil mengopi kertas itu di ujung ruangan. Mesin fotocopy adalah fasilitas santri yang boleh dipakai kapanpun tanpa bayar.

****

Aku dan Rain mendiakusikan peta yang aku bawa. Ia mempelajarinya lama sekali sebelum berkata-kata. Hari ini kami bertemu kembali untuk rapat lanjutan.

"Sorry I will talk with Bahasa." Aku mengangguk. Kami memang dibolehkan bicara bahasa Indonesia jika itu mendesak dengan syarat, kita harus izin ke lawan bicara kita.

"Peta ini jauh lebih lengkap dari yang aku ketahui."
"What do you mean?"
"Banyak gang-gang dan sela jalan yang tak kutahu tapi ada di sini. Ia tahu dengan begitu detail jalan masuk menuju pondok, bahkan ke kediaman Romo Kyai."

Aku mulai merinding.

"Speak up clearly!"

"You are right. We have to watch her!"

Rain membawa satu dari dua kertas kopianku. Ia duduk terpaku.

"Pantesan aku kehilangan jejak saat memergokinya keluar pondok malam itu. Ia seperti hilang di telan malam." Rain seakan menggumam untuk didengar sendiri.

"Apa Rain? Kamu juga tahu dia keluar pondok?" Tanyaku reflek seakan ingin menggugah lamunannya.

"Rara, ini nggak main-main. Aku mencium sesuatu yang aneh."

"What I have to do?" Tanyaku mulai bingung dan kehilangan rencana yang sebenarnya sudah kupersiapkan. Aku tak menduga ini menjadi serius menurut Rain. Padahal aku berharap aku hanya salah paham dan cemburu atas apa yang telah didapat Lela.

"Be close to her!"
"But it's difficult. She closes herself to others even me, Rasti and Arimbi, her roomates." Jelasku. 

Lela memang selalu menutup diri, ia menghindari percakapan sebisa mungkin. Rasti bilang, mungkin Lela terlalu pinter untuk santri selevel kami. 

"Bongkar siapa dia secepat mungkin." 

“Rara, Rain…” Ustadzah Latifah tiba-tiba memanggil kami dengan suara berbisik, beliau duduk di samping Rain.

“Ya Ustadzah." Jawab kami bersamaan.  

"Be quite, and use your English even when you’re in meeting!”

Sorry, dzah!”   aku menahan senyumku juga Rain. Kami pasti akan masuk mahkamah bahasa setelah ini. 

Aku begidik mengingat kata-kata Rain yang terakhir, ia menganggap Lela terlalu berbahaya. Apa memang demikian adanya? Aku meragukan Rain, Lela bahkan diriku sendiri. Ada apa sebenarnya ini?

****
Malam ini seperti malam biasanya, kala hatiku gundah, aku duduk sendiri di depan asrama. Lela tidak ada di tempat tidurnya. Itu hanya guling yang ditutupi selimut. 

Hujan kembali membasahi bumi, suara gemericiknya mengiris hati, membuatku semakin tak tenang dan terus terang aku katakutan.

Aku sekarang sedang menantikan Lela yang entah kemana. Ini sudah hampir jam dua belas malam. Dan ketika satu, dua, tiga, empat wanita muncul dari kantor pusat yang berada di lantai dasar yang bisa kulihat dari sini, aku tersadar bahwa akan ada sidak, inspeski mendadak untuk mengecek para santri.

Aku menyelinap masuk kamar yang sedikit terbuka. Setelah jam belajar lampu kamar memang hanya punya hak 5 watt saja. Lampu teras harus mati, hanya lampu taman dan halaman depan saja yanv menyala terang.

Aku membaringkan tubuhku pelan-pelan, tak ingin Rasti atau Arimbi terbangun. Aku juga tak mau ketahuan masih terjaga di tengah malam begini.

Sidak kali ini yang dulu amat aku benci karena menggugah nyenyak tidurku kali ini kutunggi dengan antusias, aku ingin para Asatidz tahu bahwa Lela tidak di kamar kali ini. Dan semoga malan ini rahasianya terbongkar, baik atau buruk. Kupejamkan mata sambil berdoa.

Jantungku hampir copot saat tangan lembut membangunkanku. Ruoanya aku tertidur ketika menunggu giliran kamarku disidak.

"Don't be noise. Lela isn't here. Come with us to central office!" Bisik Ustadzah Rahma. Aku mengangguk. Sidak kali ini pasti atas permintaan beliau.

It's the time. Batinku sambil mempersiapkan diri mengikuti para Ustdzah ke kantor pusat tanpa membangunkan yang lain. Hanya aku.

Rupanya Tuhan punya cara sendiri untuk membantuku memberitahu bahwa ada yang salah pada Lela.

Sampai di kantor pusat, para ustadzah sinuk menelpon orang-orang yang berkuasa atas kasus ini.

"Kamu tahu kalau Lela tidak di kamar, Ra?"
Tanya Ustadzah Fatim sambil menunggu telpon tersambung. Beliau ibu ketua asrama.

"Sudah tahu, Ustadzah. Tapi saya ndak tahu kapan keluarnya."

"Sudah berapa kali kamu mengetahuinya."

"Kali ini yang kedua, Ustadzah."

"And you didn't tell us?"

"Saya pikir tidak segawat ini, Ustadzah." 
Aku menunduk, marasa bersalah. Harusnya aku tetap melaporkan pada yang berhak, apapun alasannya.

"Pintu pagar terkunci, gerbang juga!" Ustadzah Rahma berseru dan masuk dengan membawa penjaga gerbang.

"Tenang, Ustadz Komar akan datang dengan timnya. Mestinya kalau ada perlu, lela izin dulu agar tidak jadi masalah seperti ini. Semoga dia tidak melakukan apa-apa." Ustdzah Fatim menutup telponnya.

Tak lama rombongan Ustadz datang dari pondok putra. Ada Rain juga di sana.

"Bagaimana, Rain?"
Ustadz Komar membuka percakapan.

"Saya melihatnya di sebuah rumah kecil di dalam hutan di ujung kampung. Ia menemui seseorang. Mereka terkihat berbicara serius. Kita tunggu saja. Sebentar lagi pasti Lela datang. Kita baru bisa bertanya padanya dengan baik agar ia tidak curiga kalau kita sedang menunggunya. Mungkin dia tidak tahu peraturan sini."

"She is smart, she knows everything include the rules!" Ucapku akhirnya, Rain tetap saja terlalu obyektif terhadap kasus yang begini aneh.

"Rara is right!" Ustadzah Rahma mendukungku.

Dalam diam kami menunggu kedatangan Lela. Aku berdoa semoga ia datang secepatnya.

Tepat jam tiga bapi Lela datang, bukan lewat pintu tapi melompati tembok pembatas setinggi dua meter. Ia melayang persis hantu pocong atau salah satu adegan di serial misteri. Pantesa  gerbang tetap  terkunci. Ustadzah Fatim, Ustadzah Rahma dan Ustadzah Nimah  juga aku mendekatinya. Sementara para pria tetap di kantor pusat.

Melihat mimik wajahnya, Lela seperti sangat tidak suka kehadirannya diketahui para Ustadzah apalagi ada aku, rivalnya selama ia di ARA AITA dan ia hampir memenangkannya.

"Itba'na ilal markas, kunna fii hajjatin bi kalaamik." ( Ikut kami ke kantor pusat. Kita harus bicarakan sesuatu)

Lela mengikuti langkah kami yang tergesa menuju kantor pusat. Ia didudukkan di kursi dimana kemarin aku duduk di sana.

"Where have you been?"
Tanya Ustadzah Nikmah yang lemah lembut. Sifat keibuan beliau memang dominan di sehala tindak dan tutur katanya. 

"It’s my own business, you should’t intervere with it” . Lela menjawab dengan amat tidak sopannya. Sepertinya dia sudah tak bisa mengelak dan menutupi rahasianya karena bukti dia keluar pondok sudah kami ketahui saat ini. 

You are our student, all of you do is our responsibility  and we don’t want you to do something wrong here or you’ve go out from this dormitory

Pelan namun tegas Ustadzah Nikmah berucap sambil menatap dalam kedua mata Lela. Aku mau bilang sesuatu ke Ustadzah Nikmah, tapi tidak enak didengar Lela. Bahasa Arab atau Inggris dia bisa. Akhirnya aku pilih bahasa Jawa, dia pasti tidak paham.

Dipersani mawon napa ingkang dibeta, Dzah." Ya, itu bukti otentik, ia tidak bisa mengelaknya.

Do you think I don’t know what you mean,Rara?” Tiba-tiba Lela berdiri, aku terkesiap atas sikapnya yang begitu kasar dan beringas. 

“Aku bisa tujuh bahasa Internasional dan menguasai semua bahasa daerah! Dan kau Rara!  Kau taka ada apa-apanya! Hahahaha..."

Tawa itu bukan saja mengejutkan kami karena kerasnya, terlebih adalah bentuk gigi Lela yang selama ini ditutupinya kini muncul dengan amat jelasnya. Gigi itu cuma separuh, ia seakan menggergaji sebagiannya hingga ujung gigi-giginya tampak runcing tidak beraturan. Ya Tuhan! Itu mengerikan sekali.

Lela, sit down!" Ustadzah Nikmah berucap sambil menunjuk kursi di mana ia duduk tadi. Tapi Lela mengelak, ia berancang-ancang hendak melarikan diri. Aku segera berteriak
“Rain, cepat keluar!”
Bukan Rain saja, ada Asatidz lain yang keluar dari ruang sebelah setelah mendengar teriakanku. Mereka segera menghentikan Lela yang telah siap dengan kuda-kudanya.

“Maaf, kami harus mengikatmu!” kata Ustadz Komar sembari mengikat kedua tangan Lela di belakang punggungnya. Sementara Rain mengambil sesuatu yang menggantung di leher Lela. Sebuah flash disk.

"Tolong Ra!" Aku menerima flash disk yang dilemparkan Rain dan segera mengoperasikannya. Untuk program computer, Ustadzah lebih mempercayakan semua padaku. Dengan setengah tidak sabar aku membukanya. Dan aku berdebar setelah melihat folder-foldernya. Deretan nama-nama pondok terkenal di Jawa muncul. Ketika aku buka satu per satu, denah lokasi, nama Romo Kyai, foto orang-orang penting dan beberapa hal lain lengkap di sana. Pokoknya semua informasi yang dibutuhkan tentang pondok yang bersangkutan ada di sana. Aku dan orang-orang yang berada di belakangku menjadi amat kelu. Suasana sunyi sejenak sebelum tiba-tiba Ustadz Komar mendekati Lela.

Who…are …you…and what …are …you?” Tanya Ustadz Komar dengan penuh penekanan di tiap katanya. Lela Cuma diam meski aku tak menangkap ketakutan di matanya. Aku hampir melonjak ketika di bawah informsi-informasi itu ada lambang segitiga bermata satu yang begitu jelas. 

Ustadz Komar memukul meja dengan gemas.

"Ternyata kau membawa misi besar untuk perusakan? Untuk memecah belah? Kau mengumpulkan semua data. Dan bagaimana kau bisa lolos dari begitu banyak ponpes terkemuka?”

Ustadz Komar kini mendekati Lela diikuti yang lain.

“ Kita panggil polisi”

“Kita interogasi dulu”

“ Diberi pelajaran dulu”

“Kita telpon kantor utama dulu”

“ Salat subuh dulu”
Ustadzah Latifah menengahi, suara adzan memang telah terdengar beberapa menit yang lalu. Akhirnya pelan-pelan Asatidz mengundurkan diri untuk menunaikan salat subuh di musallah, sementara asatidzah dan aku menunggui Lela di sini. 
****

Jam delapan pagi, aku terkantuk-kantuk di kelas karena hampir semalaman aku terjaga. Pelajaran fisika hanya berlalu lalang saja melalui mata dan telinga. Aku sengaja memilih tempat duduk paling belakang agar sekali-kali dapat kuletakkan kepalaku di atas  meja. Aku benar-benar tidak bisa membuka mataku lagi.

Lela masih di kantor pusat. Asatidzah sedang membahas apa yang harus dilakukan terhadap Lela.

Look!! It’s cool !!!
Seseorang berteriak. Terdengar sangat keras untuk ukuran kelas fisika. Lagian tidak ada rumus fisika yang cool. Aku kembali memejamkan mataku ketika sebuah tangan kasar menepuk bahuku. 

Wake up and look outside. That’s Lela and our Asatidz!"

Tiba-tiba kantukku hilang entah kemana. Aku berdiri dengan kesadaran yang kupaksa. Sementara seisi kelas hampir kosong karena terevakuasi keluar menyaksikan sebuah adegan yang kelihatannya amat menarik. Arimbi menarikku terlalu keras sampai kakiku berkali-kali tersandung kaki meja. Ketika sampai, aku berusaha menerobos barisan teman-teman yang berebut menyaksikan adegan di bawah. Kelas kami memang di lantai dua. 

Dan it’s really cool!  Lela ternyata lepas, ia melakukan maneuver-manuver yang bukan main hebatnya. Melompat kesana-kemari melayang-layang melalui tembok pembatas naik turun seperti sedang main rapling, bahkan dengan kecepatan yang amat tinggi. Dan yang lebih seru, Ustadz Komar, Ustadz  Jamal, dan Ustadz Syamsuri mengejar di belakangnya. Ternyata mereka tak kalah mahirnya dibanding Lela.

Karena adegan dilakukan di pondok putri, otomatis semua santriwati yang sedang ada jam berhamburan keluar kelas menyaksikan dan kodratnya, semua berteriak sambil menyebutkan tokoh kesayangan. Tepuk tangan pun tak henti-hentinya bergemuruh di gedung segi empat yang dipenuhi oleh wanita berkerudung putih. Lela kali ini memang sudah tak berkerudung lagi. Jubahnya pun lenyap. Ia sekarang bercelana dan memakai T-shirt saja. Memang akan lebih memudahkan geraknya. 

Adegan kejar-kejaran masih berlangsung dan Lela masih memimpin di depan. Semua berputar-putar ke sekeliling pondok, asrama, sekolah, bahkan ke kantor dan kantin. Dan ketika tiba-tiba Rain muncul dari arah depan Lela, penonton kian riuh berteriak dan bertepuk tangan. Rain memang santri yang paling tenar saat ini. Disamping ia berprestasi, postur tubuh dan wajahnya juga paling unggul di antara santri lain di ARA AITA.

Ia seperti pahlawan kesiangan! Umpatku kesal. Kenapa ia tak melakukannya dari tadi? Atau ia memang dipersiapkan untuk menghadang Lela dari depan? Sebenarnya tak ada yang tahu kalau banyak Asatidz yang menguasai ilmu bela diri. 


Hari menjelang senja ketika aksi kejar-mengejar itu selesai. Itu pun karena sungai besar di belakang pondok yang menghentikannya. Lela tercebur ke dalamnya dan Rain yang menangkapnya. Hari yang amat melelahkan. Beberapa saat kemudian polisi datang untuk mengurus masalah ini. Pihak pondok sudah cukup menyimpan data dari flash disk yang dipunyai Lela dan menghubungi pondok-pondok yang informasinya telah tersimpan di data itu.

What’s up?” Tanyaku pada Rain saat dia mendatangiku di kantor OSIS pada jam sekolah.

“ Lela disappears!”

What?” tanyaku tak percaya. “ I went to police department to see her. But she wasn’t there. A mysterious man took her with a mount of money as a guarantee." Jelasnya tak bersemangat.

It must be her syndicate.”  Rain cuma mengangguk.

“Dia bebas dari hukum dengan kesalahan yang besar." Gumam Rain lagi,

No, Rain! She’s not safe. Sindikatnya akan menghukumnya dengan lebih mengerikan karena telah menggagalkan misi besar mereka.

“Hmm, you’re right!”

But you’re hero Rain. You cough her yesterday. Congratulation ya!” ucapku kali ini dengan tersenyum.

Congrotulation, too." Katanya
What for?” tanyaku heran
Coz you’re the most beautiful girl in ARA AITA now.” Jawabnya sambil berlalu. Aku melemparnya dengan buku yang aku bawa. Rain menangkapnya dan tetap berlalu membawanya. Tapi, itu buku diaryku!

Rain wait. Get back my book!"
Aku harus mendapatkannya kembali

Yulia Tanjung
Nganjuk, 27 Oktober 2019




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP