part 10 dijodohkan
DI_JODOHKAN
Part 10
Pov Alvin
Sudah dua minggu Arya di rumah. Kedekatannya dengan Sonya makin hari makin tak bisa ditolerir. Aku bukan cemburu. Ini menyangkut etika yang harus dijaga. Marwahku sebagai suami, dia istriku. Bukan istri Arya. Kalau orang lain tahu bagaimana?
Hari ini pulang kerja. Seperti biasa di suguhkan pemandangan yang buat sakit mata. Ingat, bukan sakit hati hanya sakit mata. Dua mahluk itu ngapain sih ketawa sampai lupa orang?
"Hmmmm ... "
"Bang cepet banget pulang?" Tanya Arya
"Kenapa kurang lama bermesraan sama istriku?"
" Abang ada-ada aja. Masih waras kan bang?"
"Masih sangat malah. Makanya aku tahu dengan jelas, karena matamu mengungkap semua." Jawabku
"Sonya, masuklah ke dalam dulu, aku ingin bicara dengan Arya."
"Tapi aku belum..."
Dia tak meneruskan bantahannya mungkin karena takut dengan ekspresiku.
"Abang mau bicara apa?"
" Kau masih tanya? Sok tak berdosa sekalu kau."
"Aku benar-benar nggak paham!"
"Jangan pura-pura bodoh Arya kita sama-sama laki-laki."
"Hah, bagus! Abang sudah paham, jadi, serahkan saja Sonya padaku. Aku tahu Abang tak mencintainya."
"Apa maksudmu?"
"Serahkan Sonya padaku, aku bisa lebih membahagiakannya. Abang sudah memilih Rania kan?"
"Kau gila! Dia istriku?"
"Istri apa? Istri yang kehadirannya tak kau harapkan?"
"Diam kau bangsat!"
Bug bug, aku geram dan kupukul Arya. Adik seperti apa dia yang ingin mengambil istri kakaknya? jangan harap aku lepaskan.
"Jangan seperti anak kecil yang mempertahankan mainannya hanya karena orang lain menginginkannya. Lepaskanlah Abang dan dia akan sama-sama bahagia."
"Kau yang seperti anak kecil sibuk ingin memiki apa yang orang punya."
"Asal Abang tahu aku sudah mencintai Sonya saat kami masih sama-sama di kampus."
Hatiku ngilu kenapa ada sakit saat tahu ada orang lain yang juga mencintainya.
Mama pulang saat kami bertengkar, dan mendapati kami dengan wajah memar.
"Apa-apan kalian? Seperti anak kecil!"
Arya hanya diam, kemudian mama menatapku, "Kau Alvin ada apa ini?"
"Ma pilih aku atau Arya yang di rumah ini?"
"Ada dengan kalian?"
"Ma nggak bagus serumah sama ipar."
Mama mengerutkan dahinya. Mencoba mencari jawaban lain dari mata kami berdua. Kemudian mama tersenyum. Entah karena apa.
"Ooo, mama mengerti. Sepertinya ada yang baru merasakan cemburu ya? Ya sudah kamu dab Sonya yang pindah ya? Itu jauh lebih baik. Tak perlu bertengkar, dan kau Arya, hormati kakakmu!"
Arya membuang nafas kasar dan pergi ke kamarnya.
"Arya lebih setuju Bang Alvin saja yang pindah dan Sonya tetap di sini." Ucapnya sambil nyelonong pergi. Kubelalakkan mataku. Ingin sekali kutinju adikku itu sampai pingsan.
"Mama terlalu memanjakan Arya, lihat! Ngomong apa itu barusan? Apa pantas dia bicara seperti itu, ma?" Aku protes ke mama. Pria itu harus dijlhajar.
Luar biasa adik keduaku itu. Kalau ada pemilihan dokter terhalu dia pasti jadi pemenangnya.
Aku masuk ke dalam kamar. Sonya terlihat ketakutan. Mungkin dia mendengar suara pertengkaran kami tadi.
"Sonya." Kudatangi dia, isaknya makin keras. Kupeluk tubuhnya menyakurkan perasaanku yang jadi tak enak dengan keadaan ini. Kenapa ada damai saat mememluknya seperti ini?
"Sudah jangan nangis. Kami hanya berselisih sedikit, kami sudah biasa seperti ini."
" Wajah Abang, memar."
"Ini hanya memar biasa, sebentar lagi akan kempes. Bersiaplah kita akan pindah!"
"Sekarang?"
"Iya sekarang. Bawa pakaian secukupnya saja. Kita tinggal di rumah yang sudah kubeli lama. Rencananya itu untuk ... "
Tak kulanjutkan kata-kataku. Itu rumah yang kusiapkan untukku dan Rania setelah kami menikah. Itu alasan mengapa tak kubawa Sonya ke sana. Tapi sepertinya kami memang harus tinggal di sana.
Setengah jam kami sampai di kawasan Bekasi Barat di sebuah kompleks perumahan Pertamina. Saat aku membuka gerbang, ada Pak Sakri, tukang kebun yang menyambut kami. Dibukanya pintu utama dan melihat-lihat rumah kami dengan dua lantai yang bergaya vintage. Semua kudesain bergaya sederhana tapi elegan.
Ada bar di ruang tengah yang memisahkan dapur dengan ruang keluarga. Sonya tersenyum puas. Menyentuh setiap bagian rumah dan barang yang dia lihat.
"Rumahnya bagus, Bang! Abang sendiri yang mendesain?" Sonya melihatku denga mata berbinar senang. Aku mendudukkan tubuhku pada sebuah sofa depan mini bar kami. Marasakan wajah yang masih ngilu karena tonjokan Arya tadi.
"Bukan, ini Rania yang ..."
Ups, sontak kulihat wajah Sonya, dan dia menatapku dengan mata yang terluka. Dia bergegas masuk. Aku juga menyusul. Meninggalkan koper kami di ruang tengah.
"Tunggu!" Tiba-tiba dia berbalik.
"Ada apa?"
"Aku akan tidur di kamar ini, dang Abang di kamar utama."
"Maksudnya?"
"Di sini tidak ada mama, jadi tak perlu takut kan?"
"Kita pisah kamar?"
"Ku rasa gitu lebih nyaman Bang. Toh kita hanya tinggal dua bulan lagi. Tenang, aku tak akan cerita ke mama."
"Tapi ... "
Belum tuntas aku bicara dia mengambil kopernya dan masuk kamar dan membiarkanku terdiam di depan pintu sendirian. Kenapa sakit saat dia mengambil jarak? Bukankah ini yang kumau?
Malam menjelang, lapar sekali rasanya. Ingin keluar cari makan. Apa dia nggak lapar ya? Langkahku terhenti saat pintu di ketuk.
"Mana Sonya?"
"Kau ngapain ke mari?"
"Ni istrimu minta di belikan nasi goreng. Aku cuma antar ini."
"Hmmm sini! Sudah kuterima dan sekarang kau pulang saja!"
Kudorong Arya keluar. Buru-buru menutup pintu saat kudengar pintu akan dibuka oleh makhluk di dalamnya. Sebelum dia keluar aku berlari ke dapur membuang pemberian Arya.
"Yang datang Bang Arya ya?"
"Tak ada siapapun yang datang!"
"Tadi sepertinya Abang bicara dengan seseorang?"
"Halu kamu tu karena lapar. Ayok kita cari makanan."
"Abang aja sendiri aku di rumah aja. Nanti Bang Arya datang dengan pesananku, katanya tadi dia berada di sekitar sini dan ingin mampir, trus aku minta dibawakan nasi goreng. Mau masak kita belum punya bahan apa-apakan? Katanya sudah mau sampai kok belum juga ya?"
Dia beranjak masuk kembali.
Dan aku bingung harus nencari alasan apa agar dia tak kembali ke kamarnya.
"Sonya, buatkan Abang susu dululah."
Tanpa perotes dia ke dapur. Dan secepat kilat aku berlari ke kamarnya. Menyembunyikan HP yang dibiarkan tergeletak di atas bantal. Yap, ini harus disimpan dulu.
"Abang ngapain masuk?"
"Ini, cuma mau lihat apa yang kau butuhkan biar besok ku belikan."
" Nggak usah Bang. Ini cukup, tak ada yang aku butuhkan lagi. Lagian Besok ada janji sama Bang Arya dia mau antar aku ke Lotte mart di Jakarta, mau beli beberapa perabot dapur."
"Nggak usah biar aku yang nemani!"
"Tapi Abang kan harus ke kantor, Bang Arya kan masih free sampai sebulan ke depan "
"Nggak ada tapi-tapian, kantor gamoang lah, sekarang cepat ganti pakaian kita cari makan."
Aku berlalu keluar. Apa-apaan ini? Sebenarnya, aku atau Arya sih suaminya? Apa-apa Arya. Aku mendengus kesal.
Kami akhirnya keluar juga. Ini makan pertama di luar tanpa paksaan mama. Rasanya seperti ABG yang sedang jatuh cinta. Merasakan hadirnya yang ternyata membuatku terasa nyaman, bercengkrama dengannya yang ternyata sangat lucu, berdiakusi dengannya tentang banyak hal yang ternyata berpengetahuan sangat luas. Dia memang suka membaca. Aku baru sadar, ternyata dia semenarik ini.
Aku baru tahu bahwa Sonya dan Arya adikku pernah satu tim bersama menjadi radaktur majalah kampus, pantas saja mereka akrab sekali. Aku juga baru tahu kalau dia memiliki sebuah restoran sehat di bilangan Kemang, jauh sekali dari rumah kami sekarang. Aku jadi berpikir, bagaimana dia pulang pergi ke restorannya nanti jika jarak rumah kami terlalu jauh begini? Mungkin aku harus mengambil sebuah rumah di kawasan Kemang secepatnya.
Dan benar kata mama, wanita di depanku ini sangat mudah dicintai. Dia begitu pintar menyembunyikan perasaan. Dan, meski wajahnya tak secantik Rania, tapi dia memiliki hidung dan mata yang sangat menawan.
Kami berjalan menuju parkiran sebuah rumah makan didaerah Bekasi, Langkahku terhenti saat di ujung kulihat seorang yang sangat kukenal sedang berdiri sendirian. Ya Rania, mengapa dia di sini? Dan terlihat begitu... berantakan. Aku terpaku. Rania tak melihatku. Sepertinya dia sedang mabuk. Sonya menghentikan ceritanya tentang masa kecilnya dan meyadari ada Rania di sana yang sedang kutatap dengan kebimbangan. Tangan Sonya yang dari tadi kugenggap dilepaskannya dengan kasar dan tanpa bicara dia berlari meninggalkanku.
Aku tersadar, tapi aku tak bisa beranjak. Aku kaku di tempat, bingung harus mendekati Rania apa mengejar Sonya. Tapi pada akhirnya aku mengejar istriku setelah dia pergi agak lama.
Di mobil, tak kutemukan Sonya, aku kalut mencarinya ke sana ke mari. Hingga pukul sebelas aku pulang tapi Sonya juga tak ada. Ingin pergi lagi mencarinya tapi berhenti melihat Sonya berjalan diantar Arya.
Aku mulai tak nyaman. Dengan tingkah mereka. Kutarik Sonya.
"Jangan kasar sama istri Bang." Tukas Arya
"Diam kau, sekarang kau pulang dari rumahku!"
Sonya masuk ke rumah. Kususul dia.
" Sonya."
Dia diam. Dilihatnya wajahku dengan sinis. Matanya sembab. Sungguh ini melukaiku, berlari ke laki-laki lain dan menangis di bahunya begitu? Apa yang mereka lakukan?
"Mengapa kau hubungi Arya? Apa kau menagis di bahunya? Sudah terlalu butuh kehangatan hingga mencari kehangatan dengan laki-laki lain!"
Dia diam, menatapku dengan benci. menambah marahku. Kutarik dia kedalam kamar. Kupaksa dia memberi hakku sebagai suami. Aku tak bisa mengendalikan semuanya. Hingga tersadar saat semuanya usia. Dia menangis dan terluka, dan aku bingung. Apa yang harus kulakukan. Aku merasa seperti pesakitan yang pantas dibencinya. Apa yang aku lakukan barusan? Pengecut sekali aku.
"Maafkan aku."
"Pergi! Jangan dekati aku!" Ucapnya sembari mengusap wajahnya yang basah tanpa melihatku.
Ingin sekali kupeluk tubuhnya, mengatakan betapa menyesalnya aku. Tapi dia akan semakin membenciku. Dengan berat kutinggalkan kamarnya.
Hingga pagi datang, tak sepecingpun mata tertutup. Menyesali segalanya. Menyesali kebodohanku. Sekarang dua wanita pasti terluka karena kebodohanku. Sudah kupilih untuk menentukan langkah. Agar tak ada lagi yang menangis hanya karenaku.
Pulang kerja. Sepi. Apa dia kerja? Hingga magrib menyapa. Dia tak kunjung juga keluar dari kamarnya. Mulai gusar kulihat ke kamarnya. Dan, kemana semua pakaiannya.
[ Saat surat ini kau baca. Aku sudah pergi jauh. Maaf aku tak pamit. Aku tak menyangka kau sekejam itu padaku, Bang. Aku menyerah. Sebelum semua diantara kita terluka, aku akan pergi. Kembalilah ke Rania, berbahagialah dengan wanitamu. Aku mohon maaf hadir antara kau dan dia. Jika suatu saat kita berjumpa tolong jangan saling menyapa karena orang asing tak harus saling menyapa. Lupakan apapun yang terjadi antara kita. ]
Hatiku sakit dan perih inikah yang dirasakan kehilangan saat kau mulai mencintainya?
Udah smpe part 10 ja ni
BalasHapus