Kebangkitan Diri
Aku tuh suka jualan, ga tau kenapa? Jual apa saja deh pokoknya halal. Aku meyadari passionku di dunia bisnis ini sejak aku berumah tangga ini. Aku merasa nggak malu kalau harus nawarin barang daganganku ke calon pembeli. Terus setelah aku pikir-pikir ternyata berjualan atau berbisnis itu menyenangkan.
Di tahun 2012 kalau tidak salah, berawal aku lihat salah satu teman jualan bross dari kain, homemade. Aku tetiba ingin bisa berkreasi juga seperti dia. Aku hanya bisa perhatikan dia. Terus aku curhat ke kakak perempuanku yang nomer empat tentang keinginanku. Eh, dia malah kasih ide aku berkreasi bikin bross dengan kawat warna, tahukan kawat kecil yang biasa buat tali madumongso itu loh, madumongso itu makanannya orang Nganjuk sejenis dodol yang terbuat dari ketan, santan, gula merah terus diaduk dengan sangat lama. Wah... Ngiler jadinya. Ih, kok jadi ngobrolin makanan yak?
Tahukan tali kawat aneka warna yang aku maksud? Trus kawat itu diisi aneka manik-manik dibentuk sedemikian rupa menjadi bross yang bling-bling dan cantik sekali. Bikinnya emang agak susah tapi seneng. Dan aku bikin aneka ragam warna, bentuk dan rupa. Saat itu seneng banget punya kegiatan tambahan yang mengasyikkan. Terus aku kan harus menjualnya ya kan? Awalnya aku posting di FB, tahulah hanya itu sosmed yang aku punya saat itu. WhatsApp pun belun ada fasilitas WA Story seperti saat ini. Dan ternyata itu sama sekali tak membantu. Sedih deh.
Kemudian aku bertekad untuk menitipkannya ke toko-toko aksesoris atau toko jilbab di sekitar Warujayeng, Tanjunganom yang bisa aku jangkau. Di daerahku Nganjuk sini. Kau tahu apa rasanya ketok pintu tiap toko dengan menggendong anakku, trus dengan bermuka melas gitu? Awalnya aku malu, gengsi dan beraneka rasa yang lain. Gengsiku tinggi saat itu. Aku seorang pengajar dan memilik sifat dasar yang sombong, sok kaya dan sok boss. Menjadi sales bross buatanku sendiri dan menurunkan gengsi serta egoku dilevel terendah yang bisa kujangkau, dengan mengemis ke pemilik toko untuk mau kutitipi barang daganganku adalah hal yang teramat berat kujalani.
Aku dicibir, dicuekin, ditolak atau diterima dengan baik, disambut, diberi saran diberi masukan membuatku belajar banyak hal. Aku yakin saat itu adalah cara Tuhan untuk mengajariku secara menyeluruh tentang kehidupan. Aku belajar bicara, belajar promosi, belajar komunikasi, belajar mendengarkan, belajar bersikap, belajar mencernah omongan orang, belajar menerima kritikan bahkan celaan tanpa membalas dengan omongan yang pedas. Luar biasa...!
Dari situ aku mulai nyaman dengan dunia bisnis, aku mulai suka dengan dunia jual beli. Aku dibuat Tuhan untuk semakin berkreasi, memanfaatkan potensi yang kumiliki. Dan aku menyadari ternyata masih banyak potensi dari diriku yang belum kukembangkan. Ini sudah jauh terlambat. Menyesal sebenarnya kenapa nggak dari dulu-dulu berdaya dengan potensi yang kumiliki. Tapi tak apa, better than never kan?
Itu adalah titik awalku. Aku semakin haus dengan hal baru, aku jadi belajar menjahit, belajar menulis copy writing, bertanam dan banyak lainnya. Aku dahaga dengan pelatihan, workshop, seminar dan lain-lain.
Dan di sinilah aku saat ini. Aku mencintai duniaku saat ini. Aku mencintai dunia bisnis, aku juga mencintai dunia menulis, akupun mencintai dunia berkarya seperti menjahit, dan segala hal baru lainnya.
Sekarang, selain mengajar, aku juga menulis sebagai sambilanku, aku juga sedang jatuh cinta dengan berkreasi membuat makanan-makanan untuk survival, aku jatuh cinta dengan dunia memasak, dan aku sedang menggebu-gebu dengan berjualan. Berjualan apa saja. Kebutuhan rumah tangga, barang pecah belah bahkan kosmetik. Aku suka berbisnis.
Maka sejak tahun 2012 sampai saat ini aku menamai waktu ini sebagai masa kebangkitan diriku.
Dan ini semua bisa terjadi hanya karena Tuhan. Bisa seperti ini karena bimbingan yang luar biasa, Guruku. Bapak Kyai Tanjung
Yulia Tanjung
Nganjuk, 15 Oktober 2019
Komentar
Posting Komentar