Kerajaan Cinta

Jika cantik adalah sebuah dosa, maka Naraya akan dijebloskan di dalam neraka paling dalam. Wajah bersih, kulit bercahaya yang pas dengan rambut yang ikal terawat, juga postur tubuh bak Dewi Kahyangan yang mengundang decak kagum pada siapapun yang melihatnya. Mata yang jernih dihiasi bulu mata lentik dan alis yang terbentuk sempurna membuat semakin dia dipuja kaum Adam sekaligus dibenci kaum Hawa.

Tapi kecantikan Naraya sama sekali tak bisa merebut hati Sang Raja. Raja menikahi Naraya sebagai selir ke pertama karena Naraya adalah istri mendiang panglima perang kepercayaannya yang meninggal di medan perang dua bulan yang lalu. Panglima Gilar menitipkan wanita yang sudah 4 tahun dinikahi itu sebelum keberangkatannya ke medan perang. Mungkin itu sebuah firasat, hingga sang panglima mewanti-wanti untuk menjaga sang istri kepada Raja, yang juga merupakan teman semasa kecilnya.

Cinta Raja hanya untuk permaisuri, Elena. permaisuri yang sudah menemaninya sejak dia diangkat menjadi putra mahkota negeri ini. Tidak hanya cantik, tapi ketulusan dan kesabaran sang permaisuri yang semakin membuat Raja tergila-gila. Sudah banyak tawaran wanita putri para petinggi kerajaan ditawarkan untuk menjadi selir sebelum Naraya, tapi Raja tak bersedia memiliki selir, karena raja pikir cukup satu wanita sebagai pendamping seumur hidupnya. Selain wasiat mendiang panglima kepercayaannya, Raja menikahi Naraya juga atas dasar tanggung jawab untuk menghidupi keluarga mendiang panglima, karena jika tak dipersuntingnya, istri dan anak serta keluarga yang ditinggal akan hidup dengan banyak ancaman.

Tapi untuk Naraya, Raja sama sekali tidak tahu harus bersikap seperti apa. Rasanya sangat tidak nyaman memperistri wanita mendiang sahabatnya.

"Yang Mulia. Ini bukan jadwal hamba untuk dikunjungi Yang Mulia" Permaisuri tetap duduk di balik meja riasnya yang megah dengan cermin oval yang dibingkai dengan kayu Ek terbaik dengan ukiran rapi yang berkelas. Menyisir rambutnya, Sang Permaisuri tak berniat bangkit dari duduknya.

"Biarkan aku di sini sebentar saja, dinda. Aku hanya ingin melihatmu baik-baik saja."

Raja mendekati Permaisuri dan mengambil sisir dadi tangannya menggantikan untuk menyisir rambut panjang nan indah Sang Ratu.

"Jika baginda seperti ini terus, hamba tak pernah bisa baik-baik saja. Hamba memang sakit, tak rela jika Baginda bersama wanita lain, tapi hamba mohon, ini harus dijalani Baginda dan hamba. Baginda harus belajar menerima Selir Paduka, hambapun akan belajar mererimanya."

Permaisuri meminta kembali sisir dari tangan Raja dan membiarkan Raja berjalan meninggalkan peraduannya dengan canggung.

Permaisuri Elena menyaksikan kepergian Sang Raja dari pantulan bayangan cermin di depannya dengan tatapan nanar. Ingin rasanya melarang laki-laki yang teramat dicintainya itu pergi.

***

Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP