thank you sania part 3

Rasanya malas sekali melakukan papun hari ini. Penolakan Sania malam minggu kemarin benar-benar menyerap habis semangatku yang biasanya meletup-letup. Rasanya aku cowok yang sama sekali tak punya kelebihan apa-apa. 

Sebenarnya Sania tidak salah sih menolak cintaku. Dia tak mungkin menghianati sahabatnya, Eva. Aku juga masih resmi sebagai pacar Eva. 

Pelajaran Biologi hanya lewat saja di pikiranku. Dari tadi aku hanya mencoret-coret halaman akhir buku tukisku dengan satu nama. Sania. 

Setelah bel istirahat berbunyi, aku bergegas mamasukkan semua bukuku di dalam tas dan keluar kelas dengan cepat setelah guru biologi menutup kelasnya. 

Sampai di kelas IPA2, aku celingukan mencari sosok kecil dengan kucir kuda yang sedang ingin aku temui. Tak ada, Kelasnya kosong hanya tinggal dua pasang kekasih yang sedang ngobrol serius.

"Eh, kok sudah kosong kelasnya?" Mereka berdua menatapku yang heran. Padahal bel istirahatkan baru saja terdengar.

"Jam 3-4 kosong tadi." Mereka kompak menjawab.

Aku beranjak keluar kelas ketika salah satu dari mereka berkata.

"Kalau nyari Eva, dia ada di perpus sama Sania." Kuacungkan jempol ke arahnya dan berlari menuju perpustakaan sekolah yang berada di lantai dua.

Perpustakaan sedikit lebih ramai dari biasanya. Kuedarkan pandangan, mencari dua sosok yang paking dekat denganku akhir-akhir ini.

"Dewa berubah sekarang, San." Aku menoleh. Di balik rak buku bagian Science yang menjulang tinggi, di sana dua gadis sedang berhadapan dengan membawa buku masing-masing. Aku bisa mengintipnya dari cela buku-buku tanpa mereka tahu. 

"Dia sudah tak seperti dulu. Malam minggu kemarin, dia tak datang ke rumah." Sepertinya Eva mulai menyadari perubahanku. Baguslah, aku bisa memintanya putus dengan mudah.

"Dia memang play boy. Sebenarnya aku tahu ini tapi tetap mau mengambil resikonya saat dia pada akhirnya mengajakku berkencan." Tak bisa kulihat seperti apa raut wajah Sania karena posisiku yang tak bisa bebas menatapnya.  Aku hanya bisa melihat kedua tangannya yang diletakkan di antara buku yang terbuka. 

"Aku harus bagaimana, San?" Berdebar-debar hatiku menanti apa yang akan dikatakan Sania, apa dia akan mengaku bahwa Malam Minggu kemarin aku ke ruamahnya hingga gak datang ke rumah Eva? Apa Sania akan setega itu?

"Bertahanlah, Va. Buang keraguanmu, percaya saja sama dia. Dia mencintaimu."
Gubrak!!!
Apa maksud Sania dengan mengatakan itu? Jelas-jelas aku sudah tak berminat untuk mempertahankan Eva. Duh, aku tiba-tiba bingung harus bagaimana setelah ini. Oke. Aku akan jujur dengan Eva. Bahwa apa yang dikatakan Sania adalah bohong.

"Mungkin dia sedang tersesat saat ini. Biarkan saja dulu. Dia hanya ingin mencoba hal baru. Tapi dia akan kembali padamu. Karena hanya kamu yang bisa mencintainya dengan tulus, Va." Ah, Sania sok tahu sekali. Apa dia tidak tahu, bahwa banyak cewek-cewek bertaburan yang menanti untuk aku ajak kencan. Sania saja yang sedikit terganggu penglihatannya dan tak bisa melihatku. 

"Kau salah, San. Banyak cewek mengharapkan cinta Dewa." Nah, itu Eva pahamkan?

"Tapi sejauh ini, masih kamu yang terbaik Eva. Percaya padaku. Dia akan menyesal meninggalkanmu."
Aku geram, kutinggalkan obrolan mereka dan melangkah meninggalkan perpus. Aku seperti dua kali ditolak Sania. Mengapa dia sama sekali tidak menginginkan seorang Dewa?

****

Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP