Thank You, Sania part 2
Aku bersiap apel Malam Mingguan ke rumah Sania. Berdebar antara bahagia dan takut. Takut karena aku belum pernah ke rumahnya. Aku tak berani berespektasi dengan segala kemungkinan. Hanya ingin membayangkan hal yang baik saja.
Kukenakan busana terbaik yang aku punya. Bersiap berangkat dengan T-Shirt V neck warna latte yang kukombinasikan dengan celana jeans warna coklat milo. Blazer terbaik yang kumiliki dengan warna hitam membuatku puas saat kupatut diriku di dalam cermin.
And here I am.
Sedang berdiri tepat depan rumah gadis yang selama ini mengganggu pikiranku. Rumah ini sederhana, dinding berwarna putih bersih dengan dua jendela coklat kayu seperti model rumah kebanyakan.
Ada taman yang hijau membentang halamannya yang luas. Aku sedikit heran, tanaman yang menghiasi rumahnya bukan tanaman bunga seperti umumnya, tapi sawi, kangkung, selada yang ditanam di banyak pollybag juga puluhan paralon besar yang diberi banyak lubang pada sisinya dan ditanami beberapa sayur mayur. Di samping kiri rumah juga terdapat halaman luas yang dipenuhi banyak pollybag, kali ini tanaman bawang merah yang menghiasinya. Kalau halaman depan rumahnya ditanami serba sayuran, di sampingnya lebih banyak ditanam bumbu-bumbuan. Ada seledri dan daun bawang segar terlihat pula di sana. Wah... keren sekali. Bukankah ini kemandirian pangan? Aku juga melihat ada beberapa tong yang disulap menjadi kolam ikan lele.
Dari tadi aku berdiri memperhatikan rumahnya dengan takjub. Entah sampai berapa lama. Sampai Sania muncul sambil menyapaku kaget.
"Hai, kapan datang? kok ga ada suaranya?"
Aku nyengir. Bingung harus ngomong apa. Karena aku benar-benar terpana dengan pemandangan menakjubkan ini.
"Rumahmu luar biasa, San. Bukan hanya pemiliknya yang bikin aku jatuh cinta. Sekarang aku jatuh cinta juga dengan rumahnya." Sania terkekeh. Wajahnya terlihat bersemu. Tapi aku mengungkapkan dengan jujur dari hatiku.
"Jam segini kok sudah datang?" Dia tak menanggapi ungkapanku. Aku tersadar, ternyata masih sore. Kulihat jam tangan, masih 16.39 WIB, Bo.... Gila! Apel macam apa ini? Jam segini udah datang? Sekali lagi aku nyengir.
"Ya udah...sini bantu aku."
"Bantu apa nih?" Sambutku bersemangat.
Sania berjalan ke sisi kiri ruamhnya. Mendekati kran yang dipasang nempel di pagar rumahnya. Ada selang sepanjang 30 centi yang sudah nempel di krannya, kemudian ada ember ukuran 10 literan. Sania mengisinya dengan air dan pupuk organik cair di samping krannya. Dituangkannya dua tutup botol pupuk cair ke dalam ember berisi air tadi.
"Kamu siramin tanaman ya, pakai air ini! Pelan-pelan pakai gayung."
"Kamu ngapain?"
"Itu, aku belum selesai menyapu halaman, terus melanjutkan menanam kangkung di pollybag yang kosong di sana." Di belakang deretan paralon yang berjejer, dia menunjuk ada banyak pollibag kosong yang siap ditanamin.
Di sana ada pria dengan topi bambu yang serius menanami deretan pollybag ditemani wanita berkerudung marron di sebrangnya. Sepertinya mereka orang tua Sania.
"Oke!" Ucapku menyanggupi. Sepertinya asik juga kencan sambil berkebun. Aku terkekeh dalam hati.
****
"Nak Dewa teman sekelas Sania?"
"Oh, tidak om, saya beda kelas dengan Sania." Kami berada di ruang tamu. Ayah dan ibu Sania menjamuku di sini setelah kami menyelesaikan berkebun tadi. Ibu dan ayahnya sudah berpakaian rapi dan duduk bersebelahan seperti mengintrogasiku. Dan Sania? Sejak tadi sama sekali tak menampakkan dirinya.
Ini namanya aku berkencan dengan orang tuanya. Untungnya kedua orang tua Sania orang yang asik, lucu dan teramat bijak. Aku yang tak pernah duduk dan berbagi cerita dengan orang tuaku jadi merasa sangat nyaman.
Sania imut dan lembut seperti ibunya, tapi memiliki sorot mata tajam seperti ayahnya.
Seprtinya Sania anak tunggal karena hampir semua yang dipajang di dinding ruang tamu adalah foto Sania dari bayi sampai sedewasa ini. Dia memang imut dari bayi. Andai aku orang tuanya, tak akan kubiarkan dia keluar dari rumah sedetikpun. Gadis lucu yang sangat manis.
"Sania kan murid baru, kok bisa sudah kenal Sania kalau beda kelas?" Ibunya bertanya heran? Tak tahukah ibu, bahwa putrimu menyita perhatianku di hari pertama saya melihatnya? Batinku yang tentu saja tak kuucapkan.
"Sania satu kelas sama pacarnya, Bunda!" Tiba-tiba Sania muncul dari balik korden dengan nampan minuman di tangannya. Aku meringis ke arah kedua orang tuanya.
"Ooh...!" Sahut ibunya. Aku mengangguk canggung dan menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Ya sudah, dilanjutkan ngobrol sama Sanianya, bapak sama ibu mau masuk dulu. Mau persiapan shalat Isya." Sekali lagi aku mengangguk sopan pada mereka dan bersorak, akhirnya aku bisa berduaan dengan Sania.
"Dari mana aja kamu, baru muncul?"
"Aku harus mandi dulu, kan habis berkebun, setelahnya shalat Maghrib dan masak untuk makan malam kami."
Aku heran, Sania terlihat amat sederhana dengan pakaian yang dikenakan. Baby doll dengan celana dan lengan panjang berwarna biru muda. Rambut dikucir kuda dan tanpa polesan sama sekali. Sama sekali tidak seperti gadis yang sedang diapelin teman cowoknya.
"Kita ini sedang kencan, kan San?" Sania terbelalak, seakan baru ingat bahwa aku ke sini sedang menanti jawabannya atas perasaan yang sudah kuutarakan sebelumnya.
Sania menyandarkan punggungnya pada sofa. Memandangku sekilas dan membuang pandangan di halaman depan yang mulai diselimuti gelap. Sejenak dihembuskannya nafas berat.
"Kau salah dengan perasaanmu, Wa!" Kukernyitkan dahiku. Apa yang dia maksud?
"Kau hanya tertarik, bukan cinta. Bedakan antara cinta dan ketertarikan. Eva gadis baik dan kau mencintainya. Jangan hianati hatimu dan hatinya." Aku masih diam, menunggu dia menyelesaikan kata-katanya.
"Kau bodoh kalau kau meninggalkan Eva untuk gadis yang teramat biasa sepertiku." Kali ini aku berontak
"Aku tahu perasaanku, Sania. Aku jenuh dengan semua gadis yang terlihat murahan selama ini. Dan kamu sama sekali bukan gadis seperti itu. Aku menginginkanmu."
BERSAMBUNG
Komentar
Posting Komentar