Jodoh Kedua

Jodoh Kedua

Tangis tak dapat kutahan. Aku terduduk lemas merasakan perih di hati yang seakan tercabik. Ini sama sekali tak pernah terbayangkan, Mas Arka akan menikah lagi? Ya Tuhan, nyeri sekali ulu hati menerima berita ini. Tidak hanya bagiku, suamikupun tak bisa menerima keputusan kedua orang tuanya yang memaksanya. Mas Arka duduk di depanku tanpa suara. Dia menundukkan kepala sembari meremas rambutnya.

"Kamu bahagia hidup bersamaku selama ini mas?" Akhirnya aku bersuara dengan bergetar. Menahan letupan emosi

"Aku selalu bahagia bersamamu, dek. Aku sangat bahagia. Tapi..."

Kulihat raut wajah suamiku yang begitu kusut. Wajahnya merah, begitulah dia saat menahan marah atau malu. Kali ini matanya menyala, jadi jelas dia marah.

"Jika begitu, mas jelaskan pada Ibu, kita bisa arungi rumah tangga ini. Tanpa harus Mas menikah lagi" Kalimat terakhir kembali membuatku terisak.

"Aku sudah berusaha menjelaskan pada Ibu, dek. Tapi Ibu mengancam bunuh diri jika aku menolak"

Aku mendecih tanpa suara. Ibu mertuaku memang tak pernah menyukaiku. Apapun yang aku lakukan tak pernah pas di hatinya. Segala usaha untuk merebut hatinya serasa tak berbekas di hati wanita yang melahirkan suamiku itu. Apalagi kami menikah sudah delapan tahun tak pula hadir suara tangis bayi membuat Ibu mertuaku semakin menunjukkan rasa tak sukanya padaku.

Kami menikah karena dijodohkan. Mas Arka saat itu berumur 25 tahun dan aku masih 19 tahu. Lulus SMA Bapak Mas Arka mendatangi rumahku untuk melamarku menjadi istri anak tercintanya. Bapaknya dan Ayahku adalah sahabat karib sejak SMP. Saat aku kecil Bapak Mas Arka sudah mewanti-wanti Ayahku untuk menjodohkanku dengan putranya.

Kami adalah putra-putri yang berbakti pada orang tua. Sama-sama tak akan pernah sanggup menentang kehendak mereka.

Awalnya kami menjalani rumah tangga dengan hambar. Aku merasa Mas Arka terpaksa menikah dengan wanita biasa yang baru lulus SMA yang berpenampilan teramat sederhana sepertiku. Tapi bagiku, Mas Arka adalah sosok pria dewasa yang berpikiran luas dan hangat. Penyayang, humoris disempurnakan dengan fisiknya yang gagah dengan kulit kecoklatan, khas pekerja keras. Wajahnya bersih dengan mata teduh yang siapapun akan jatuh cinta saat melihatnya. Aku jatuh cinta padanya sejak hari pertama menjadi istrinya. Sikapnya padaku tetap baik meski aku tahu, tak ada sorot cinta di matanya untukku.

Dan ketika aku baru saja merasakan tatapan penuh cinta di mata Mas Arka untukku, saat sikapnya banyak berubah lebih manis padaku dan ketika tidurnya mengigaukan namaku, ujian ini datang. Ibu dan Bapak meminta seorang cucu. Mas Arka anak tunggal. Jadi kedua orang tuanya tak mungkin mendapatkan cucu lain selain dari keturunan Mas Arka.

"Aku harus bagaimana, dek? Aku tak ingin membagi hatiku dengan wanita lain. Aku... Aku mencintaimu dek, setelah sekian lama, aku baru merasakan cinta ini untukmu. Aku bahkan memujamu. Aku tak perduli meskipun tak hadir seorang anak di antara kita. Aku sama sekali tak perduli. Aku hanya ingin bahagia bersamamu." Aku mendekatinya yang sedang kacau, kemudian memeluknya sembari berdiri. Dia membalas memeluk pinggangku. Berkali-kali kukecup pucuk kepalanya sambil terisak. 'Aku juga mencintaimu Mas, teramat mencintamu', jeritku dalam hati.

***

"Nduk Arsyi, sini! Bapak ingin ngomong"
Kuhentikan kegiatan menyiram tanaman di halaman samping dan mendekati bapak yang duduk di gazebo yang dikelilingi kolam ikan koi berbagai warna. Bapak sedang memberi makan ikan-ikan kesayangannya.

"Nggih, Bapak" aku menunduk di depannya. Rasanya aku sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan bapak padaku.

"Bapak dan Ibu minta maaf sama kamu, ya nduk. Bapak juga ibu harus egois untuk kehidupan Arka. Ibumu menginginkan cucu dan bapak menginginkan Irma menjadi menantu bapak karena beban mor waal". Bapak terdiam lagi, memberiku kesempatan untuk mencerna dan mengerti maksud bapak. 'Irma', ternyata sosoknya sudah ditentukan oleh mertuaku. Dadaku tiba-tiba sesak dan mata panas memaksa lahar keluar darinya. Aku terisak tanpa bisa kutahan.

"Menangislah. Meski pecah dadamu, tahanlah, Arsyi. Itu akan membuatmu tangguh" Bapak berhenti sambil menyeruput kopinya. Mengalihkan pandangannya dariku. Mungkin juga mencoba tak terpengaruh oleh air mataku.

"Irma putri tunggal Afandi. Aku, ayahmu dan Afandi adalah sahabat sejak kecil. Kedua sahabatku itu memiliki putri yang ingin dijodohkan ke Arka. Tapi karena aku menyanggupi ayahmu duluan, maka Afandi harus mengalah. Dan diapun menerima. Tapi empat tahun yang lalu, kau ingat saat bapak harus operasi ginjal karena kedua ginjal bapak tidak tidak berfungsi? Bapak harus segera mendapatkan pendonor ginjal dengan cepat. Afandi yang saat itu ada dengan keputusan cepat ingin mendonorkan ginjalnya"

Seperti tayangan film yang diputar ulang, aku mengingat saat bapak di rumah sakit dengan keadaan kritis karena ketidak berfungsinya kedua ginjal bapak. Dan sahabatnya yang saat itu tak kutahu namanya sedang menjenguk bapak, dengan rela mendonorkan ginjalnya. Saat itu baru setahun aku menjadi istri Mas Arka.

"Bapak selamat. Tapi Afandi meninggal setahun yang lalu karena kerusakan satu ginjalnya yang tersisa. Dan sebulan lalu Irma ditinggal ibunya pula. Dia sebatang kara. Bapak tidak bisa membiarkan anak itu sendirian, nduk. Bapaknya berkorban untuk menyelamatkan nyawa bapak empat tahun lalu".

Bapak menghembuskan nafas beratnya. Kemudian kembali menyeruput kopinya.

"Kamu paham kan mengapa bapak dan ibu harus egois atas tubuh dan hati Arka?"

Aku mengangguk, menata hatiku yang sudah berkeping, mencoba berfikir jernih, mencoba tegar untuk menguatkan hati suamiku, yang kutahu teramat berat menjalaninya.
***

Bersambung


Note: perasaan banyak banget cerbung yang belum ada kelanjutannya yang kusetor di ODOP 7 yak? 

🤭🤭

Ya maap...

Mood masih kalang kabut

😥

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP