Membaca Ayat-Ayat Tuhan

Sebenarnya apa manfaat ilmu pengetahuan?

Ketika seorang pengajar Kimia di sebuah rapat mengungkapkan bahwa ilmu Kimia sangat berhubungan dengan Tauhid kemudian dikukuhkan Guru kami, Bapak Kyai Tanjung bahwa itu memang sebenarnya yang ditunggu Beliau tentang pengajaran. Persis seperti bukunya Thomas Hager "The Alchemy of Air" yang mengungkapkan bahwa Kimia itu berkenaan dengan manusia itu sendiri, segala yang ada di dunia adalah terjadi karena ikatan-ikatan molekul yang tidak pernah berhenti bergerak. Gerakan itu adalah Sang Pencipta, Yang Mengecat merahnya mawar, yang memberi rasa asin pada air laut, yang menjadikan rasa segar pada air mineral, yang mengecat warna hijau pada daun dan kain sebagainya.

Segala ilmu pengetahuan bisa dikaitkan dengan ketuhanan. Teringat juga Beliau sering ungkap tentang ini berulang kali. Beliau juga memberi contoh soal yang harus diberikan kepada peserta didik dalam sekolah dengan sangat gamblang.

Kemudian dengan sangat terbatas terpikir olehku tentang pengajaran di bahasa inggris, yang bisa muncul di kepala hanya sekedar bagaimana mengajak mereka yang di kelas untuk menulis karena teringat DhawuhNya bahwa menulis akan mendorong orang untuk membaca. Hanya sekedar itu yang terpikirkan di kepala. Saking terbatasnya daya tafakurku. Tidak bisa sedetail dan seterperinci seperti hubungan ilmu Kimia dan Ketuhana yang di jelaskan ustadz Kimia yang luar biasa itu.

Kemudian,karena saking tidak beraninya diri bertanya kepada Bapak, tiba-tiba teringat Miss. UUn. Dia paling jago mentafakuri segala segi kehidupan yang dikaitkan dengan ketuhanan, maka sms ku kirimkan ke dia. Dan dengan bedecak kagum, sekaligus berdebar-debar membaca jawaban miss. UUn, berdebar karena luar biasanya Tuhan menciptakan ilmu pengetahuan sebagai ayat-ayat untuk mengenalNya untuk mentafakuri keberadaanNya.

Ini yg kudapat dari apa yg disampaikan Miss. UUn.

Konon, bahasa adalah dasar dari segala pengetahuan, Bahasa Inggris bisa menjadi jalan menuju diri sendiri dengan memaknainya setara dengan bahasa apa saja. Karena huruf, angka-angka juga merupakan bahasa, simbol-simbol yang ada dalam matematika, rumus-rumus adalah bahasa juga. Kita kurang memahami bahasa yang ada dalam kalkulus, kimia atau kode-kode dalam sintag karena kita tidak mengenal bahasanya. 

Dalam bahasa ada sastra. Dalam sastra ada rasa. Mempelajari bahasa itu mengajari membaca, mengkaji bacaan agar menemui makna dan menghidupkan kosakata menuju hakekat semesta, karena membaca tidak selalu pada sebuah tulisan yang tertera di buku. Tapi membaca apa saja. Membaca alam semesta. Tanpa tahu makna tak akan menjumpai rasa bahasa, tanpa paham bahasa di balik kata, segala tanda tak terbaca. Enggan berfikir, susah mengerti dan dimengerti, tak mampu menerima perbedaan. Beliau sering ngendikan, "ayo kita logikakan" itu adalah ajakan bagi kita untuk menganalisa. Belajar menganalisa kalimat adalah belajar mencari asal muasal. Merasai diri sendiri. Jangan sampai karaktermu intransitif tapi kau kira Linking Verb sehingga malah sibuk mencari complement, tidak mau memahami bahwa sebenarnya dirinya bermakna.
Tenses itu komponennya waktu dan peristiwa, waktu bisa berlalu tanpa terperistiwai, tapi peristiwa tak mungkin ternarasi tanpa lingkup waktu. Hidup itu saat peristiwa kita lakoni. Tenses Present itu seperti ungkapan Jawa alon-alon waton kelakon, Urip iku nguripi laku.
Penguasaan peradaban manusia berkenaan dengan bahasa. Hilang bahasa hilang pula bangsa.

Luar biasa kan?
sekarang PRnya, bagaimana menyederhanakan ulasan itu kepada anak-anak di kelas? Menyampaikan sekaligus mengaitkannya pada pemahaman kehidupan dan ketuhanan.

hanya pangestu Bapak yang membuat segalanya mungkin.


Yulia Tanjung
Nganjuk, 18 Oktober 2019

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP