Dijodohkan part 11A

#DI_JODOHKAN
PART 11A
Kolab BintangYulia

POV Mama Alvin

Mendatangkan Arya, putra keduaku bukanlah rencanaku. Tapi kedatangannya membantuku untuk membuat Alvin sadar, istrinya adalah wanita yang patut dipertahankan. 

Awal rencana aku menjodohkan Alvin dengan Sonya, sudah pernah kuceritakan pada Alvin, bahwa Sonya ini teman sekampus Arya. Tapi sepertinya Alvin tidak menghiraukannya waktu itu. Tapi akupun tidak menyangka bahwa Arya dan Sonya sangat dekat di kegiatan kemahasiswaan di kampus mereka. Padahal mereka berbeda jurusan. 

Dan akupun baru tersadar, bahwa Nayala yang pernah diceritakan Arya saat dia kuliah dulu adalah menantuku ini. Gadis yang menjadi cinta pertama Arya. Sonya Nayala Dirgantari. Putri Dirga, sahabat mendiang suamiku. 

Tuhan begitu misterius membuat skenario kehidupan anak-anakku. 

Sepertinya Arya tahu ini dari awal. Tapi membiarkan gadis cinta pertamanya untuk kakaknya. Entah untuk apa dia berbuat begitu. 

Tapi aku tak mungkin mengorbankan perasaan Arya untuk kebaikan putraku yang lain. 

Kedekatan Sonya dan Arya membuat Alvin marah. Sepintar apapun dia menyembunyikan marahnya, tapi sebagai ibunya, aku sangat tahu apa yang dirasakan putra sulungku itu. 

Kubiarkan Arya dan Sonya, karena kedatangan Arya seperti warna segar untuk menantuku. Senyumnya sudah lama menghilang, dan dengan Arya aku menemukan senyumnya lagi. 

Aku sangat merasa berdosa karena harus memaksanya menikah dengan Alvin yang tak menginginkannya, kupikir intesitas pertemuan mereka setiap hari akan memunculkan benih-benih cinta di hati Alvin, tapi pesona Rania begitu mengakar di benaknya. 

Hingga keyakinanku sedikit berubah saat Arya datang. Aku tahu, Alvin sudah mulai menyanyangi istrinya. Tapi aku juga harus melindungi perasaan putraku yang lain.

"Kau masih mencintai Nayala atau Sonya, Arya?" Aku mendekati putra keduaku ini di pinggiran kolam ikan yang sedang didudukinya. Dia sedang membaca sebuah buku tentang ilmu kesehatan. 

"Eh, mama! Bikin kaget aja!" Dia mengangkat wajahnya dari halaman buku yang dia baca, membiarkanku duduk di sampingnya sambil memberi makan ikan-ikan. Arya menggeser duduknya.

"Ini, Arya lagi baca buku tentang enzym." Ucapnya tanpa menjawab pertanyaanku.

"Kamu belum menjawab pertanyaan mama, nak!" Arya sangat paham, mamanya ini suka berbicara to the point. Dihembuskannya nafas tanpa kentara, tapi aku dapat melihat seperti ada beban berat yang menggelayutinya.

"Mama sebernarnya tak butuh jawaban Arya, kan? Mama hanya ingin menegaskan Arya, bahwa mau tak mau Arya harus menghilangkan perasaan Arya kepada Nayala." 

Aku diam, menatap mata terluka anakku.

"Tenang ma, Arya tak akan merusak pernikahan Bang Alvin, Arya tak akan merebut Nayala, sebesar apapun keinginan Arya untuk memilikinya. Selama Naya bahagia." Jawabnya sambil memandang jendela kamar kakaknya yang berada di lantai atas yang bisa dilihatnya dari posisinya saat ini. 

"Jadi ma, pastikan Bang Alvin bisa membahagiakan istrinya, jika tak ingin adiknya merebutnya." Tegasnya dan kembali membaca bukunya, tanda dia tak ingin diganggu lagi, bahkan oleh aku, ibu kandunganya.

Putraku ini memang lebih tenang dibanding Alvin kakaknya, dia lebih sering mengalah sejak kecil. Membuatku lebih dekat dengannya dibanding yang lain. Kalau Alvin jarang menceritakan kehidupan percintaannya padaku saat remaja, Arya lebih terbuka pada ibunya. Yeah, karena waktu itu aku mulai menata hidupku untuk lebih dekat dengan anak-anakku. Setelah Nike banyak mengajariku.

Siapapun yang sedang mendekatinya pasti diceritakan padaku. Dan sejak di bangku sekolah, dia memang lebih sering dikejar para gadis daripada mengejar gadis. 

Dia tak berani jatuh cinta, karena jatuh cinta akan memperlambat cita-citanya menjadi dokter, begitu akunya padaku saat itu. 

Hingga aku begitu bahagia dan antusias saat dia dengan berbinar-binar menceritakan gadis bernama Nayala yang menjadi sekretaris redaktur majalah kampusnya. Dia bercerita Nayala gadis yang beda, Nayala gadis yang luar biasa, Nayala gadis yang punya semangat tinggi, Nayala adalah gadis periang yang menyenangkan dan banyak sanjungan yang lain untuk gadisnya itu. Aku bahagia karena pada akhirnya anakku jatuh cinta.

Beda dengan Alvin, Alvin memang sejak kecil tidak dekat denganku. Saat itu aku terlalu sibuk dengan komunitas sosialita. Aku lupa statusku sebagai orang tua hingga membuatku menyesalinya hingga saat ini. Alvin seperti korban kebodohanku saat itu menjadikan Alvin lebih dekat dengan pengasuh juga papanya. 

Jika Arya pria yang takut jatuh cinta, Alvin lebih sering gonta ganti kekasih. Dia akan dekat dengan gadis yang diinginkannya dengan mudah. Dia tak pernah bertahan tiga bulan menjalin hubungan dengan seorang gadis saat SMA dulu. Dia juga tak pernah ingin mengalah pada adiknya sejak kecil. Miliknya adalah hak mutlak yang tak bisa diganggu siapapun tapi mainan milik adiknya dia harus memiliki mainan serupa seperti yang dipegang adiknya. Apalagi umur Alvin dan Arya hanya terpaut 3 tahun saja. 

Tapi saat menginjakkan pendidikan di universitas, Alvin banyak berubah, sosok ayahnya menjadikannya panutan. Dia mengagumi ayahnya. Kedewasaanpun terbentuk perlahan. Hingga dia menemukan gadis bernama Rania yang memecah rekor kehidupan percintaannya karena dia bisa bertahan selama lima tahun dengan gadis itu.

Awalnya kubiarkan saja, toh dia tak akan bertahan lama pikirku. Aku sudah merancang perjodohannya sejak dia dipertengahan masa kuliah. Alvin benolak, tapi aku menegaskan dan dia tak berani menolak, dia seperti tak ingin kehilangan mamanya setelah kehilangan papanya.

Meskipun aku membebaskan dia berpacaran dengan siapapun selama belum terikat pernikahan, lagian Sonya juga masih SMA waktu itu. 

Bodohnya aku saat itu tak pernah ingin melihat foto gadis yang dicintai Arya, jika aku tahu wajahnya, tak akan serunyam ini. Karena aku akan menjadikannya menantu untuk putra keduaku saja jika aku tahu Sonya semenderita ini. Sonya akan bahagia dengan Arya, lelaki yang mencitainya dengan segenap hatinya.

Aku mengenal wajah Sonya sejak kecil. Aku dan suamiku seringkali berkunjung ke rumah Dirga dan Nike, dan menganggap Sonya seperti putriku sendiri. 

Sonya pernah juga diajak orang tuanya berkunjung ke rumah kami, tapi tak pernah bertemu putra-putraku. 

Nasi sudah menjadi bubur, aku hanya perlu membuat bubur ini menjadi lebih lezat dan baik untuk semua.

Bersambung

Next part 11B, masih tetep bersama Yulia Tanjung ya...

Jempol 1K langsung up 11B nya. Bisa kan?? Hehe

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP