Malin Kundang part 1

Kutapaki jalanan lengang menuju sebuah gubug yang telah lama kutinggal dengan seorang wanita baya di dalamnya. Mencoba menelisik keberadaan wanita sederhana yang begitu aku rindu. Sudah bertahun-tahun aku meninggalkan tempat ini. Banyak perubahan yang terjadi selain gubug itu. Gubug yang menjadi saksi masa-masa yang penuh drama. Aku meninggalkannya ketika aku masih muda dengan sebuah harapan kehidupan yang lebih baik untukku dan dia.

Aku tertegun, berdebar-debar ketika langkahku semakin dekat dengan gubug tua milik kami. Kudapati seorang wanita yang teramat aku cinta itu sedang duduk bersila di depan gubug ditemani beberapa anak kecil mengelilinginya dan mendengarkan sebuah dongeng dengan antusiasnya. Sesekali kudengar sorakan anak-anak atau suara tawa mereka karena cerita sang perempuan.

Aku berhenti tepat di depan gubug reot yang tak layak huni ini dan dengan jelas kulihat wajah itu dari sini. Aku berdiri lama sambil ikut mendengarkan sebuah dongeng anak durhaka yang meninggalkan orang tuanya sendirian di desa yang dikemasnya dengan sedikit komedi. Wanita itu memang ahli mendongeng. Dan aku merindukan suaranya. Tiba-tiba dadaku sesak dibuatnya

"Sebentar, sepertinya ada yang datang anak-anak?"

Anak-anak yang mengelilinginya serentak melihat ke belakang dan mendapatiku berdiri di luar pagar kayu sambil memandangi mereka.

"Ada orang di luar pagar mak," salah satu anak melaporkan.

"Oh, suruh dia masuk. Ayo... Sini!" Tanpa tahu siapa tamunya, tangannya mengisyaratkan untukku masuk ke dalam gubugnya. Salah satu anak berlari menujuku dan menjemput untuk memasuki gubugnya.

"Silahkan masuk paman, ibuku memanggilmu." Aku tersenyum, dan berjongkok agar sejajar dengan tinggi si bocah.

"Hai, namamu siapa, nak?"

"Namaku Malin, paman." Anak berumur kira-kira 10 tahun ini menatapku penuh selidik. Aku membelai kepalanya sambil menahan perasaan yang tak bisa kujelaskan.

"Paman siapa?" Aku tersenyum tak menjawab.

"Kau mau paman ajak jalan-jalan? Paman orang baik dan tak akan mencelakaimu. Paman akan memberikanmu banyak makanan." Matanya berbinar dan mengangguk tanpa pikir panjang masuk lagi ke dalam gubug dan berpamitan dengan ibunya, kemudian mencium tangan dan melambai pada semua teman-temannya.

"Ayo paman, kita akan ke mana?" Kupandang kerumunan anak dan wanita yang masih terlihat cantik itu yang menatap kepergian kami dengan penasaran.

"Kita akan ke pasar kota." Malin bersorak sambil melompat. Aku ikut tersenyum melihat tingkahnya.
***

Hari sudah sore ketika kami kembali ke gubug tua tadi. Suasana gubug sepi dengan nyala lampu yang temaram tampak dari luar. Aku berjongkok dan menatap tajam ke arah mata bocah di depanku.

"Malin, dengarkan paman. Mulai sekarang kau yang merawat Rua, ibumu. Jangan tinggalkan dia sedetikpun. Setiap bulan aku akan datang ke sini untuk mencukupi kebutuhanmu dan Rua. Jangan kau ceritakan dari mana kau dapat semua ini.  Katakan saja kau bekerja sebagai kuli angkut di pasar." Dia mengangguk sambil tetap mengunyah makanan yang di tangannya,  dan  sedikit kewalahan membawa barang-barang yang kami beli dari pasar.

Kemudian dia berlari menuju gubug dan memanggil wanita yang mungkin sudah menunggunya di dalam.

Setelah puas memandang, dengan berat hati aku meninggalkan gubug itu dan kembali ke tempatku sekarang tinggal. Sebuah istana megah yang kubangun dengan luka agar aku mampu membuktikan kepada Rua, bahwa aku bisa mampu bertahan tanpanya.

Aku ingat, waktu itu meskipun hidup kami serba kekurangan tapi kami bahagia. Mengarungi hari yang sederhana. Aku hanya seorang nelayan kecil yang memiliki sebuah nampan yang kubuat sendiri untuk menjaring ikan. Tak banyak yang kudapat tapi cukup untuk hidup kami sehari.

Tak ada nasi, kami cukup makan ikan hasil tangkapanku dan membakarnya kemudian memakannya dengan penuh rasa syukur. Kemudian entah, sejak kapan wanita itu berubah menjadi begitu serakah. Dia menuntutku untuk bekerja lebih keras dan menghasilkan banyak uang. Aku dimintanya untuk ikut kapal besar dan bekerja kepada pemilik kapal dan mendapat gaji harian. Kuikuti apa yang dia minta, tapi dia masih belum puas. Rua berubah atau aku yang baru mengenal karakter aslinya, akupun tak tahu. Tapi wanita itu tetap menjadi wanita yang paling aku cintai.

Keadaan tak berubah meski aku sudah berusaha menuruti segala keinginannya, aku sudah bekerja sekerasnya untuk mencukupi apa yang dia mau.

Kelahiran anak kami yang pertama kupikir membuat dia berubah, tapi ternyata tidak. Dia menjadi wanita yang hanya mengejar materi. Sebulan setelah kelahiran anak kami, dia mengusirku dari rumah karena tak mendapatkan apa yang dia sebut sebagai kebahagiaan sejak hidup bersamaku. Aku pergi dengan hati terluka dan bertekad akan menjadi lebih kaya seperti maunya.

Aku pergi ke pedalaman Kalimantan dan bertemu suku Dayak asli yang begitu mempercayaiku. Hidupku berkembang di sana. Bahkan diangkat menjadi menantu ketua suku. Menikahi anak gadis ketua suku Dayak yang jelita dan baik tak sedikitpun membuatku melupakan Rua. Aku masih memantaunya dari jauh, mengikuti kabarnya tanpa dia tahu. 

Setelah kutinggal, dia menikah dengan pemilik kapal di desa kami, menjadi istri kedua boss kapal. Aku tahu, sejak lama lelaki hidung belang itu memang mengagumi kecantikan Rua dan sering menggodanya dan disambut oleh istriku itu. Hatiku teriris mengetahui itu, tapi aku tetap bodoh bertahan karena cinta.

Kabar setelahnya kudapat Rua dan anak kami di boyong lelaki itu ke sebuah rumah yang lebih baik di daerah terpencil ujung Padang tak jauh dari gubug kami. Tapi hidupnya tragis karena istri pertama lelaki itu mengetahui keberadaannya dan membakar rumah itu saat mereka sedang terlelap tidur. Lelaki itu mati terbakar, Rua selamat tapi kehilangan penglihatannya, dan anak kami selamat karena anak buahku yang ku perintahkan mengawasi mereka menyelamatkan keduanya. Anak kami, Si Malin yang menjadi prioritas ku saat itu.

Mungkin Tuhan menunjukkan balasannya bagi si serakah. Kemudian Rua dan anak kami yang saat itu berumur 5 tahun kembali ke gubug kami dan hidup dengan apa adanya. Kebutaan membuat dia tak berdaya. Aku sering mengirimnya makanan atau keperluan seadanya untuk mereka berdua tanpa mereka tahu dari siapa. Karena aku tak bisa melepaskan tanggung jawab begitu saja.

Dan sekarang, anak kami sudah menginjak dewasa, aku akan mendidiknya semampuku tanpa Rua tahu, meskipun Malin tak pernah tahu bahwa aku adalah ayahnya. Mencukupi kehidupan mereka dengan mengajarinya mandiri. Agar tak tergantung pada siapapun kelak. Karena aku tak mungkin meninggalkan keluarga baruku yang bahagia untuk kembali pada Rua dan Malin.

***

Bersambung

Yulia Tanjung
Nganjuk, 5 Oktober 2019

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP