Dijodohkan part 7b
#Dijodihkan_part7b
Kolab #BintangYulia
Part 1
https://m.facebook.com/groups/488655531196343?view=permalink&id=2638016209593587
Part 2
https://m.facebook.com/groups/488655531196343?view=permalink&id=2645123758882832
Part 3
https://m.facebook.com/groups/488655531196343?view=permalink&id=2662075807187627
Part 4
https://m.facebook.com/groups/488655531196343?view=permalink&id=2677518348976706
Part 5
https://m.facebook.com/groups/488655531196343?view=permalink&id=2692690500792824
Part 6
https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/2710304539031420/
Part 7a
https://m.facebook.com/groups/488655531196343?view=permalink&id=2710509919010882
DIJODOHKAN
Part 7b
POV Mama Alvin
Berjalan tergesa menaiki tangga depan sembari melemparkan kunci mobil ke Valet Man, aku menuju kantor putraku, mencoba meredam emosi yang rasanya sudah mendidih di hati. Tak tega rasanya melihat tangis menantuku yang telah diperlakukan keji oleh putraku sendiri. Oh, memang aku yang tak becus mendidik dia. Dia anak sulungku yang sempat kutelantarkan di masa kecilnya, kalau bukan karena Nike yang mengembalikanku pada jalur kodratku sebagai seorang ibu, aku pasti akan menyesal seumur hidupku. Ah, Nike... apakah aku salah memilih Alvin untuk putrimu. Maafkan aku Nike!
Ini adalah hotel bintang empat yang dibangun mendiang suamiku yang berkolaborasi dengan sahabatnya, ayah Sonya. Mereka bersahabat melebihi saudara. Mereka sama-sama menikah dan para istripun menjadi sahabat seiya sekata. Nike, ibu Sonya adalah wanita lembut dan sangat kalem, suka mengalah dan pandai membawa diri. Aku banyak belajar darinya.
Aku dulu seorang ibu yang urakan, tak pernah memperdulikan keluarga. Aku lebih nyaman berada di lingkungan sosialitaku. Alvin baru menginjak 7 tahun, Arya berumur 5 tahun dan pitra ketiga kami baru dua tahun. Suami sibuk membangun bisnisnya. Usaha hotel yang dirintisnya bersama Dirga, ayah Sonya maju pesat hingga membuka cabang di beberapa kota besar kemudian merambah bisnis properti di Singapura dan Thailand. Aku seperti lupa diri. Harta lebih, suami mencintaiku dan memanjakanku membuatku tak pernah memikirkan kepentingan orang lain, termasuk urusan suami dan anakku sendiri. Anak-anakku dirawat baby sitter. Aku jarang di rumah, karena aku juga merintis usaha restoran bergaya Eropa bersama teman-teman sosialitaku.
Kemudian kenyataan baru membuatku limbung. Suami yang selama ini kupercaya sangat memujaku menjalin hubungan gelap dengan pengasuh yang sudah kami percaya selama tiga tahun itu. Apa yang tak suamiku dapat dariku dia dapat dari pengasuh. Aku tak terima, kuusir wanita itu dan mulai menyalahkan suami tanpa mengoreksi kesalahanku.
Nike membuka mata, bahwa semua berawal dari kesalahanku yang sering tak ada saat suami dan anak-anak membutuhkanku. Nike mengajariku pelan-pelan bagaimana menjadi ibu dan istri yang baik.
Kubuka pintu ruangan yang dulu adalah ruangan suamiku. Mencari putraku yang ternyata tak berada di tempat. Kata sekretarisnya, dia sedang keluar makan siang. Kuputuskan untuk menunggunya sambil mencoba menghadirkan sosok almarhum suamiku yang teramat kurindu.
Kutelusuri ruang kerja putraku. Tak banyak berubah, foto besar keluarga kami masih terpajang di dinding belakang meja kerja. Saat itu Alvin menginjak dewasa diikuti kedua adiknya yang hanya terpaut dua dan lima tahun darinya. Aku tersenyum, aku lupa belum memajang foto pernikahan Alvin dan Sonya di sini. Kalau bukan aku yang melakukannya tak mungkin ada yang memikirkan soal itu.
Terdapat almari jati berukuran sedang dengan ukiran tegas berdiri di pojok ruangan, juga lemari brangkas di sampingnya yang kuhafal betul nomer sandinya. Kemudian ada single serve coffe machine otomatis yang terletak di atas mini bar berdampingan dengan lemari pendingin yang berukuran mini pula. Alvin memang seperti papanya, penggila kopi. Lalu terdapat satu set sofa berwarna hijau tua lengkap dengan meja bundar di pojok kanan bersebrangan dengan meja kerja.
Aku menuju meja kerja dan terbelakak tak percaya, di sana terdapat foto wanita yang dipujanya, garis wajah itu membuatku geram. Wajah itu begitu familiar, sangat mirip dengan pengasuhnya saat dia kecil dulu. Aku memang belum pernah bertemu dengan Rania. Saat Alvin menyebutkan nama itu yang mengisi hatinya, aku menolaknya karena sudah kusiapkan calon untuknya. Kubuka lacinya, ada beberapa berkas dan kutemukan beberapa foto yang disimpan di sana. Foto kemesraan Alvin dengan Rania dan satu foto lawas gadisnya dengan seseorang yang sangat aku kenal. Pengasuh Alvin bersama gadis ini. Alvin mungkin masih ingat bahwa wanita yang anak perempuannya teramat dicintainya ini dulu adalah pengasuhnya, tapi dia takkan tahu bahwa dia pula yang pernah merusak pernikahan orang tuanya. Karena saat itu Alvin terlalu kecil untuk memahami persoalan orang tuanya.
Melihat ini, aku semakin yakin bahwa pilihanku untuk menikahkan sulungku dengan Sonya bukanlah hal yang salah.
Kutinggalkan ruangannya dan mencoba menghubungi anakku, tapi kuurungkan saat kulihat sekretarisnya terdengar menelepon bossnya.
"Ibu bapak sedang menunggu di ruangan bapak sejak 30 menit yang lalu pak." Kuangkat alisku dan menunggunya selesai menyelesaikan telponnya dan menutupnya.
"Bapak di mana?" Tanyaku setelah dia sadar aku berdiri tak jauh dari posisinya.
"Bapak di cafe bawah bu."
"Apa yang bapak bilang tadi ke kamu?"
"Bapak hanya bilang, biarkan saja ibu menunggu di ruangan dan beliau akan segera menyusul. Bapak masih menyelesaikan makan siangnya." Aku tersenyum berterimakasih.
"Aku akan menyusulnya ke cafe." Sekretaris cantik itu mengangguk hormat dan melempar senyum menawannya.
Cafe perusahaan terletak di lantai dasar. Memiliki dua tingkat yang tak begitu tinggi. Saat masuk ke dalam cafe, bagian tengah akan terpisah dengan tangga pendek menuju ke lantai paling bawah. Jadi cafe ini didesain menjadi dua tingkat. Kau bisa melihat suasana di bawah saat kau duduk di kursi paling ujung yang dilindungi pagar pembatas di lantai atas. Dan kaupun juga bisa melihat suasana lantai atas saat kau berada di lantai bawah. Central service memang ada di lantai bawah. Lantai atas hanya ada berset-set meja kursi dan beberapa display minuman atau camilan. Suasananya lebih terbuka. Sedang di lantai bawah lebih tertutup tapi asri. Kanan kiri cafe terdapat out door yang banyak ditanami bebungaan juga beberapa kolam ikan yang dilengkapi miniatur air terjun. Jadi, gemericik air bisa kau dengar dengan jelas di sana. Konsep cafe ini aku yang mendesain.
Dan sepertinya Tuhan meminta aku untuk mendesain cafe seperti ini untuk melihat pemandangan ini dua kali. Lihatlah, di pojok bawah sana aku bisa melihat dua makhluk tak tahu malu yang duduk saling memandang penuh kagum. Putra sulungku dan Rania. Putri penggoda itu. Dan akupun pernah melihat hal yang sama saat almarhum suamiku bertemu dengan pengasuh putranya di sini. Aku melihatnya dari posisi ini, di lantai atas cafe. Dulu alasannya hanya karena Alvin ingin bertemu papanya. Ah, itu hanya alasan wanita itu untuk menemui suamiku.
Aku menggeram. Tak kubiarkan putraku jatuh di tangan Rania.
Kulihat Alvin meninggalkan gadisnya dengan berat hati. Kemudian berjalan menuju lift, yang berada di bawah posisiku saat ini. Sedang Rania masih tersenyum-senyum bahagia di posisinya. Aku beranjak dan menemui gadis itu dengan yakin.
****
Kubuka pintu ruangannya tanpa ketukan. Putraku mengangkat wajahnya dari layar laptop, dan mendapatiku dengan terkejut
"Mama, dari mana? Alvin mencari mama tadi, kata Berta mama..."
"Ya, mama menyusulmu di cafe dan melihatmu bersama Rania. Mama juga sudah melihat mejamu dan sedih mengetahui bukan foto pernikahanmu yang kau pajang di sana tapi foto wanita tak tahu malu itu."
Wajah putraku memerah, entah karena malu, takut atau marah. Tapi aku merasa inilah saat yang tepat peran ibu untuk anaknya. Inilah saat yang tepat untuk menebus kesalahanku di masa lampau.
"Dengarkan mama, Alvin! Mama teramat sangat kecewe dengan ini. Tapi mama tahu, ini salah mama. Mama yang tak becus mendidik anak-anak mama. Tapi mama..." Belum selesai aku berbicara gawainya berbunyi. Kulirik layarnya, ada foto gadis itu. Hah, aku tertawa. Apa dia akan mengadu ke Alvin? Pintar sekali dia!
"Rania menelponmu?"
Wajah Alvin mendadak bingung memilih mendengarkan aku atau mengangkat telpon kekasihnya.
"Halo sayang, aku..."
Ternyata gadis itu lebih berarti untuknya. Dengan marah kutinggalkan anakku dan menutup pintu ruangannya dengan kasar.
Oke, kita berperang anak muda. Aku akan membuat Alvin tergila-gila dengan istrinya sendiri, dan secuilpun tak kubiarkan dia mengingat nama Rania lagi. Kita lihat saja.
Bersambung
Maju terus, Bu. Demi menantumu yang baik hati itu
BalasHapusSiap cintaah... Kwkwk kmu bukan teman Rania kan?? 🤭
BalasHapusokw kita berperang anak muda. Saya terus terngiang-ngiang kata itu.
BalasHapusKurang mendidik ya kata-katanya?
HapusLanjut terus ya cerbungnya 😁
BalasHapusPengen maraton dari part 1 ni 😍🖒
BalasHapus