Dijodohkan part 11B

#DIJODOHKAN11B
Part 11b
Kolaborasi #BintangYulia

Pov Arya

"Bagaimana keadaannya sekarang?" Langkahku tergesa menuju klinik kampus yang terletak di ujung fakultas kedokteran. Dela mengabarkan ada mahasiswi dari fakuktas lain dalam keadaan kritis di sana. 

Pintu klinik kubuka kasar, di sana tergeletak gadis dengan wajah pujat yang ditemani seorang gadis lain denga wajah panik.

"Ini dokternya, Del?" Tanya penunggu pasien.

Dela menggelang dan menjawab,
"Bukan. Dia mahasiswa terbaik di fakultas kedokteran. Biarkan temanmu diperiksanya, Wi!"

Teman Dela bergeser memberiku akses tempat untuk memeriksa si pasien. Sadar, tapi terlalu lemah untuk bergerak dan berucap sepertinya.

"Makan apa dia sebelumnya?" Tanyaku pada si teman. Tapi dia menggeleng.

"Sudah berapa kali muntah?" Tanyaku lanjut sembari memeriksa nadi, dan matanya. Kuraba perut bagian atas dan sedikit menekannya, pasien meringis. 

"Tak terhitung, banyak sekali dalam satu jam ini." Jawabnya masih dengan kepanikan.

"Buka mulut!" Pasien menurut dan tampak lidah dan gusinya merah kebiruan yang kentara. Kasus keracunan akut.

"Dari fakultas mana dia?" Kusudahi memeriksanya dan mengambil form rujukan serta bulpoin untuk merujuknya ke rumah sakit terdekat.

"Dari Fakultas Gizi Masyarakat." Kali ini Dela yang menjawab.

"Dari fakultas gizi tapi dia keracunan makanan? Ya Ampun, apa-apaan gadis ini?" Aku menggeleng gemas. Mahasiswa macam apa dia yang tak becus mempraktikkan apa yang dia pelajari di kelasnya?

"Dia harus dirujuk ke Rumah Sakit terdekat, dia keracunan makanan akut. Aku akan membuatkan rujukan dan mengantarkannya ke sana."

Dela dan temannya mengguk bersamaan. 

"Siapa namanya?"

"Nayala." Temannya yang menjawab
"Dan...namaku, Dewi!" Akunya sedikit diluar dugaan. Aku memutar bola mata, tanpa berbalik melihatnya. Tak ada yang tanya namanya, tapi okelah, siapa tahu aku butuh memanggilnya nanti.

Di mobil dia kembali memuntahkan isi perutnya, keadaannya semakin lemah, Dela dan Dewi semakin gusar. Dan aku semakin ngebut menuju Rumah Sakit. 

Makan apa sebenarnya dia ini? Hingga mengalami keracunan akut begini? Apa dia terlalu bodoh dengan apa yang dipelajarinya di kampus hingga tak bisa membedakan kandungan makanan yang dia makan? Atau tidak bisa membedakan makanan expired? Hah, aku tak habis pikir. 

Di Rumah Sakit aku meminta Dewi temannya mengurus administrasi yang diperlukan, aku langsung menuju IGD untuk segera ditangani.

"Pasien keracunan!" Seruku setelah dia dapat kasur dorong dan meminta seorang dokter menanganinya dengan cepat.  Setahuku pasien keracunan termasuk gawat darurat yang harus segera ditangani.

"Kami dari UI, dan saya Mahasiswa Kedokteran yang menanganinya tadi."

Dokter yang menanganinya mengangguk sambil tetap meneruskan penanganan.

"Obat apapun tak bisa masuk dok, sudah saya coba memasukkan oralit, tapi dia memuntahkannya."

Dokter ini tersenyum bijak, seperti membiarkan mahasiswa kedokteran semester pertengahan yang dengan bangga menceritakan usahanya untuk menolong pasiennya. 

"Sepertinya kita butuh cairan elektrolit melalui infusnya." 

Sekali lagi dokter ini tersenyum, memasukkan jarum infus ke pasien. Aku mengamati gerakannya yang tenang. Memasukkan dalam memoriku untuk aku contoh suatu saat nanti saat aku menjadi dokter.

"Gadis ini pacarmu ya?" Dokter tersenyum dan menggodaku yang terlihat tegang. Aku terkejut dengan pertanyaannya. Tidak menjawab ungkapanku tentang tindakan yang aku lakukan, dokter malah mengajukan pertanyaan konyol.

"Oh, bukan dok. Dia teman dari teman saya." Ah, mana mungkin aku punya pacar seorang gadis yang bodoh dan ceroboh begini? 

Dela dan Dewi memasuki ruangan dengan secarik dokumen.

"Kita sudah mendapat kamar untuknya." Dewi terlihat lebih legah sekarang.

"Kau sudah hubungi keluarganya?" Pertanyaanku dijawab Dewi dengan ringisan aneh dan segera mengeluarkan gawainya kemudian menempelkan benda pipih itu ke telinganya sambil berjalan kembali keluar ruangan.

Tugasku selesai. Dan segera pamit kepada Della untuk pulang.

****

[Hai, aku Nayala.  Terimakasih sudah menolongku kemarin. Aku mau traktir kamu makan siang, sebagai ucapan terimakasihku]

Sebuah pesan dari nomer baru menghentikan langkahku di treatmil.
Ah, gadis itu. Malas sebenarnya menyanggupi undangannya. Tapi aku bukan cowok macam itu yang tak menghargai uacapan terimakasih dari seseorang yang sudah kutolong. 

[Oke!] Singkatku dan melanjutkan melangkah mengatur treatmil dengan kecepatan sedang.

[Aku tunggu di depan parkiran fakultas kedokteran jam 13.00. see you!] Kujawab dengan emoticon jempol, mematikan treatmill dan berjalan menuju kamar. Sudah waktunya bersiap.

****

Restoran ini seperti restoran pada umumnya di Jakarta, memadukan indor dan outdoor di belakang, dengan beberapa gazebo untuk muda mudi yang sedang berkumpul. Juga kolam ikan yang mengelilingi outdoornya dengan akses jembatan kecil yang dapat digunakan untuk berselfie dengan latar gazebo itu sendiri.

Suasana ramai karena waktu makan siang. Mahasiswa berduit lebih suka mencari makan di restoran atau rumah makan mewah tidak sekedar untuk makan siang, kadang mereka butuh untuk sebuah gaya hidup. Sedang mahasiswa dengan kantong pas, yang jauh dari rumah memilih mencari makan di kantin kampus atau kembali ke kost untuk makan apa yang mereka masak pagi sebelumnya.

Kuedarkan pandangan mencari sosok gadis yang masih kuingat jelas seperti apa wajah dan perawakannya.

Itu dia! 
Dia memilih tempat duduk di samping jendela belakang sambil melihat suasana outdoor restoran. Kulihat dia sedang membaca buku. Sama sekali tak terusik dengan suasana yang cukup ramai ini.

"Hai. Sudah lama menunggu?"
Aku mengawali menyapa, karena kuyakin dia tak mengenali wajahku. Saat kutolong dia hanya terpejam menahan sakit.

"Hai," sambutnya berbinar dan berdiri serta menjabat tanganku. 

"Salam kenal pak dokter." Lanjutnya sambil mengayun-ayunkan jabatan kami.

Aku terkekeh dan duduk bersebrangan dengannya.

"Panggil aku Dimas." Tak kusangka gadis ini memiliki wajah yang ramah dan menyenangkan saat sehat begini.

"Aku Nayala. Aku tahu nomermu dari ini." Dia menyerahkan secarik kertas padaku.

'Hubungi nomer ini. Kau harus berterimaksih padanya. Dia yang menolongmu'
                                   Dewi

Sebuah memo yang mencantumkan nomerku.

"Dewi meninggalkan ini di atas nakas rumah sakit, dan aku berjanji akan menghubunginya sekeluarku dari rumah sakit. Terimakasih ya!"

Aku mengangguk canggung.
"Kau ingin makan apa Dimas? Aku yang traktir."  Kami tergelak, tapi kuiiyakan saja meski aku tak terbiasa membiarkan wanita membayar apa yang kumakan.

"Ceritakan padaku, mengapa sampai bisa kau keracunan?" Naya tergelak sambil menutup tawanya dengan buku yang dia baca, tak membiarkan aku melihat mulutnya yang terbuka karena tawa.

"Aku sedang bereksperimen." Kukernyitkan dahiku.

"Aku sedang mengumpulkan berbagai macam jamur beracun yang kugabungkan dengan bahan makanan lain yang mengandung penawar racun, dan mencobanya. Beberapa berhasil untuk jenis jamur Boletus, Coprinus, dan Cortinarius yang mirip jamur payung itu. Tapi untuk jenis Lactarius aku keracunan kemarin. Hehehe."

Ya tuhan, aku terbelalak. Gadis apa di depanku ini yang bertaruh nyawa hanya untuk sebuah eksperimen.

"Apa yang kau campurkan untuk menawarkan racunnya?" Aku juga penasaran dengan eksperimennya.

"Ada beberapa percobaan." Dia menjawab sambil nyengir. Usil sekali sepertinya gadis ini.

"Untuk percobaan pertama aku mencampurnya dengan bawang putih organik dan daun tembakau. Hasilnya kuujikan pada tanaman. Saat tanaman itu mati di hari berikutnya berarti dia masih beracun." Pelayan membawa pesanan kami. Naya menghentikan ceritanya yang menggebu-gebu sampai pelayan pamit meninggalkan meja kami.

"Kutambahkan beberapa bahan seperti air kelapa. Dan saat aman untuk tanamanku, aku mencoba memakannya. Ada beberapa tahap hasil seperti muncul gatal, panas dan pusing. Tapi masih aman menurutku."

Dilahapnya sanyapan makan siang dengan semangat. Lapar sekali gadis ini sepertinya, atau karena terbawa ceritanya yang menggebu. Dan aku kehilangan selera makan karena lebih tertarik dengan ceritanya.

"Trus?" Aku tak menutupi rasa penasaranku.

"Percobaan selanjutnya aku mencoba dengan susu segar. Tidak efektif. Jamurnya masih beracun. Dan aku semakin penasaran."

Kali ini dia menghentikan cerita karena membuka sebuah buku dan menunjukannya padaku. Buku tentang teknologi fermentasi dan bioteknologi.

"Aku mencoba dengan cara fermentasi. Aku sedang belajar feementasi sekarang. Beberapa berhasil dan jamur semakin lezat disantap." Matanya berbinar.

"Tapi untuk jamur Lactarius aku terkecoh, sudah kuujikan di tanaman, dan tanaman yang kusirami dengan air jamur Lactarius tak menimbulkan gejala apapun. Kemudian kuujikan di kulit tanganku, tak ada ruam, gatal atau hal yang mencurigakan. Lalu kucoba untuk menjilatnya, pun begitu, aku tak merasakana apapun. Hingga aku percaya untuk memakannya. Kumasak dan kubuat menu sarapanku. It tasted delicous, aku memakannya sampai tak bersisa. Hahaha." Aku ikut tertawa. Menyenangkan sekali mendengar ceritanya. Kami baru saja berkenalan tapi kami sudah seperti teman lama. 

Dia melanjutkan.
"Dan kau tahu? Ternyata 3 jam selanjutnya aku muntah-muntah, perutku seperti diperas dan rasa panas di perut tak bisa kutahan." Aku bergumam, sedikit memberi reaksi akhir ceritanya.

"And you know the next." Pungkasnya sambil meringis.

"Saat itu kupikir kau gadis bodoh yang mengambil jurusan Gizi tapi keracunan makanan." Ucapku jujur. Dia tergelak. 

"Tapi dari situ aku menemukan cara sederhana yang sangat efektif menghilangkan racun." 

"Dengan apa?" 

"Aku menggunakan abu." Aku mendelik. Bagaimana abu bisa lebih efektif dari air kelapa?

"Seorang nenek tua penjual kripik jamur yang aku kenal di rumah sakit memberi tahuku rahasia orang jaman dulu menghilangkan racun tanaman."

"Bagaimana caranya?" Ini sangat menarik, dari sekali pertemuan dengannya aku mendapatkan pengetahuan begitu banyak. Padahal aku yang kuliah kedokteran. Tapi Naya memberitahu tentang penanganan medis yang sering terjadi di masyarakat umum.

"Nenek itu memberitahukanku stepnya. Aku harus merebusnya dengan abu, kemudian mengeringkannya dan mengulangi sampai tiga kali. Kau akan bebas memakannya. It's great ways, kan?"

"Kau sudah mencobanya?" 
Baru step pertama, aku harus mengulanginya sampai tiga kali sampai racun itu benar-benar hilang." 

Aku tersenyum legah. Selegah apa yang dia rasakan karena telah menemukan apa yang dia cari.

"Aku mencatatnya di buku harianku. Suatu saat anak-anakku akan membacanya." Kutatap wajahnya. Kalimat terakhirnya membuatku terdiam. Merasakan getaran aneh yang menyusup ke seluruh saraf tubuhku.

Dan sejak saat itu aku sering bertemu dengan Nayala, ngobrol dengannya selalu menyenangkan. Kami sering ke Gramedia atau ke perpustakaan pusat karena kami sama-sama tidak pernah puas membaca apapun. Bahkan buku yang sangat kuno dari berbagai negara. 

Kemudian kami membentuk komunitas literasi dan menerbitkan majalah kampus yang sempat vakum di periode sebelum kami. Mengadakan audisi untuk tim redaktur yang didukung 100% dari pihak universitas. 

Dan aku menikmati hari-hariku. Hatiku selalu diliputi kebahagiaan karena setiap saat bisa melihanya. Dia gadis yang memiliki semangat tinggi. Aku selalu mengaguminya. Hingga hatiku terbawa. 

Rasanya dadaku akan pecah jika aku tak ungkap perasaanku padanya.

****


Pagi itu dia terlihat beda. Sedikit pendiam seperti memikirkan sesuatu. Bukan bersedih, tapi hanya sedang berfikir. 

Konsentrasinya sedikit menurun. Fokusnya kacau. Hingga kuputuskan menunda untuk jujur padanya tentang perasaanku.

"Kamu kenapa sih Nay? Kacau begitu sepertinya." Nayala terhenyak. Dia menatap monitor komputer tapi aku tahu fokusnya tak di sana.

"Kau sedang ada masalah?"
Dibalikkan tubuhnya dan menghadapku yang duduk di belakangnya.

"Aku...tak tahu harus mulai dari mana." Dia memulai dengan canggung.

"Aku ingin cerita tapi tak tahu harus menceritakan ke siapa. Karena kau bertanya, kupikir kau orang yang tepat untuk kubagi apa yang kurasakan." Aku tersenyum, senang menjadi orang yang dia percaya.

"Aku... Dijodohkan." Akunya seperi bom Hirosyima yang membuat hatiku hancur.

Aku tercekat. 

"Aku bingung harus bagaimana? Dia putra sahabat ayah dan mendiang ibuku. Sebelumnya kami tak pernah bertemu. Jadi aku tak tahu apapun tentangnya." Dadaku seperti terhimpit oleh sesuatu yang tak kasat mata. Kurasakan Nayala menyadari ekspresiku yang berubah. Kucoba untuk tersenyum.

"Apa kau menerima perjodohan itu Nay?
Maksudku, ini bukan jamannya perjodohan kan?" Kucoba memberontak. Tapi hanya itu yang bisa kukatakan.

"Aku menolak awalnya, aku ingin hidup dengan pilihanku sendiri." Jawabannya kali ini membuatku sedikit bernafas legah. Ya Tuhan. Biarkan aku memilikinya, jangan orang lain.

"It's good Nayala. You have your own way of choosing your life." Aku mencoba meyakinkan bahwa pilihannya benar.

"Tapi... Aku menerima perjodohan itu sekarang." Tubuhku melemas. Aku merasa tak memiliki kesempatan lagi.

"Aku sudah tahu pria itu, dan aku mau."

"Mengapa kau mau, Nay?" Tanyaku lemas.

"Aku menyukainya, ah...tidak! Aku mencintainya." Ada senyum di bibirnya. Membuatku semakintak berdaya.

"Namanya Alvin. Putra Tante Diana, sahabat ibuku." Tunggu... Nama itu tak asing ditelingaku. Alvin putra Diana? 

Tidak, kuharap itu bukan nama seseorang yang sangat aku kenal. Tapi foto pria di gawainya yang ditunjukkan Nayala padaku mengungkap segalanya. Seolah memerintahku untuk menyerah tanpa berjuang sekalipun. Aku tak mungkin merebut Nayala dari abangku sendiri. 

****

Bersambung

Hiks... Di part ini aku kok baper sendiri ya... Kasihan Arya kan? Siapa yang mau menyembuhkan luka hati Bang Arya nih?😭😭

Next part oleh BintangJingga











Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP