Anakku
Anakku sedang semangat sekali ngobrolin tentang pahlawan. Berawal dari film Pemberontakan G30S PKI yang kami tonton Minggu lalu dari tivi swasta.
Meskipun nontonnya sambil berderai air mata, apalagi saat adegan Ade Irma, Putri Jendral Nasution yang ikut tertembak dengan dibumbui drama-drama tangis dari ibu dan kakaknya yang membuat anakku menangis keras seakan yang meninggal adalah saudaranya. Tapi dari situ dia mulai banyak bertanya tentang kepahlawanan. Siapa saja nama jendral yang diculik waktu itu, bagaimana bisa mereka diculik, apa kepanjangan dari PKI, apa komunis itu dan banyak pertanyaan lainnya. Anakku memang sekeritis itu.
Kemudian dia mulai suka menyanyikan lagu gugur bunga yang memang menyertai film itu di akhir seasonnya.
Sebenarnya bukan tentang jiwa nasionalisme anakku yang tetiba muncul atau tentang antusiasnya anakku dengan film lawas itu yang akan aku bahas di sini.
Aku ingin menulis tentang pemahaman bahasa anakku yang mulai banyak bertanya tentang sebuah istilah yang baru dia dengar, atau tentang struktur bahasa yang kadang terbalik yang belum dia pahami. Aku suka anakku banya bertanya tentang arti kata atau maksud dari sebuah ungkapan bahasa Indonesia atau menanyakan makna kalimat tertentu yang belum dia pahami.
Kembali ke saat dia bernyanyi lagu gugur bunga yang diawali lirik 'Betapa hatiku takkan pilu, telah gugur pahlawanku. Betapa hatiku tak akan sedih hamba ditinggal sendiri.' Dan dia bertanya,
"Kok, ditinggal pahlawan nggak sedih yah, di lagunya? Kan pahlawannya gugur dan meninggal, harusnya kan sedih." Begitu dia bertanya ke ayahnya. Aku tersenyum mendengarnya dan membiarkan ayahnya menjawab.
"Kan depannya ada kata 'betapa hatiku takkan sedih' itu artinya 'bagaimana hatiku tidak bersedih, pahlawanku gugur. Maksudnya hatinya sangat sedih sekali dek, kata betapa di situ mengungkapkan sungguh teramat sedih." Anakku masih mengerutkan keningnya. Belum paham.
"Bagaimana mama tidak senang, saat melihat anaknya sehat? Itu berarti mama senang sekali karena anak mama sehat." Aku menambahkan, membantu ayahnya yang sedang mencari kata untuk lebih mudah dipahami anak kami yang baru kelas 4 SD ini.
"Betapa senangnya hati ayah melihat mama tambah cantik, berarti ayah senang sekali, gitu dek!" Ayahnya ikut-ikut memberi contoh.
Kemudian anakku manggut-manggut memahami penjelasan orang tuanya. Dan ayahnya mulai memberi sebuah kasus untuk dia buat kalimat serupa, sampai dia benar-benar mengerti.
Anakku memang mulai suka dengan menulis, dia ingin membuat komik yang bagus dan terkenal nantinya. Dia mulai getol belajar menggambar dan membuat komik ala kadarnya sambil diberi percakapan ala anak-anak yang sedang keranjingan K-Pop dengan bahasa yang membuatku tertawa saat membacanya.
Kubiarkan saja apa yang ingin dilakukannya. Aku menikmati perkembangan bahasanya. Aku yakin dia akan menjadi penulis yang hebat saat dewasa nanti. Menuliskan sejarah hidupnya untuk persembahan kepada anak cucunya.
Tetaplah berkarya anakku.
Yulia Tanjung
Nganjuk, 3 Oktober 2019
Wow sudah ada generasi dong
BalasHapusBetapa bundamu tidak akan senang, ternyata putri kecilnya telah mengikuti jejaknya, Nak.
BalasHapusNgikutin jejak mamanya ni
BalasHapus