Aku Hanya Rindu

Denting dawai yang kupetik membawa suasana malam semakin kelabu. Aku memejamkan mata meresapi tiap alunan senar yang kupetik dengan sepenuh hati. Membayangkan pertemuan-pertemuan yang kini menyisakan rindu yang enggan pergi, meranggas dan membakar batinku.

Kuhadirkan sesosok makhluk indah ciptaan-Nya yang telah mewarnai hidup dan hariku. Kukenang senyumnya, tawanya yang bebas dan suara merdunya yang saat ini ingin sekali aku dengar.

Maharani. Wanita indah yang dipahat Tuhan dengan mata bulat dan lengkung alis yang sempurna, bulu mata yang begitu angkuh, bibir merah serupa kuncup mawar yang menggoda. Gelombang rambut yang berkilau seperti pendar bintang malam pada langit pertengahan bulan Desember. Menakjubkan.

Gelak tawa yang mampu menghipnotis siapa saja, begitu renyah seperti suara deru ombak. Siapun akan tergoda dengan indah suaranya. Dia mahakarya Tuhan tanpa cela.

Aku memujanya. Oh, bukan hanya aku tapi sebagian makhluk Tuhan yang mengenalnya akan mendamba tanpa bisa menahannya.

"Kau harus melupakannya, Wa!" Kutatap sahabat yang sedari tadi membiarkanku melamun dengan gitar tua yang kupetik. Aku menatapnya dan menggelang dengan tetap mendentingkan dawai gitar.

"Tak semudah itu, Bro." Aku tersenyum getir.

"Tapi kau akan gila jika seperti ini terus.  Life must goon, Sob! Lupakan dia, ikhlaskan kepergiannya, hanya itu yang bisa kau lakukan sekarang."

Aku menghentikan permainan gitarku. Kemudian mengambil kunci mobil yang sedari tadi tergeletak di sampingku. Gitar kuserahkan pada Boy, pemilik kamar kost yang entah kenapa harus kusinggahi malam ini. Dia sahabatku yang juga  pemuja cinta Maharani. Meskipun dia harus mengakui kekalahannya. Tapi kurasa, kekalahan Boy adalah berkah untuknya karena dia takkan segila aku saat ditinggalkan Maharaniku.

"Aku akan mencarinya, aku takkan menyerah." Boy tersenyum memaksa.

"Kau sudah dua tahun mencarinya tanpa hasil, Wa. Lebih baik kau menyerah!" Kutinju lengan Boy keras dan berlalu meninggalkannya sembari berucap,

"Never!"

****

Aku mungkin bisa kuat saat pagi dan siang menjelang, karena aku akan disibukkan dengan berbagai hal. Tapi aku takkan kuat menahan rindu saat gelap mulai menyelimuti bumi. Aku teringat harumnya, aku teringat suara manjanya. Aku menggigil dalam rindu yang menyiksa. Kemana lagi aku harus mencarinya? Maharaniku, bagaimana keadaannya? Mengapa bumi seolah menelannya tanpa izin padaku?

Maharani datang di kehidupanku dengan membawa lukanya. Hujan mempertemukanku dengannya. Dia berdiri dengan basah kuyup di depan sebuah cafe di suatu sore. Aku menikmati wajahnya yang basah sambil menikmati kopi hitam di dalam cafe. Buku Cleopatra-Stacy Schiff sudah tak menarik minatku, karena seseorang yang kedinginan di sebrang itu jauh lebih indah dari sosok Cleopatra.

Dan aku membawanya ke apartemen yang kupunya. Maharani yang malang, yang kabur dari sebuah rumah bordir di kotanya yang jauh. Dia dijual ayah tirinya untuk menjadi budak pemuas nafsu oara hidung belang. Dan aku datang menghadirkan cinta untuknya.

Aku menghalalkannya, tanpa perduli masa lalunya yang suram, tak kuperdukikan dari mana asalnya, siapa saudaranya yang tersisa, aku hanya ingin memilikinya tanpa gangguan. Dan kami hidup bahagia. Tapi bulan kedua pernikahan kami, dia menghilang. Aku tak menemukan jejaknya, aku mencarinya keujung dunia, tapi aku tak menemukannya. Aku seperti gila mencari keberadaannya.

Bersambung

Yulia Tanjung
Nganjuk, 13 Oktober 2018

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP