Thank You, Sania part 1

        Cewek ini manis amat sih. Rambutnya panjang sepunggung, terlihat menawan meskipun selalu diikat dengan karet dapur. Perawakannya kecil. Apalagi saat dia mengenakan seragam abu-abu. Imutnya...!


Matanya sipit tapi bukan turunan China. Jernih bagai tanpa dosa. Saat dia tertawa matanya tenggelam hampir terpejam membuatnya semakin lucu menggemaskan. Senyuman tak pernah pergi dari bibirnya. 


Namanya Sania. Sania Twain, Sania Twin atau Sania Twon aku tak tahu. Karena aku tak sekelas dengannya. Kemarin tanpa sengaja mendengar namanya dipanggil saat dia berada di sekitar kantin. Dia murid baru.

Aku merutuk sendiri, mengapa tak ditempatkan di kelasku saja sih cewek manis itu? Kan enak aku bisa melihatnya tiap hari. Malah di masukkannya di kelas 2 IPA2. Dan itu kelasnya...

"Ke kantin yuk Wa!"

Aku mendongak. Seperti biasa, gadis blasteran Jawa-Jerman-Sunda yang hidungnya nyaingi hidung Si Pinokio ini, berdiri persis di ambang pintu kelasku.  Dengan senyum yang menawan menawariku ke kantin. Aku membalas senyumnya.

"Enggak dulu deh, yang!
Udah kenyang." Jawabku ringan sembari mengelus-elus perutku yang tiba-tiba kenyang.

Dia... Pacarku.

"Tumben!" Herannya tanpa curiga

"Tadi Si Ragil bawa roti bolu gede banget. Aku yang habisin." Cewek cantik itu ngekek. Roti bolu? Tentu saja aku bohong. Ragilkan sedang absen hari ini.

"Dasar kamu. Nggak kasihan banget sih sama Ragil?" Ganti aku yang ngekek.

"Mau ditemenin ke kantinnya?" Tawarku ragu. Dan berharap dia menolaknya.

"Enggak deh..." aku legah.

"Aku ajak Sania aja. Anak baru di kelasku. Udah tahu belum?" Aku menggeleng. Pura-pura memasang wajah blo'on.
Eh, tunggu! Sama Sania dia bilang?

"Aku ikut deh, boleh? Siapa tahu dapat traktiran." Aku nyengir sambil beranjak dari duduk dan berjalan mendekatinya, mengacak-acak rambutnya seperti kebiasaanku. Kemudian berjalan mendahului menuju kantin.

"Hahaha, kebiasaaaannnn!!"
Teriaknya gemas sembari mengejar langkah panjangku.

***

          "San,  Ini Dewa. Wa, Ini Sania!"
Aku menjabat tangan mungilnya. Setelah Eva saling mengenalkan kami berdua. Ada aliran listrik menjalari seluruh tubuhku. Hatiku bergetar hebat saat menjabatnya.

"Sania ini murid baru di kelas kami, Wa. Dia baru pindah dari Bogor. Baru 3 hari ini dia masuk sekolah." Aku manggut-manggut. Cewek manis dan imut di depanku cuma tersenyum sambil memainkan sedotan minumannya.

Sumpah, aku gemes melihatnya. Kok ada cewek seperti dia? Dilihat dari jauh manis, dari dekat lebih menggemaskan.


"Kamu, pacarnya Eva ya?" Aku melotot kaget. Tersadar bahwa aku di sini berstatus pacar Eva. Eva hanya terkekeh. Aku diam tak tahu harus jawab apa.

"Kok tahu kamu San?" Eva tanya balik

"Nebak aja. Tapi bener kan?"

Busyet nih cewek. Benar-benar membuyarkan rencanaku untuk mendekatinya. Padahal aku sudah merancang banyak planning untuk itu.

"Eh, ke mana, San?" Eva tiba-tiba berseru saat melihat Sania beranjak.

"Ga enak ah, nungguin orang pacaran. Aku pergi dulu ya! " Kemudian dia pergi sambil melambaikan tangannya dengan ceria.

Ufff...! Tubuhku lemas dan tiba-tiba merasa bosan berada di depan cewek indo yang sudah kupacari 3 bulan ini.

***

         Sania itu cewek paling apa adanya yang pernah aku kenal. Beda dengan kebanyakan cewek sekelasku atau sekelas Eva yang lain. Dan dia bukan tipe cewek murahan yang sering cari-cari perhatian cowok dengan pola tingkah yang macam-macam yang membuat kami, para cowok semakin muak dibuatnya.

Biar aku nyombong sedikit. Eva adalah cewek tercantik di sekolah. Dia baik, pintar dan murid yang aktif di sekolah. Banyak organisasi sekolah yang dipimpinnya. Tak heran, banyak pula yang memujanya. Cowok bahkan cewek sekalipun akan bangga bisa dekat dengannya. 

Dan aku, seorang Dewa Adi Wijaya, idola para gadis di sekolah yang bisa mendapatkan hati Sang Primadona, bukankah aku juga bukan sembarang cowok di sini? Kami berdua langganan menjadi model beberapa brand ternama t-shirt atau baju kece yang ada di Ibu Kota.

Aku juga leader band sekolah. Dengan permainan guitar melodiku yang semua akan teriak histeris saat aku memainkannya di atas panggung. Yeah, that's me.

Tapi herannya, gadis bermuka standart yang sedang makan bakso di depanku beberapa meter ini sama sekali tak berusaha mencari perhatianku. Atau berusaha ajak ngobrol aku kek. Aku jadi sakit hati dan meragukan kenormalannya. Harusnya kan dia sedikit kepo denganku, atau seneng saat aku ajak dia ngobrol, seperti umumnya cewek-cewek di sini.

"Wa, mikir apa?"
Eva menepuk pundak pelan. Membuyarkan lamunanku tentang teman sekelasnya.

"Mikir festival band. Dua bulan lagi. Tapi anak-anak susah cari waktu luang."


Berbohong depan cewek memang ahliku. Tapi sudah lama aku meninggalkan kebiasaan itu sejak bersama Eva, dan kali ini, penyakit itu kambuh lagi. Eva manggut-manggut.

Lihatlah gadis di seberang sana. Dia sedang menikmati semangkok bakso yang baru dipesannya. Sama sekali tak menyadari tatapanku. Aku bahkan tak perduli jika Eva memergokiku sedang memandang gemas cewek imut itu dan begitu terpesona dengan pandangan menakjubkan ini. Wajahnya merah menahan pedas, beberapa kali dia mengibaskan tangan di depan bibirnya serta meneguk jus jeruk di setiap suapan. Lucu sekali! Bibirnya berucap 'pedeees' hampir di setiap kunyahan. Tapi meski begitu dia tetap tak berhenti menyuapkan baksonya sampai habis.  Menggemaskan sekali kan? Keringatnya membasahi jidat, leher dan seluruh wajahnya. Teman-teman yang duduk di sekitarnya menertawakan tingkahnya.

"Sania lucu ya, Wa?" Aku terperanjat, Eva juga memperhatikan gadis itu ternyata.

***

         Sebenarnya wajahnya pas-pasan, jauh jika dibandingkan dengan Eva. Tingginya kira-kira 15 cm di bawah tinggi Eva. Entah Eva-nya yang kelewat jangkung, atau Sanianya yang kelewat tinny. Aku tak tahu pasti. Tapi dia beda. Apanya yang beda masih dalam penyelidikan.

Selain itu, tingkahnya itu,  polos dan nggak dibuat-buat. Cuek tapi tegas. Ah, sulit mendeskripsikannya. Saat ini aku sedang duduk tepat di depannya, di perpustakaan sekolah. Akhir-akhir ini aku tak pernah melihatnya saat jam istirahat. Di kelas atau di kantin. Ternyata dia sedang menikmati membaca buku di perpustakaan. Sudah dua hari ini aku membuntutinya ke tempat sepi ini. Dan kami mulai dekat. Aku mulai berani mengajaknya ngobrol. Meski hanya sebagai teman, katanya.

"Kamu sudah berapa kali pacaran?" Aku terhenyak dengan pertanyaanku sendiri.  Diapun terkejut, melepaskan matanya dari buku yang dibacanya, tapi beberapa detik kemudian tertawa renyah.

"Aduh!! Kamu tanya gituan mau bikin aku malu ya?"

"Kenapa malu?" Heranku.

"Emang cewek sepertiku pantasnya berapa kali?" Ish, ditanya malah nanya. Kali ini aku yang tertawa.

"Ehm... 10 kali." Jawabku asal.

"Tambah dua deh biar selusin sekalian." Aku terbahak, jawabannya benar-benar membuatku tertawa tanpa henti. Dasar gadis nyeleneh.

"Kamu pindah sekolah sini kok nggak dari dulu-dulu aja sih?"

"Maksud kamu?"
Oops, Dewa! Mulut di kondisikan Dewa!

"Ehm, Maksudku, kok pindahnya di pertengahan semester? Kan kamu ketinggalan banyak pelajaran jadinya."

Nah, Dewa selalu pinter mencari kata-kata. Hehehe

"Kenapa ya? Karena aku pengen aja". Dia tertawa lagi. Tapi terdengar sumbang nadanya. Seperti ada yang disembunyikannya. Oke lah, aku tak akan memaksa. Aku manggut-manggut, gadis ini, semakin menarik saja bahkan dengan sebuah kenyataan yang mungkin dia sembunyikan. Mungkin tentang masa lalunya.

"Hobby baca ya?"

"Emang kalau orang ke perpus selalu karena hobby baca?" Tuh kan? Jawaban macam apa itu?

"Emang enggak?" Aku balik tanya lagi.

"Nggak mesti dong, siapa tahu cuma pengen ngadem, atau karena pengen ngerumpi, kaya itu tuh!" Jawabnya cuek sembari menunjuk kerumunan cewek yang sedang berbisik-bisik mencurigakan.

Aku terkekeh. Bisa aja!

"Atau..." Lanjutnya.

"Cuma pengen ngecengin gebetan, bisa juga karena mau cari perhatian ke guru kalau dia murid teladan."

Aku mendelik, jawaban yang 'kena' banget buat aku. Ngecengin dia, gebetanku. Hehe...

"Kalau kamu karena apa?" Aku jadi ingin tahu juga alasan dia suka ke perpus.

"Karena ingin menyingkir dari keramaian."

Kukernyitkan dahiku. Ada luka di matanya. Tapi sekejab dia menetralkannya kembali.

Luar biasa!
Pintar sekali dia menyembunyikan ekspresinya.

"Kalau kamu? Kenapa suka ke perpus?"

Sania tanya balik. Aku terdiam, menimbang apa yang harus aku jawab. Jujur apa bohong.

"Ehmmm, aku ke perpus karena pingin lihat kamu." Aku jujur pada akhirnya. Biar sajalah, terlanjur basah. Sania melotot.

"Nggak lucu!" Sontaknya dan beranjak berdiri bersiap meninggalkanku.

"Tunggu, aku serius. Aku suka kamu, San."

Ada  kemarahan di matanya. Tapi aku tidak peduli daripada dadaku meledak karena menahan perasaanku. Tapi tiba-tiba ekspresi marahnya berubah, kemudian dia tertawa ringan seperti biasa.

"Terimakasih Dewa, aku juga suka kamu. Kamu baik dan kamu pacar teman baikku, Eva." Ucapnya ringan dan bersiap mendorong kursinya ke belakang memudahkan dia keluar dari sana.

"Bukan suka, San. Tapi ini cinta. Aku jatuh cinta sama kamu. Maaf, aku memang sudah sama Eva, tapi aku tak bisa kalau nggak jujur sama kamu dan sama diriku sendiri."

Haish...
Tiba-tiba aku keder di depan seorang gadis. Rasanya nggak pernah seperti ini deh di hadapan mantan-mantanku dulu. Aku selalu percaya bahwa setiap gadis yang aku sukai pasti juga menyukaiku.

"Kamu bodoh ya Wa, suka kok sama orang kayak aku."

Dia duduk kembali menutup bukunya dan tersenyum riang seperti biasanya. Sekali lagi aku kagum atas kecepatan dia menetralisir perasaan. Dari marah kembali ke normal.

Aku terdiam.

"Bagaimana dengan Eva?" Pancingnya.

"Aku...aku akan jujur ke Eva."

"Ah, nggak mungkin." Potongnya cepat.

"Kamu tak mungkin sanggup ninggalin Eva, gadis cantik, pinter, baik dan popular itu hanya untuk gadis bodoh, jelek seperti aku ini." Ada seringai ejekan di nada bicaranya.

"Aku berani jamin. Aku sanggup meninggalkannya untuk kamu San. Serius! Aku tidak melihatmu secara fisik. Bersamamu merasa nyaman, aku, suka cara berfikirmu, aku suka cara tertawamu, cara bicaramu, polah tingkahmu, semua aku suka. Kamu, beda."  Paparku panjang lebar.

"Ya udah, gini aja. Kamu sedang galau. Kamu butuh memikirkan masak-masak apa yang kamu rasakan, jangan sampai menyesal. Aku beri kamu waktu dua hari. Malam Minggu depan kamu bisa datang ke rumahku. Kita pastikan seperti apa perasaan kamu sebenarnya." Mataku berbinar. Dia memintaku apel di rumahnya Malam Minggu besok gitu? Dalam hati aku bersorak.

"Oke, aku pastikan, jawabannya tetap sama. Kamu! Dan bagaimana jika kamu yang aku pilih? Apa di malam itu kamu bakal terima aku?" Tanyaku sambil menahan bahagia.

"Kita lihat nanti. Oke, sampai nanti. Aku masuk kelas dulu." Dan dia beranjak pergi meninggalkanku yang tersenyum bahagia.
Kupastikan padamu, Sania. Bahwa kau akan jadi milikku.

***

Bersambung

      

Komentar

  1. Huhu huhu kerennn abiss. Serasa aku baca novel. Aku baperrrr. Lanjutkannnnn!!

    BalasHapus
  2. Iya betul, Bund Eny. Ngalir, gak kerasa bacanya. Lanjut

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP