Review Novel Wigati

Judul buku : Wigati
Penulis : Khilma Anis
Tahun terbit :  Cetakan II Januari, 2018
Penerbit : Telaga Aksara, Jogjakarta
Jumlah halaman : 276 halaman
ISBN : 978-602-60400-9-1



Novel fiksi berjudul Wigati ini dengan apik mampu menuangkan dua hal dari ranah berbeda, kisah cinta dan kisah sejarah Jawa, ditambah bumbu drama pergulatan batin. Seorang gadis remaja Jawa sebagai seorang santri putri di sebuah pondok pesantren salafi yang bernuansa wingit dan kuno.

Kehidupan sehari-hari para santri di sebuah pesantren salaf, saat mengaji kitab, hafalan surat, memasak di dapur umum, mencuci di sumur, bahkan saat takziran atau hukuman, dan pengajian akbar dalam rangka hari lahir pondok dikisahkan dengan alami dan detail. Pembaca dibuat seolah-olah berada di dalam lingkungan pondok pesantren.

Buku karangan Khilma Anis ini berkisah tentang Wigati, seorang santri perempuan yang memiliki kelebihan berupa kemapuan berkomunikasi dengan makhluk astral. Ia memiliki kepribadian tertutup dan pendiam. Sudut pandang cerita diambil dari tokoh kedua yaitu sahabat dekatnya yang bernama Lintang Manik Woro (Manik).

Wigati yang pendiam dan tertutup ternyata memiliki masa lalu yang kelam. Kelahirannya tidak diterima oleh ayah kandungnya sendiri. Ia kemudian memilih mondok di pelosok Mojokerto untuk menenangkan diri.

Hanya Manik yang bisa menjadi sahabat Wigati karena keberanian dan kepeduliannya akan kisah hidup Wigati. Kedatangan keris peninggalan kakeknya bernama keris Cundrik Arum menjadikan Wigati mencari ayah kandungnya. Hal itu pula yang mempertemukan Manik dengan Hidayat Jati (Jati) sang pengemban amanah.


"Amanat kakekmu yaitu mempertemukanmu dengan pemilik keris Kiai Rajamala. Mempertemukanmu dengan ayah kandungmu." (Hal. 76)

Setting kota-kota di Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah tergambar dengan rinci dalam novel ini. Saat Jati mengunjungi Manik di Pringgolayan, Jogjakarta untuk meminta bantuan membawa Wigati menemui bapaknya di Ponorogo. Atau perjalanan Jati dan Manik saat mencari Wigati yang menghilang pada malam pengajian akbar, dimulai dari terminal Madiun, kaki gunung Merbabu, dan bukit di pelosok Salatiga. Juga perjalanan Jati, Manik, dan Wigati dari Salatiga ke Probolinggo tergambar secara rapi dan teratur. Pembaca diajak mengenali suatu daerah yang dilewati dalam perjalanan tersebut.

Bumbu romantisme juga disajikan dengan manis dan bikin baper dalam kisah ini. .

Setiap percakapan, mereka isi dengan saling bertukar ilmu pengetahuan tentang sejarah. Seperti kisah perang bubat, sejarah keris, makna nikah siri, kehidupan santri, hingga filosofi hidup. Dan ini yang paling saya suka dari novel ini. Setiap kalimat mampu menyajikan pengetahuan sejarah Jawa yang tidak banyak diketahui orang umum.  Khilma Anis memiliki pengetahuan yang begitu komplit tentang Jawa. Saya dibuat geleng-geleng.


Saat Jati merasa gagal menjalankan amanah mempertemukan Wigati dengan ayah kandungnya, ia justru mendapati dirinya ingin menjadikan Manik sebagai istrinya.

"Melanjutkan perjalanan ini, Manik. Aku mau menikah sama kamu, ngerti mboten?" (Hal. 228). Ini percakapan Jati yang bijin saya ikut merasakan debarannya. Hehe..

Diantara kisah roman Jati dan Manik, dengan pertemuan Wigati dan ayah kandungnya beserta dua keris peninggalan tersebut, Khilma Anis tega sekali membuat ending yang bikin hati sakit, yaitu kedua insan yang saling jatuh cinta itu tidak bersatu dan menyisakan luka untuk Manik. 

Meskipun endingnya sakit, tapi Khilma Anis menyajikan ending yang bagus. Bagus dalam artian itu memang harus dilakukan karena Wigati memang si pemeran utama di sini. 

Whatever... Khilma Anis mampu membuat saya jejeritan membaca novelnya. 

Harus baca. Hehe

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP