Dijodohkan part 15

#DIJODOHKAN
Part 15

POV Sonya

"Hai, kamu sudah sadar?" 
Suara itu menyadarkanku jika aku sedang berada di tempat yang asing. Pelan kubuka mata dan mendapati bayangan serba putih di sekitar meskipun masih samar kulihat. Bau obat-obatan semerbak menerpa indra penciuman yang semakin membuat kepalaku pening. 

"Kamu tak sadarkan diri dari kemarin." Seorang berwajah asing mendekatiku sambil mengatur sesuatu di atas kepalaku. Selang infus?

"Di mana ini?"

"Kau pingsan di taman kota dalam keadaan menyedihkan. Dan seseorang membawamu ke sini," jawab pria berkacamata yang sekarang berdiri tepat di samping brangkas. 

Aku mengerjab, mengingat bahwa aku memang lari dari rumah dengan hati terluka, kecewa dan rasa sakit di tubuh bagian bawah. 

Tiba-tiba tangisku tumpah, mengingat perlakuan Bang Alvin kemarin. Memang itu haknya, tapi aku benci karena dia melakukannya dengan marah, seperti hewan, tanpa belas kasih, tanpa cinta. Dan aku sangat kecewa. Sejak itu, aku membencinya.

"Tak apa, menangislah, itu akan membuatmu lebih baik." Dokter ini masih menungguku sambil menatap kasihan.

"Aku ingin pulang!" ucapku sambil mengusap mataku kasar. Sejak kapan aku membiarkan orang lain melihat air mataku?

"Oke, kamu memang sudah lebih baik secara fisik, kamu hanya sedikit shock. Di mana alamatmu? Pihak rumah sakit akan mengantar." Aku tersadar, harus ke mana aku pulang? Aku tak mungkin ke rumah mama atau ayahku. Bang Alvin akan mudah menemukanku di sana. 

Aku tak membawa ponsel karena dibawa Bang Alvin kemarin, dan aku tak hafal nomer siapapun. 

"Di mana koperku?" Sepertinya aku membawa satu koper berisi pakaian dan sebuah tas kecil.

"Orang yang mengantarmu tak membawa apapun." Ah, Jakarta. Pasti ada yang mengambil tas dan koperku saat aku tak sadarkan diri. 

Oke fix, aku seperti gelandangan sekarang, tanpa bisa menghubungi siapapun.

"Apa kamu pendatang?" Pria berkacamata itu masih lekat memandangku karena segala yang dia tanyakan tak satupun kujawab. Harus kujawab apa dokter ini? Oh, dia dokterkan 

"Dokter, apa anda mengenal seorang dokter bernama Dimas?" Siapa tahu mereka saling kenal, kan? Dan sepertinya hanya Dimas yang bisa membantuku sekarang.

"Dimas?" 

"Oh, maksudku Arya. Dimas Arya Narendra." Aku tak tahu Dimas dikenal dengan nama apa oleh teman-temannya. Tapi aku sangat berharap dokter tampan ini salah satu teman adik iparku itu.

"Oh, Dokter Arya. Kami mengambil specialis yang sama. Kamu mengenalnya?" Aku mengangguk.

"Boleh saya meminjam ponsel anda, Dokter?"

****

"Pulanglah, Nay!"

Dimas melihatku yang sedari tadi terisak di atas brangkas. Ada kebimbangan setelah dia bercerita keadaan mama dan Bang Alvin. Juga cerita tentang Rania yang sepenggal. Ini begitu rumit.

"Biarkan aku menghilang sekejap saja, aku butuh waktu untuk menyendiri. Begitupun Bang Alvin. Setelah ini kami harus memutuskan untuk tetap bersama atau ... pisah." Dimas menatapku. Ada sorot mata yang tak bisa kuartikan. 

"Kau harus bahagia, Nay! Dan, saat kau butuh seseorang untuk membahagiakanmu. Ada aku yang selalu siap." Kuangkat kepala dengan cepat. Menatap wajah Dimas sekali lagi. Apa maksud perkataannya?

"Kau tahu, Nay! Aku melepasmu karena aku berharap kau akan bahagia bersama Abangku." Dimas mengambil tanganku dan menggenggamnya. Aku tak kuasa menolaknya.

"Aku tak pernah menganggapmu sahabat sejak dulu, Nay! Karena kau sudah mencuri hatiku sejak pertama. Sejak kau mengajakku bertemu di restoran dekat kampus setelah aku menolongmu dari keracunan waktu itu. Aku ... aku mencintaimu." Kutarik tanganku dari genggamannya dengan kasar. Melihat matanya yang terluka.

"Maafkan aku, Nay!" Aku beranjak berdiri. Menyeret langkahku hendak keluar ruangan. Dimas mengejarku.

"Nay, kau mau ke mana?" 

"Penghianat. Seharusnya aku tak meminta bantuanmu." Entah mengapa aku terluka. Aku seperti sedang dihianati seluruh keluarga ini. Bang Alvin, Mama juga Dimas. 

"Nay, kau tak bisa keluar rumah sakit dengan pakaian itu." Kuhentikan langkahku. Melihat baju yang kukenakan. Ini baju pasien, dan aku butuh sepasang baju baru.

"Belikan aku baju dan antarkan aku ke bandara!" Dimas tersenyum geli dan mengangguk. Wajahku memanas karena malu, tapi aku mencoba cuek dan kembali memasuki ruangan. Membiarkan Dimas mengambil jaketnya dan berlari keluar sembari berujar, "tunggu aku 20 menit saja!"

***
Di dalam perjalanan menuju bandara, aku katakan padanya aku ingin ke rumah kakek nenekku di Jogja. Aku ingin keluar dari Jakarta. Menikmati keindahan Jogja karena aku sudah lama sekali tak menengok mereka. 

Dimas kekeh ingin mengantarkanku ke Jogja, dia memaksa. Tapi akhirnya setuju membiarkanku berangkat sendiri dengan syarat memberitahu alamat di Jogja. 

"Nay...!"

"Jangan mulai, Dimas! Aku tak suka kamu bicara begitu, aku seperti dihianati sahabatku sendiri."

"Tapi kau memang terlalu bodoh, Nayala. Tak pernah menyadari seorang pria yang selalu memperhatikanmu menaruh perasaan padamu." ucapnya yang diakhiri tawa. Tawa garing yang penuh luka. 

Aku menunduk. Tak berani menatapnya atau menjawab apa yang dia katakan.

"Maafkan aku. Aku tak pernah menyadarinya. Karena sejak aku tahu Bang Alvin, aku tak bisa mengisi hatiku untuk siapapun. Maafkan aku!" Sedih rasanya mengingat kenyataan bahwa aku melukai perasaan pria sangat baik ini demi kakaknya yang tak pernah menerimaku. 

"Hei, ayolah Nay, kita tetap sahabat. Ini tak mengubah apapun. Meskipun tadinya aku berniat akan merebutmu dari Abangku jika dia masih menyakitimu dan mengabaikanmu. Tapi sekarang aku tahu, dia membutuhkanmu. Aku melihat betapa Abangku itu teramat frustasi mencarimu. Dia ... membutuhkanmu, Nay. Bang Alvin mencintaimu." Dimas menghentikan mobilnya karena lampu merah. Dan dia menatapku, meyakinkanku bahwa apa yang dia ucapkan adalah sungguh-sungguh.

"Pulanglah, Nay! Bang Alvin seperti orang gila mencari istrinya." Aku menunduk. Ada rasa hangat menjalari hatiku menyebar ke seluruh tubuh hingga mataku. Aku ingin kembali, tapi aku butuh waktu untuk berpikir.

"Aku janji tak akan lama di Jogja. Jangan bilang Bang Alvin, mama, atau siapapun ya! Aku tak akan lama. Aku ... ingin merasa sekaliiii saja dia merindukanku." Kemudian aku tersenyum. Arya mengangguk memahami inginku.

Mobil berhenti. Kami sudah sampai bandara. Dimas menemaniku membeli tiket sampai aku melangkah pergi meninggalkannya di koridor bandara khusus penumpang. 

"Sekarang, kau harus menemukan seorang gadis yang tepat, yang baik dan mencintaimu." Ucapku sebelum kami berpisah.

"Tenang. Aku sudah menemukannya." Aku terbelalak.

"Oh ya? Siapa?" 

"Rahasia dong!" 

"Apa dia mencintaimu? Ehm...maksudku..."

"Aku tahu, kalau sebelumnya aku melepaskan cinta pertamaku, untuk kali ini, aku tak akan melepaskannya. Aku akan berjuang mendapatkannya."

"Wow, keren! Selamat berjuang ya!" Aku menepuk bahunya dan menjabat tangannya memberi selamat sekaligus pamit, karena panggilan untuk penumpang tujuan Jogja sudah terdengar.

***

POV Arya

Di dalam mobil aku mencoba tak banyak bicara. Membiarkan gadis di sampingku terisak begitu lama. Mata sembabnya masih bisa kulihat jelas meski sudah malam begini. 

Setelah menjelaskan semua pada mama, aku dan Bang Alvin tadi, aku tak mungkin membiarkan dia pulang dalam keadaan kacau begini malam-malam pula.

Rania menyeka matanya lagi dengan tisu di dashboard. Kemudian berdehem seperti menyadari bahwa dari tadi kami hanya saling diam. 

Diikat rambutnya yang dari tadi terurai. Aku menatapnya. Gadis ini memang sangat cantik, pantas Bang Alvin tergila-gila dengannya. Rambutnya ikal legam dan panjang bak model shampoo, lehernya jenjang yang sangat pas dengan postur tubuhnya. Dan hidung itu? Ah, Tuhan begitu pintar menempatkan hidung itu di sana dengan wajah oval dan mata yang bulat indah. 

Aku tak pernah mengagumi seorang wanita sejak hatiku terpaut oleh Nayala. Aku mencintai Nayala juga sama sekali bukan karena fisik, aku mencintainya karena hatinya yang seperti baja dan pribadinya yang menyenangkan. 

Tapi kali ini, secara fisik, gadis di sebelahku memang mengagumkan.

Kalau Nayala berkulit hitam manis dengan kerudung dan gaya fashionnya yang menarik dan pas, Rania memiliki gaya pakaian yang kasual dengan selalu mengenakan celana kain ala kantoran atau rok selutut yang fit di kakinya. Seperti rok kantoran. Dia memang sekretaris sebuah perusahaan swasta yang berkembang di Jakarta. Maka apa yang dikenakan mempresentasikan apa pekerjaannya. 

Kalau Nayala berkerudung simpel, Rania lebih suka membiarkan rambutnya tergerai, atau menguncirnya ke belakang dan memamerkan leher jenjangnya. 

Pribadi mereka juga sangat berbeda. Rania tegas dan kuat, mungkin karena dia hidup sendiri, dia mandiri.  Sedang Nayala adalah wanita lembut dengan tekad baja meski kadang masih menyisakan sifatnya yang manja.  

"Kita ke mana ini?" Rania membuka suara. Masih serak oleh sisa tangis.

"Kamu tahu? Sudah 5 kali aku berputar-putar di jalan ini. Menunggumu selesai dengan tangismu."

****
BERSAMBUNG
Next part pengen partnya siapa hayo?
Alvin, Sonya, Arya apa Rania? Atau mama Alvin/Arya? Pilihan terbanyak, akan dieksekusi akan up segera...





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP