dijodohkan part 16

DIJODOHKAN
part 16
#DIJODOHKAN16
Kolab #BintangYulia

Pov Sonya/Nayala


Jogja selalu sukses mendatangkan memori dan kesan mendalam di benak siapa saja. Energi kuat daerah istimewa ini mampu membius setiap pendatang atau penduduk aslinya untuk tetap tinggal dan tak ingin beranjak. Kemisteriusannya menciptakan gelora magic yang tak tampak mata. 

Desa Wisata Candran merupakan sebuah desa wisata bernuansa alam pertanian tradisional. Ayahku dilahirkan di sini dari orang tua hebat seperti kedua mbahku yang mendidiknya dengan tegas sekaligus manis. Ayah dikenalkan sejak masih dalam kandungan bagaimana menjadi petani, setidaknya petani mandiri untuk kebutuhan keluarganya sendiri, begitu cerita mbahku. 

Jiwa bertanamnya memang didapat dari lingkungan kecilnya yang sangat menjunjung tinggi pertanian sehat dengan pola kuno tanpa pestisida dan semua dari alam. 

Meskipun ayah seorang pengusaha, tapi dunianya adalah bertani. Rumah kami di Jakarta bisa begitu asri dan sejuk karena tangan dingin ayah. 

Kubuka jendela kamar dan menghirup udara seusai subuh dengan khidmad. Aku bersyukur berada di sini, karena pemandangan yang begitu menakjubkan bisa kulihat dengan damai yang sanggup menghilangkan penat dan segala keresahan yang mengganggu. Aku suka berada di sini.

Melihat rutinitas para penduduk lokal memiliki sisi sentimentil tersendiri buatku. Pagi-pagi sekali penduduk terlihat bersemangat memenuhi jalanan makadam untuk pergi ke sawah atau ladang dan rame-rame menggarap sawah mereka. Kebersamaan dan kekeluargaan yang mendamaikan. Melihatnya, aku sudah merasa menjadi bagian dari mereka. 

Belum lagi pemandangan indah desa dengan hamparan sawah yang bisa kunikmati sewaktu-waktu dari balik jendela. Mahakarya Tuhan dengan segala kebesaran-Nya.

Desa wisata ini bahkan terkenal sebagai kampung tani internasional. Banyak turis asing yang senang megunjungi desa wisata yang sebagian besar warganya merupakan petani dan peternak ini

Keluarga kami hampir setiap tahun bertandang. Kami sering menghabiskan masa libur lebaran di sini dan enggan beranjak ke manapun. Kami cukup di rumah dan berjalan di sekitar rumah dengan jalanan yang belum diaspal dan pegunungan yang asri. 

Satu lagi yang menarik dari Desa Wisata Candran ini adalah keberadaan sebuah museum yang menyimpan berbagai peralatan tani tradisional seperti luku, garu, singkal, kejen, sambilan, lading dan caping serta berbagai peralatan pertanian tradisional lainnya. Masa kecilku dulu, ayah sering mengajakku mengunjungi museum dan menceritakan hal apa saja yang berhubungan dengan apa yang menjadi koleksi museum desa.

Siapapun akan sangat senang bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi petani tradisional di Desa Wisata Candran yang berada di dusun Mandingan, kelurahan Kebonagung, kecamatan Imogiri, Bantul ini.

Kunyalakan HP yang tergeletak di atas nakas sejak semalam. Ini HP pemberian Dimas, eh... Maksudku Arya karean tahu HPku tak bersamaku.

"Bawalah, kau akan membutuhkannya nanti," paksanya ketika di bandara waktu itu setelah aku menolaknya, toh aku sedang tak ingin dihubungi dan menghubungi siapapun. Tapi Arya memang tak bisa ditolak. 

Ada beberapa pesan darinya. Memang saat ini hanya dia yang tahu nomer baruku.

[Nay, kirim alamatmu di Jogja!] Ah ya, aku lupa telah berjanji akan mengirimkan alamat rumah embah.

Kukirim lokasiku dan meletakkan HP kembali. Beranjak meninggalkan kamar dan menemui embah putri di dapur.

Rumah kuno ini begitu besar. Terdiri dari rumah utama yang terletak di bangunan depan yang menjadi kediaman kedua embahku dan 5 kamar untuk kamar embah juga ke tiga putra embah saat berkumpul dan satu lagi untuk kamar cucunya yang saat ini kutemoati atau cucu yang lain dari pakde atau paklikku yang sedang ingin bertandang di sini. Ada ruang tamu dan ruang tengah yang dipisahkan satir yang terbuat dari kayu jati dengan lubang-lubang yang banyak. 

Masuk ke dalam ada aula besar berbentuk joglo yang biasa dipakai mbah kung bercengkrama dengan para putra, cucu dan anak-anak angkatnya juga rewang atau pembantunya yang sudah mengabdi untuk mbah kung sekian lama. Bagian kanan dan kiri aula ada belasan kamar yang berderet terbuat dari kayu jati tua. Di sana telah ditempati beberapa abdi mbah kung yang beranak pinak. Ada sekitar 15 keluarga kecil yang tinggal dan hidup di sini. Maka rumah ini tak pernah sepi.

Di bagian belakang aula ada lorong pemisah aula joglo dengan dapur dan gudang. Di samping kanan kiri lorong yang terbuka itu, ada taman tak seberapa luas yang ditumbuhi berbagai tumbuhan sayur dan bumbu-bumbu dalam pollibag. Ada semacam rak yang terbuat dari bambu yang dibuat bersusun dan melingkar dengan dipenuhi banyak pollibag yang ditanami aneka sayur yang subur.

Di sini adalah tempat favoritku.

Kediaman orang tua ayahku ini seperti negara di dalam negara. Hehe...

Di dapur sudah ramai, mbah putri duduk di depan kompor yang terbuat dari tanah liat dengan bahan bakar kayu sedang menggoreng kopi. Sedang beberapa wanita abdi embah sedang menyiapkan makanan untuk sarapan. 

Semua menyapaku. Aku jongkok di samping mbah putri.

"Sonya bantu apa, Mbak?" Mbah putri menatapku dan mengelus kepalaku.

"Ndek dapur sini bukan mbah putri yang berkuasa, tuh...tanya mbak Likah. Dia kokinya di sini," ucap mbah putri sambil menunjuk seorang wanita 40an yang sedang menumis bumbu yang harumnya semerbak. 

"Mbak Sonya istirahat saja, pasti masih capek baru semalam datang. Monggo, istirahat mawon!" ucapnya sambil tersenyum ramah.

"Lagian ndak ada yang bisa dikerjakan lagi kok, Mbak, semua sudah ada bagiannya. Hehe..." sambungnya sembari menunjuk semua wanita yang sudah memegang bagiannya masing-masing.  Ada yang mengupas bawang, melembutkan bumbu, menyiapkan sayuran, ada juga yang membuatkan kopi untuk bapak-bapak yang sudah siap bertani. 

"Ya udah, Sonya duduk saja, sambil menunggu ada kerjaan datang. Siapa tahu tenaga Sonya masih laku," ucapku asal sambil menghempaskan pantat di sebuah kursi panjang yang terbuat dari bambu.  Semua tertawa mendengar selorohku.

***

[Maaf, kuberikan alamatmu ke Bang Alvin! Tak tega melihatnya kalut begitu. Hadapi! Kalau kamu menghindar, maka jangan menyesal jika aku mengambil alih posisinya, meski dengan memaksa.] 

Pesan Arya membuatku beku di tempat. Ada puluhan telpon dari nomer yang kuyakini itu nomer Bang Alvin. Juga chat yang masuk dari nomer yang sama.

[Sonya, maafkan aku!]

Aku mulai terisak

[Beri aku kesempatan!]

[Akan kuperbaiki semua!]

[Jangan pergi! Kumohon!]

[Sonya, angkat telponmu!]

[Kumohon!]

[Please!!!!]

[Sonya Nayala Dirgantari!!!]

[Bicaralah!]

[Maafkan aku, aku tahu aku pengecut!]

[Sonya, istriku...!]

[Aku gila mencarimu!]

Dadaku sesak dan tangisan keras lolos dari bibirku. Biar saja ada yang mendengar tangisku, aku tak perduli. Aku merindukan pria ini. Tapi rasanya berat mempercayainya.

[Arya barusan memberi alamatmu, thanks God! Tunggu aku! Aku akan menjemputmu. Jangan ke mana-mana!]

Aku masih belum percaya, benarkah ini pesan Bang Alvin? Aku seperti membaca pesan dari seorang pria yang sedang tergila-gila. Tapi bukankah Bang Alvin tak pernah mencintaiku?

HPku berdering, aku berjingkat. Dari Bang Alvin, aku bimbang. Apa yang akan kuucapkan nanti? Aku takut hanya bisa terisak saat mendengar suaranya. Karena aku merindukannya. 

Mati, kemudian disusul rentetan pesan lainnya.

[Mengapa tak kau angkat, Sonya? Aku tahu kamu online. Apa kau masih marah?]

Aku membencimu, Bang! 

Aku juga benci mengapa hati ini seakan tak berdaya? Mengapa rindu ini tak bisa ditahan saja?

[Oke, tak apa jika kau masih marah, Sonya. Tapi aku akan datang. Menjemputmu, istriku. Karena aku membutuhkanmu. Nantikan aku. Kumohon jangan pergi ke mana-mana sampai aku datang!]

Dan akhirnya aku hanya bisa menghempaskan tubuh di atas tempat tidur dan meredamkan suara tangisku di dalam bantal yang sudah basah.

****

Maghrib berkumandang. Aku menyelesaikan salatku dengan tidak tenang. Harusnya Bang Alvin sudah datang jika dia berangkat pagi tadi. Tapi sampai maghrib begini tak ada tanda-tanda kedatangannya. 

Aku tersenyum sendiri.  Harusnya aku tahu, dia takkan datang. Pesannya tadi hanya palsu. Atau bisa saja itu Arya atau mama yang menulis. 

Dengan marah kulempar sajadah di atas kasur. Aku tak akan menunggunya. Aku akan tidur setelah ini karena aku lelah, mataku lelah oleh tangis sepanjang hari ini. 

Bang Alvin menjemput? Hah, jangan mimpi, Sonya!

****

Sentuhan halus di lengan membangunkanku. Kudapati wajah mbah putri menatapku. 

"Nduk, suamimu datang. Sendiri!" Aku terbelalak. Menyahut jilbab instan dan bangkit menuju ruang tamu, yang diikuti mbah putri. 

Sampai ruang tamu, masih kosong. Aku menoleh pada mbah putri. 

"Itu mobilnya baru berhenti di halaman. Tapi mbah tahu, itu suamimu. Bukakan pintunya! Kamu sudah menunggunya dari tadi, to?" Ah embah, aku malu! Tapi mbah mengangguk membuatku yakin untuk membukanya. 

Kutunggu ketokannya. Dia takkan bisa melihatku dari luar karena ruang tamu dan hampir semua ruang dalam sudah padam. Benar saja. Ini sudah tengah malam. 

Dengan berdebar aku melangkah dan membukakan pintu untuknya, sekuat tenaga kutahan air mataku untuk tidak menetes.

"Hai...!" sapanya dengan nada suara yang exited. Aku terdiam kaku. Mencoba menahan agar tidak menghambur di peluknya.

"Maaf, aku datang tengah malam, aku tadi tersesat berkali-kali." Senyum itu, baru kali ini kulihat senyum itu yang tunjukkan untukku. 

"Aku boleh masuk?" Aku tersadar, ternyata dari tadi kami hanya berdiri di ambang pintu dengan saling tatap.

Aku balik kanan dan berjalan mendahului Bang Alvin. 

Tapi aku terhenyak, tiba-tiba Bang Alvin memelukku dari belakang. Aku berdiri kaku, tapi kaki ini rasanya lemas tak bertulang.

"Maafkan aku, Sonya! Jangan tinggalkan aku. Aku merindukanmu!" Air mata akhirnya tak bisa kubendung lagi. Bahuku bergetar, isakku terdengar dan debaran jantungku berpacu kencang. Pelukan ini, begitu kudamba. Tapi, entah...hatiku menolak. Bukankah aku membencinya?

Kucoba melepaskan pelukannya. Tapi dia mendekapku semakin erat.

"Kumohon, jangan lepaskan! Jangan pergi lagi. Aku...aku mencintaimu, Sonya!" 

"Itu bukan cinta, Bang! Abang hanya merasa bersalah, mungkin?" Akhirnya aku bisa mengucapkan sesuatu.

"Tidak, aku sudah mencintaimu, Sonya. Sejak kau dekat dengan Arya, saat di rumah mama, aku sudah mencintaimu, tapi aku naif mengakuinya. Dan aku cemburu saat kau bersama Arya. Malam naas itu. Aku...aku melakukannya karena aku merasa cemburu kau datang dengan Arya padahal aku mencarimu. Maafkan aku!" 

Bang Alvin membalikkan tubuhku. Ruang ini gelap, hanya diterangi bias cahaya dari lampu luar, tapi aku bisa melihat wajahnya. Wajah itu merah dengan bagian kumis dan sekitar wajahnya yang membiru seperti baru saja dicukur. 

Ya Tuhan, wajah tampan ini. Aku merindukannya. 

"Percayalah, Sonya! Aku sudah jatuh cinta padamu. Aku bahkan sudah tak perduli dengan Rania. Di sini, hanya ada kau. Istriku!" ucapnya menunjuk dada bidangnya.

Aku bergetar. Kututup wajahku dengan kedua telapak tangan dan menangis tak teekendali. Rasanya baru kali ini dia berbicara dengan tatapan penuh cinta dan kerinduan untukku. Aku seperti tak percaya. 

Dipeluknya lagi tubuhku. Tangannya meraih kepalaku untuk ditempelkan di dadanya sambil berkali-kali berbisik, "Maafkan aku, please, aku mencintaimu!" 

Ah, dada ini...

Dada terhangat yang akan menjadi tempat keluh kesahku mulai saat ini. 

****

BERSAMBUNG

Next BintangJingga ya...

Gimana? Ikut baper baca adegan Alvin dan Sonya?






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP