Thank You, Sania part 5 (end)

THANK YOU
#TY5

Part 5 (end)

Pukul 19.34. 
Rasanya jam segini tidak terlalu sorekan jika aku sudah sampai di halaman rumahnya? Halamannya yang apik sudah mulai tertutupi gelap malam. Tapi cukup menyita konsentrasiku dengan banyaknya tanaman sayur yang di beberapa blok suda siap panen, dan di beberapa blok lain yang baru muncul tunasnya. 

Aroma sejuk juga masih bisa kurasakan saat kucoba menghirup nafas sebanyak-banyaknya untuk menghalau kegugupan di hati.  

Kucoba mengetuk pintu rumah. Rumah ini bukan seperti rumah yang baru dibangun atau baru dibeli. Bukannya Sania pendatang baru? Bukannya dia pindah sekolah ke sekolahku karena dia juga baru di kota ini? Tapi mengapa halaman dan tanaman ini sama sekali tak menampakkan pemiliknya adalah pendatang baru. Ah, aku akan tanyakan ke Sania nanti.

Pintu dibuka. Senyum ibunya menyapaku. Aku ikut tersenyum dan mencium tangan beliau. 

"Nak Dewa, to? Ayo masuk sini." Aku melangkah masuk dan duduk di kursi yang terdekat dengan posisi kursi si empunya rumah.

"Sanianya ada, Bu?" tanyaku sambil menggeser posisi dudukku. Ibunya sudah duduk di ujung.

"Ada, Sania sudah tahukan kalau Nak Dewa mau ke sini?" Aku mengangguk pasti.

"Hai Wa!" Sania muncul dengan wajah ceria dengan membiarkan rambutnya tergerai indah. Aku terpesona. Dia tak pernah menggerai rambutnya saat sekolah.
 
Aku tersenyum bingung dan tiba-tiba semua yang ingin aku ungkapkan ke Sania seperti menghilang bagai debu berterbangan.
Grogi, aku menatap Sania dan ibunya bergantian.  

"Ya sudah, Nak Dewa, ibu masuk dulu ya!"
Wanita 40 an itu masuk ke dalam dengan meninggalkan sebuah senyum untukku.

"Duduklah, Sania. Mengapa berdiri di situ?" Kucoba menghilangkan rasa grogi dengan membuat gurauan garing yang baru saja kulontarkan.

"Ada perlu apa kamu ke sini, Wa?" Sania bertanya dengan tetap menampakkan senyum termanisnya.

"Libur tiga hari ini membuatku ingin melihatmu, San." Sania menatapku sekilas dan mengubah ekspresi wajahnya lebih datar. 

"Aku, ingin menagih jawabanmu, San." 
Sania terdiam, menatapku lekat dengan sorot mata yang sulit kuartikan.

"Kamu pikir aku akan tega menghianati Eva, begitu Wa?" Tanyanya yang jujur telah kupikirkan juga sebenarnya.

"Aku akan meninggalkannya, aku janji. Aku hanya memilihmu, San." 

"Dan kamu juga akan meninggalkanku dengan mudah, seperti kamu meninggalkan Eva saat ini."

"Kamu beda, San. Aku tak pernah merasakn yang seperti aku rasakan ini. Aku akan setia untuk kali ini." Ah, mengapa sulit sekali meyakinkan gadis ini. 

"Boleh aku bercerita sesuatu padamu, Wa?" Aku melihatnya heran, cerita? Tapi kuanggukkan juga kepalaku.

"Kau tahu, mengapa aku pindah sekolah di sini? Mengikuti orang tuaku di sini?" Aku menggeleng. Oh iya, aku memang ingin menanyakan mengapa dia pindah sekolah.

"Awalnya aku tinggal di Padang bersama kakek dan nenekku. Aku gadis yang lugu, tak banyak berulah. Dingin dan tak pintar bergaul. Kemudian seorang teman cowok mendekatiku. Dia kapten basket yang diidolakan semua gadis seantero sekolah persis seperti kamu."

Ada helaan yang berat lolos dari mulutnya.

"Akhirnya aku tergoda dengan kegigihannya ingin mendekatiku. Dan dia sukses mendapatkan hatiku.  Kau tahu, aku gadis polos dan begitu bahagia ditembak seorang kapten basket." Diam sejenak.

"Tapi ternyata, dia hanya menjadikanku taruhan. Aku hanya gadis polos dan tolol yang dijadiakn objek taruhan teman-temannya.

Itu adalah cinta pertamaku dan aku tak sanggup menanggung luka yang terlalu dalam, aku gadis rapuh.

Aku menjadi bahan olokan seluruh sekolah, seorang gadis bodoh yang mimpi dipacari kapten basket." Sania menagis. Sesuatu yang tak pernah kulihat.

Dan, aku ingin pergi. Aku tak ingin berada di sana. Aku ingin pindah. Aku terlalu lemah menghadapi masalah masa mudaku.

Dan di sini, kamu datang menawarkan cinta pada hatiku yang tak sepenuhnya sembuh. Kau salah sasaran, Dewa. Aku belum siap untuk itu." Kupandang wajahnya yang basah. Menyerahkan sekotak tisu yang terletak tepat di depanku padanya. 

"Dan bagaimana, nasibku sekarang? Aku tak mungkin mundur, aku tak seperti pria brengsek itu. Aku tulus." Aku masih berusaha meyakinkan.

"Kamu salah mengartikan perasaanmu, Wa. Itu bukan cinta. Itu hanya ketertarikan sesaat."

"Tapi kamu lain, kamu lucu dan menyenangkan. Aku seperti melihat dunia yang baru nan indah saat bersamamu." Sania mulai gemas dengan kegigihanku. 

"Kamu bodoh, Wa. Kamu akan menyesal meninggalkan Eva.  Aku bersumpah."

"San ... beri aku satu bulan lagi dan aku akan membuktikannya padamu."

"Dan aku akan kecewa lagi, karena kamu tak akan memilihku. Kau akan menyadari betapa Eva adalah wanita terbaik." Kami mulai saling bersahutan dengan pendapat kami masing-masinh, saling berdebat dan saling meyakinkan. Tapi akhirnya aku yang diam.

Sania ikut terdiam, menetralkan emosinya.

"Percaya aku deh, kamu tuh cuma sedikit bosan aja kok, kamu masih sangat menyayangi Eva. Aku yakin banget. Kamu nggak pantas bersikap seperti ini. Atau jangan-jangan kamu ada masalah ya sama Eva?" Aku menggeleng, 

"Truss??"
"Aku sudah benar-benar malas memikirkan dia," kataku lemah. Rasanya sia-sia meyakinkannya lagi.

"Ehm...coba aku tanya kamu." Senyumnya mengembang sedikit lain kali ini. 

"Kapan kamu jadian sama Eva?"
"Tiga bulan yang lalu."
"Masih baru gitu lo, Wa. Trus kamu suka Eva dulu karena apanya?" Semangat sekali Sania bertanya. Aku diam, mengingat-ingat apa alasanku dulu nembak Eva.

"Karena dia cantik." Rasanya memang karena itu aku dulu nembak Eva. Wajahnya selintas muncul. Ehm...Eva memang cantik.

"Cuma itu?" Aku masih menerawang yeris mengingat sosok yang semakin lama semakin jelas di bayanganku.

"Dia juga pinter, aktif di segala kegiatan.  Dan meskipun indo, tapi memiliki sikap yang sooan dan anggun."

"Apa yang paling sering bikin kamu rindu dia, Wa?"

"Sikap manjanya. Dia bisa sangat tegas di organisasi, tapi bisa sangat manja denganku. Aku merasa dibutuhkan."

"Trus?"

"Senyumnya juga menawan, aku selalu suka melihatnya tertawa lepas." Entah, aku tiba-tiba sangat ingin bertemu Eva saat ini. 

Dadaku sesak, aku begitu merindukan gadis indo dan baik hati itu yang selalu mengerti apapun sikapku. Dan menerima aku yang brengsek ini.

Kutatap Sania tapi tak sanggup mengatakan apapun.

"Kamu ingin bertemu Eva, Wa?" Aku mengangguk,

"Kamu merindukannya?" Kuanggukkan kepalaku lagi. Sania tersenyum. Senyuman yang mengguyur hatiku. Sejuk sekali.

"Aku tahu, masih sore Wa, belum terlambat. Datangi dia! Eva akan bahagia melihatmu. Dia pasti sudah menunggumu."

Aku beranjak, belum bisa berucap apapun tapi reflek menjabat tangannya.

"Thank you, San.  Kamu membuka mataku."

"Bukan membuka, hanya sedikit membersihkan."

"Apapun,  tapi aku sangat berterimakasih. Jika tidak kau buka, aku akan kehilangan Eva yang luar biasa itu." Sania mengangguk yakin, senyumnya merekah dengan begitu tulus. 

"Oke, aku pamit dulu!"

"He-em, hati-hati ya!!"

"Oh ya, boleh aku tanya sesuatu?"

"Boleh."

"Siapa cowok berkacamata kemarin?" Sania tersenyum dengan wajah merona.

"Dia malaikatku, suatu saat kamu akan tahu. Udah, sana buruan. Eva sudah menunggumu."

Ah, aku tahu dia bahagia. Gadis sebaik dia pasti bahagia. 

"Oh ya, ini tadi aku bawa ini buatmu." Aku meyerahkan sebatang coklat yang kuambil dari jaketku.

"Nggak usah, buat Eva aja!"

"Anggap untuk ungkapan terimakasihku."

"Enggak, Eva aja!"

"Kenapa?"

"Diet!"

Aku terkekeh, dia juga. Badan sekecil itu diet? Matanya sedikit tertutup karena tertawa. Kulihat sekali lagi mata itu. Ya, memang tak ada cinta untukku di sana. Akupun sudah tak menemukan debaran aneh di sini. Menyadari bahwa kami lebih baik berteman saja. 

Aku tersenyum sendiri. Menyadari kebodohanku. 

Kuhidupkan motorku tergesa dan melaju ke kawasan yang sudah sangat kuhafal.

Duh, Eva. Mengapa aku bisa begitu bodoh melupakanmu? 

Kutengok ke belakang.  Sania masih di sana berdiri di depan pagar rumahnya. Sekali kali melambaikan tangannya. Sania yang baik. Thank you, Sania.

****

TAMAT

Nganjuk 2 November 2019













Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP