Terlambat Tapi Berharga, thank you ODOP
Masa-masa ODOP usai. Dua bulan seperti berlalu begitu cepat. Aku memang tak terlalu memforsir tenaga dan pikiran di event ini. Targetku hanya satu. Belajar komitmen menulis tiap hari selama dua bulan untuk diriku sendiri dengan wadah event ini.
Aku jarang sekali BW (Blog Walking) di tulisan anggota yang lain, jarang nyimak group. Aku bahkan sering tertinggal materi dan Ayu Safitri juga Meitanti yang rajin menjawab pertanyaanku saat aku tanya, tema apa minggu ini?
Bedah tulisan di tiap minggunya juga jarang kuikuti. Aku akan baca setelah benar-benar free atau moodku baik di hari berikutnya.
Aku bukannya terlalu sibuk, aku hanya tak pintar memanage waktu dan moodku. Aku terlalu mengejar hal yang remeh temeh dan meninggalkan hal besar. Istilah jawanya 'mburu uceng kelangan deleg'.
Aku hanya ingin menulis tanpa beban selama dua bulan itu. Karena di RWC aku begitu stress dan sangat terbebani dan berat sekali menuangkan ide dalam sebuah tulisan.
Bodoh memang. Aku bodoh. Melawatkan kesempatan selama dua bulan itu dengan sia-sia. Ternyata dengan BW aku bisa mengenal karakter tulisan yang lain dan mencatatnya dalam benak segala pembelajaran yang dapat diambil. Aku juga bisa semakin jeli memahami karakter tulisan dan penulisnya. Dan aku melewati itu.
Penyesalan memang selalu datang di akhir. Aku terlalu mudah puas dengan apa yang kudapat, dengan apa yang kubisa. Padahal Guruku, Bapak Kyai Tanjung tidak seperti itu mengajariku. Aku bukan murid yang baik ternyata.
Di akhir, aku baru terasa kehilangan. Baru menyadari betapa semua anggota memiliki semangat dan tekad yang luar biasa. Sedang aku, biasa-biasa saja. Dari situ, aku tertampar. Aku terlalu lama tertidur.
Pagi ini berniat membaca blog kesan-kesan untuk ODOP. Aku scroll di grup share link yang akhir-akhir ini dipenuhi foto-foto wisuda teman-teman. Dan kutemukan kumpulan link dari grupku. Tokyo. Ada Mas Bri di urutan terbawah. Aku membukanya.
Tulisan itu begitu luar biasa. Aku serasa di hempaskan di dasar bumi terbawah. Membuatku beku dengan isak dan terpekur dalam penyesalan dan kebodohan.
Bagaimana bisa dia mengulas semua karakter tulisan teman-temannya satu grup Tokyo satu-satu dengan analisis yang tepat, tajam dan detail. Sedang aku, tak satupun mengenali gaya bahasa teman-temanku.
Ya Allah...
Dan aku meneruskan membaca yang lain, dengan berderai. Betapa hebat mereka. Peningkatan gaya bahasa dan tulisan mereka yang begitu apik. Sedang aku stagnan. Dan bodohnya, aku sudah merasa puas.
Betapa Tuhan begitu menyayangiku dengan memberi kesempatan membuka hati dan pikiranku atas kekonyolan dan kebodohan ini meski sudah sangat terlambat. Dan aku berjanji akan dengan berkala membaca blog mereka semua satu-satu untuk menebus kebodohanku, menajamkan pemampuan menulisku yang masih remeh temeh tapi kuyakini keren sebelumnya.
Tulisan Bu Anis yang dulu kurasa bukan tipe tulisan yang cocok di hatiku untuk fiksinya. Aku terlalu meremehkannya. Meskipun sama sekali aku tak menganggap semua anggota adalah saingan. Aku tak ingin bersaing dengan siapapun. Tapi, lihatlah betapa bersinarnya Bu Anis. Semangatnya sungguh memukau, tulisannya mampu menciptakan ketegangan pembacanya. Dia begitu lihai memacu adrenalin pembaca dengan cerita horornya.
Dia juga berkomitmen tinggi pantang BU atau bayar utang di tiap harinya. Padahal dia single parent dengan tiga orang anak yang hebat serta kesibukannya di sekolah yang memiliki tanggung jawab besar sebagai pengampu banyak kegiatan. Hebat sekali.
Nio, gadis santun yang kalem itu awalnya merasa minder dengan teman-teman se KOPLING, tapi dia bisa breaking the limits yang sebelumnya dia ciptakan sendiri. Dia hebat. Tapi aku belum tuntas membaca seluruh tulisannya. Setelah ini, aku janji akan membacanya satu persatu. Dia tipe gadis bertekad tinggi. Dia calon penulis hebat. Amin...
ODOP, bukan awal perjalanan menulisku. Tapi di sini adalah awal terbukanya mataku bahwa apa yang aku dapat seumpama air yang menempel pada jari yang kucelupkan di dalam luasnya samudra. Samudra itu yang belum kugali luasnya dan hebatnya pengetahuan yang dicipta Tuhan.
Kata Miss Uun, Seorang inspirator hidupku. Aku terlalu terlena.
Dhawuh Guruku, Bapak Kyai Tanjung. Menyimak, mendengar, membaca adalah bentuk rasa syukur pada Tuhan saat itu dilengkapi dengan kesadaran hamba, kesadaran merasa fekir dan tak bisa aoa-apa untuk meningkatkan potensi tanpa meremehkan karya orang lain, karena jujur sebenarnya adalah mengakui kelebihan orang lain dan mengakui kelemahan diri sendiri. Saat itu dimiliki, maka potensi akan tergali, tanpa adanya ego, keakuan dan ambisi.
Luar biasanya Tuhan menamparku di akhir masa ODOP ini.
Terimakasih Gusti Allah...
Terimakasih Bapak Kyai...
Terimakasih ODOP...
Terimakasih untuk semuanya....
Doakan aku. Itu saja!
Selamat Hari Pahlawan
Mari menjadi pahlawan untuk diri kita masing-masing sebagai awal terciptanya pahlawan-pahlawan lainnya.
Refleksi ODOP
Yulia Tanjung
Nganjuk, 10 Nopember 2019
Hai..tak ada kata terlambat untuk belajar. Semangat lah..
BalasHapus