Fadhli Sang Pujangga
Mamo-Zein, sebuah novel seni terlaris dari Timur Tengah yang ditulis Ramadhan El Bauthy Najida Kailani adalah novel favorit pria dengan nama lengkap Nur Al Fadhli ini.
Dari bacaan yang dipilihnya saja bisa mudah ditebak bahwa pria yang biasa disapa Fadhli ini adalah seseorang yang romantis dan pandai berpujangga.
Yup! Pria ini penggila puisi. Beberapa puisinya bertengger menjadi juara 1, 2, 3 dalam ajang bergengsi tingkat nasional. Bahkan karyanya juga sudah wara-wiri dimuat di redaksi Suara Rakyat dan tulis.me yang bergengsi itu. Keren kan?
Ada sebuah mitos menyebutkan bahwa orang sastra akan sulit menyentuh dunia exact atau ilmu pasti dan sebaliknya, orang yang suka hitung-hitung akan sulit bersajak.
Tapi mitos itu sama sekali tak berlaku bagi pemuda yang dilahirkan 25 tahun silam ini. Terbukti dengan banyaknya karyanya di dunia per-puisi-an tapi dia juga mampu mengajar Matematika di sebuah SMA Swasta di Jakarta.
Nembus komunitas FLP bukan pekara yang mudah. Tapi selama dua tahun Fadhil masuk tim FLP dan membuktikan potensi berliterasinya selama dua tahun di FLP Bogor. Sama sekali tak bisa dianggap enteng.
Pria pendiam dan terkesan penutup ini pernah mengesankan sekali menjadi pemateri kepenulisan puisi di komunitas literasi di kota Nganjuk yang biasa disebut KOPLING.
Banyak yang akhirnya termotifasi menulis puisi berkat materi yang dia sampaikan.
Hobinya saja menulis puisi dan mengidolakan Goenawan Muhammad dan M. Aan Mansyur. Maka tak heran puisi yang dia tulis mampu menghipnotis pembacanya.
Dia memiliki kehidupan mulus sejak kecil, mengenyam pendidikan sampai tuntas yang diakhiri pendidikan formalnya sebagai alumni IPB.
Pria yang 'irit' ngomong ini memiliki pengalaman yang tak bisa dilupakan. Saat SD ada seseorang usil memasukkan sebuah petasan ke dalam kaos dalamnya. Untungnya, petasan itu tidak meledak hanya kaosnya saja yang bolong. Tapi bisa dibayangkan jika petasan itu meledak dalam tubuhnya? Hiii...ngeri ya?
Dari pengalaman itu, Fadhli berharap tak ada lagi orang yang usil yang bermain-main dengan petasan kepada anak kecil karena itu bisa sangat membahayakan.
Ingin mengenal Fadhli lebih lanjut? Langsung hubungi kontaknya, karena cowok macho ini sedang berkelana mencari cinta. Eaaa....
Berikut adalah beberapa puisi keren yang ditulisnya dan memenangkan beberapa penghargaan nasional. Cekidot!!
*Menjahit Keabadian*
/1/
Dari istana berlangitkan rotan, burung-burung mematuk setiap lantai kerikil.
Ulat bulu rajin mampir, menggerogoti dinding, lalu jatuh bersama puing.
Ayam-ayam tak bosan menyenandungkan instrumen paling kumandang, nyaringnya memisahkan jantung dari selembar tikar.
Mereka berangkat, melangkah dari pintu yang karat.
Mencari sekeping receh, sampai pulang telat.
Biar sekujur tubuh patah, asal terbeli sebatang pensil berasah, juga selembar kertas basah.
Mereka takut melukis angan;
bingkai yang sudah.. bangkai.
_Dan sejumlah pengusiran besar,_
_yang menggunting kain-kain mimpi, juga menimpa keluarga kami._
/2/
Dari kolam air mata nestapa, mereka campurkan berbutir peluh payah.
Bekas cucuran badan, yang dikuras terik siang.
Biarlah raga ini saja yang melukis angan.
Sebab kami menggenggam jarum harapan paling runcing,
yang dititip dari jemari-jemari asa mereka.
Agar tiba di ruang pertemuan.
/3/
Kami masih menyimpan bergulung benang pengetahuan,
yang jatuh dari bibir guru-guru kami.
Dibagikannya sehelai demi sehelai, biar tidak putus ditengah pasai.
Supaya dimusim menuai, tak habis bekal penyangga tungkai.
Dibantunya jemari kami menyulam,
supaya jahitan jangan beringsut, biar benang tidak kusut.
Kami adalah penjahit fana.
Pengumpul benang dan pelekat simpul pertemanan.
Kami hanya menjahit keabadian.
Asal tuan jangan memotong benang harapan, atau
menggunting simpul pertemanan,
yang kami kumpulkan dalam ruang pertemuan.
_Kelas-kelas bermandikan ingatan._
Bogor, Desember 2016
N. A. Fadhli
keren ... suka sama puisinya mas pad ... waktu itu kami (anak2 odop) pernah ditantang bikin puisi. Belajar bareng di Warunk Upnormal Tebet, Jakarta. Banyak belajar dari Mas Pad lah waktu itu ...
BalasHapusĶeren puisinya mas Pad. Jadi inget tantangan bikin puisi di odop..^^
BalasHapus