MLM itu...?

Ah, jadi tergoda menulis pengalaman saya ikut MLM gegara membaca seseakun di FB yang sedang ramai.

MLM, tahukan apa itu MLM? 
Mukti Level Marketing

Tergoda ikut MLM baru tahun ini. Tepatnya Mei 2019. 

Dari dulu banyak yang menawarkan berbagai MLM. Tapi sama sekali tidak menggoda. Iming-iming yang ditawarkan justru membuat semakin ogah menjamahnya. Rasanya kok terlalu muluk-muluk janji yang ditawarkan, sedang di keluarga, aku tidak dikenalkan dengan banyak janji-janji. Dan aku takut gagal. Uang sudah keluar tapi hasil tidak sesuai yang kita harapkan. Karena kebanyak seperti itu bisnis MLM itu, kan?

Tapi saat itu, aku sudah banyak baca tentang sistem marketing dari banyak sumber. Aku juga lebih jeli untuk membaca sistem MLM yang baik dan bagus. Aku diajarkan Bapak Kyai tentang membaca sistem MLM yang baik. Salah satunya, jika MLM itu bagus, dia akan berumur panjang. Minimal 5 tahun. Selain itu, MLM yang baik tidak selalu 'memaksa' membernya untuk TuPo atau Tutup Point, MLM yang baik tidak mengizinkan membernya membeli produk dari Upline, tapi langsung dari perusahaan, MLM yang baik memiliki sistem yabg jelas, ada produk yang bisa dijual dan memiliki keterbukaan pada seluruh member tentang bonus yang member bisa dapatkan. Dan yabg terakhir, MLM yang kridible, memiliki komunikasi yang baik di timnya.

Semua sudah aku kantongi, dan di MLM yang aku ikutin ini semua syarat yang aku kantongi terpenuhi semua, ditambah ini bukan money game dan produknya sangat bagus. Aku sudah mencobanya sendiri dan aman. 

Jadilah aku daftar di MLM ini oleh ajakan teman. 

Bulan pertama aku gabung, modalku balik dua kali lipat berkat penjualan yang aku lakukan, dapat bonus lagi. Bulan kedua aku masih bisa menggapai beberapa bonus. 

Aku masih semangat. Ikut beberapa kelas da seminar gratis yang digelar di hotel berbintang dengan makanan dan pelayanan yang memukau. Bahkan leaderku udah udah membuktikan dia benar-benar dapat trip ke luar negeri. 

Aku ingin, tapi tidak terlalu menggebu-gebu. Kujalankan yang aku bisa. Aku tetap promo produk dan pengenalan produk yang aku bisa. Ini kubuat belajar untuk berkomunikasi dan belajar kemampuan menyampaikan ke publik.

Benar kata seseakun yang menulis di FB seorang bapak-bapak itu bahwa MLM selalu mengatakan bisa dijalankan di rumah, waktunya fleksibel bisa kita atur sendiri dan nyantai. Tapi kenyataannya tidak demikian.  

Aku seorang pengajar di sebuah pondok pesantren, aku mencoba mengenalkan produkku pada warga pesantren, banyak yang ikut juga. Tapi hanya sebagai pengguna. Mereka tidak berniat mengembangkan karir dengan mencari downline.  Mereka semua mengakui, priduk ini sangat bagus. Dan sampai saat ini masih terbukti bagus dan aman. I love this product very much. 

Tapi ternyata aku bermasalah dengan manage waktu. Aku jadi sering meninggalkan kegiatan mengajarku dan kegiatan di pondok yang lain, dan banyak yang mulai menyorotiku, serta mengingatkan keprofesionalitasku di sekolah maupun di pondok. 

Aku jadi sering meninggalkan keluarga karena harus prospek ke suatu tempat. 

Tapi aku berkeyakinan, ini mungkin aku yang nggak pinter membagi waktu. Dab terlalu banyak meninggalkan kegiatan pondok yang sudah terjadwal itu sama sekali tidak nyaman. Karena aku berada di wangkon pendidikan pesantren yang semua orang pasti akan menyorotiku saat berkali-kali aku mangkir tidak hadir di kegiatan rutinan. Dan itu tidak nyaman.

Kemudian dua tahun ini aku memutuskan untuk mengurangi segala panggilan dari MLM ini. Aku tetap memakai produknya, kalau ada yang mau beli akan aku orde ke perusahaannya, kalau ada yang tanya akan aku layani dengan baik. 

Tapi aku tak akan prospek downline atau mencari member. Kalau ada yang kenal dan mau gabung tetep aku bantu dan melayani dengan baik. 

Yah, hanya itu saat ini yang aku bisa.
Mungkin suatu saat nanti aku akan berkembang lagi dengan ini, bisa jadi. 

Aku belum mencoba lebih keras untuk saat ini karena keadaan dan waktu yang terbatas. Tapi aku akan mencoba suatu saat nanti.

Tapi, yang bisa aku catat dari pengalamanku dan apa yang ditulis di FB itu adalah. Semua MLM itu pasti memiliki sistem yang berbeda-beda. Tinggal kita jeli memilih. 

MLM yang banyak menebar janji adalah tidak benar. 

MLM yang baik adalah siapa kerja keras dia akan sukses. Itu saja.

So, jangan takut dengan MLM, itu akan mengajarkan kita banyak hal. Jangan takut gagal, karena itu adalah bayaran untuk pembelajaran yang kita peroleh. Experience is the best teacher, kan? Juga the most expensive lesson is the way you fail and you never stop trying.

Benar begitu? You should find your own answer.


Nganjuk. Yulia Tanjung






Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP