THANK YOU, SANIA part 4
THANK YOU
#TY4
Part 4
[Malam ini aku ingin ke rumahmu], tulisku di pesan wa Sania. Terlihat tanda centang warna biru. Tapi dia tak membalas.
Dengan gusar kuletakkan gawai yang dari tadi kupegang. Tak lama ada suara notifikasi. Pasti Sania menjawab.
[Wa, jalan yuk!] Eva mengirimkan pesan. Seperti tahu kekasihnya ini sedang tak memikirkannya.
[Maaf, Yang. Udah terlanjur ada janji besok. Lain kali aja ya!], jawabku tanpa ingin meneruskan chatting.
Meletakkan smartphone dengan hati dongkol dan mencoba terlelap meski hari masih terlalu sore untuk seorang pemuda yang biasa begadang sepertiku.
****
Sania suka membaca. Kuputuskan untuk pergi ke Gramedia untuk membeli satu atau dua buku untuk bekalku ngobrol dengannya malam ini. Dia pasti terkesan jika aku nyambung apa yang dia omongin.
Aku bingung, buku apa yang harus aku baca ya? Sania membaca segala macam buku. Tapi aku tak tahu apa yang paling disukainya.
Kuputuskan untuk berhenti di rak bagian scince. Mengambil satu buku yang menarikku. Membuka dan mulai membacanya. Lumayan, kuputuskan untuk melanjutkan membaca dan duduk bersila di depan rak. Ternyata membaca semenyenangkan ini ya? Baru tahu.
Ini sebuah buku tentang jagad raya, galaxy, planet, bintang dan segala yang ada di sana. Membaca ini, aku jadi merasa kecil sekali. Banyak sekali yang tak kuketahui dan aku terbelalak karena membacanya. Ternyata pengetahuan yang diketahui manusia seperti setetes air dalam samudra. Gila! Tuhan sungguh Maha Besar. Aku bergidik memikirkan itu.
Satu buku tuntas kubaca, dan berniat mengambil lainnya. Kulirik jam tangan dan menyadari waktu sudah siang sekali. Membaca buku 400 halaman tadi menghabiskan waktuku. Aku harus membeli satu atau dua buku.
Kuputuskan mengambil serie lanjutan dari buku tadi. Dua series setelahnya. Rasanya aku menjadi Dewa yang baru. Dewa yang mulai suka membaca. Aku tersenyum geli. Sudah kelas XII dan aku baru sadar pentingnya membaca? Ya ampun ... Kemana saja aku selama ini?
Deg!
Sosok yang teramat aku hapal berdiri di samping rak buku bagian sastra. Tubuhnya disandarkan di sisi samping rak lain. Dia sedang serius membaca. Aku sebenarnya menduga kemungkinan bertemu dengannya di tempat ini karena hobinya itu. Di mana lagi dia mengisi waktu luangnya kalau tidak dengan tumpukan buku.
Duh, hatiku berdenyar seperti ada ribuan semut merayap dari hatiku menjalar ke seluruh tubuh. Manis sekali dia dilihat dari sisi mana saja?
Tunggu! Dia menangis? Diusapnya mata sipit itu dengan ujung lengan bajunya berulang kali. Apa dia menangis karena cerita yang ada di buku yang dia baca?
Ya Tuhan, apa dia tak terbiasa bawa tisu atau saputangan gitu untuk hal-hal seperti ini? Kurogoh saputangan yang ada di kantongku. Dan berjalan menujunya, berniat menyerahkan benda persegi ini.
"Usap matamu!"
Aku berhenti melangkah. Seorang pria dengan kacamata dan bergaya sangat rapi menyerahkan sapu tangan warna hijau tua ke arahnya. Siapa dia?
Sania menerima saputangan itu. Dan mengusap matanya yang memerah. Kemudian sejenak ditatapnya pria itu. Kemudian mengulas senyum yang sedikit terpaksa.
Dadaku tiba-tiba panas. Mengepalkan tangan dan meremas saputangan dengan geram. Apa karena pria ini dia menolakku?
Dituntunnya gadis itu menuju tempat duduk yang berjejer yang terletak di tengah toko. Sania tak menolak. Menutup bukunya yang tadi dia baca.
Pria itu duduk di sebelah Sania, aku mencari posisi yang pas agar bisa melihatnya dan menguping pembicaraan mereka. Siapa sebenarnya pria itu?
Sepertinya dia lebih tua beberapa tahun di atas kami. Perawakannya dewasa dan elegan. Seperti seumuran pria yang mapan.
"Karena aku tak pernah berhasil megajakmu bicara, setiap pesanku juga tak pernah kamu baca, telponku tidak pernah kamu angkat. Jadi maaf aku harus menulis ini padamu." Pria itu mengeluarkan sebuah kertas yang belum dilipat dari buku yang dipegang Sania.
Oh, Sania tadi menangis karena membaca surat itu?
"Mungkin kamu membenciku. Katena memaksamu menerimaku. Tapi, biarkan aku membuktikan bahwa aku pantas untukmu. Aku akan menunggumu sampai kamu siap, Sania. Sampai kapanpun."
Hatiku seperti lepas dari tempatnya. Aku mulai tahu siapa pria itu. Mungkin Sania dipaksa untuk berjodoh dengan pria necis itu. Dan sepertinya Sania tidak menginginkannya.
Hhm... Aku mendapatkan satu simpulan. Bahwa aku akan menjadi pahlawan yang datang untuk membebaskannya dari pria itu.
Setelah membayar buku yang kubeli, aku melangkah mantap menuju rumah. Aku harus mempersiapkan malam ini dengan matang. Bukankah aku akan menjadi seorang pangeran yang akan menyelamatkannya nanti malam? Aku tersenyum sendiri membayangkannya.
****
Bersambung
Komentar
Posting Komentar