Wanitaku
Kau tahu, rasanya jatuh cinta? Semua orang pasti tahu. Tapi yang aku rasakan jatuh cinta yang salah. Aku telah beristri dan mencintai wanita bersuami. Awalnya biasa saja. Perempuan ini terlihat polos atau mungkin bodoh. Terlalu jujur dengan kelemahan yang dia miliki. Sebenarnya risih melihat perempuan yang banyak tanya, banyak omong dan terlihat bodoh seperti dia. Aku sering menjadikannya korban bully di setiap kesempatan. Saat dia banyak tanya atau kadang ngomong yang tidak perlu, aku sering menjawabnya sekalian mengoloknya. Dan dia malah tertawa lepas tanpa beban menjadi korban olokanku. Wanita sepertinya sama sekali bukan tipeku. Apalagi dia pesolek, menyapukan warna merah yang terlalu kentara, juga memakai eye brow dan eye liner. Kata orang itu minimalis, dan cantik tapi aku memang tidak menyukai wanita yang bermake up. Istriku saja selalu kularang memakai make up, dia hanya memoles wajahnya dengan bedak tipis dan warna bibir yang sangat samar terlihat.
Kami sering berinteraksi karena aku adalah pegiat lingkungan dan pertanian mandiri, dan dia salah satu anggota baru yang tiba-tiba ikut-ikutan menjadi pegiat lingkungan. Yang dipahaminya hanya sebatas konsep sedang aku sudah lama praktik langsung. Aku memang tak suka dengan orang yang hanya mampu memahami konsep tanpa praktik atau tanpa membuktikan sendiri. Tapi, aku mencoba untuk menetralkan rasa tak sukaku pada siapapun. Kalau ada orang belajar, aku dengan senang hati menawarkan diri untuk belajar bersama. Memang banyak orang yang sering datang ke tempatku untuk menanyakan banyak hal tentang pertanian. Aku selalu membuka lebar pintu rumah untuk siapa saja yang ingin belajar bersama. Toh aku mendapat ilmu ini juga dari Guruku.
Awalnya dia hanya mengantarkan seseorang yang ingin banyak bertanya tentang pertanian sehat dan mandiri tanpa pestisida buatan, kemudian dia ikut menyimak, mendengar dan bertanya. Aku jengah dengan banyak pertanyaan yang kadang tak penting dari apa yang ditanyakan. Maka kadang aku menjawab ala kadarnya, bahkan jawabanku yang sengaja kubuat tak serius untuk menghina kebodohannya secara tidak langsung. Tapi dia terasa. Kupikir dia akan diam, atau sakit hati, atau malu. Tapi dia hanya tertawa renyah menyadari kebodohannya dan masih tetap selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Semakin aku bully semakin penasaran dia. Aku jadi merasa lucu.
Dia wanita yang ceria, selalu tertawa lepas saat dia ingin tertawa, dibully pun dia tertawa. Aneh. Tapi lama-lama aku ketagihan untuk selalu menggodanya.
"Mas, tumben melamun?"
Kupandangi istriku yang tiba-tiba muncul di balkon samping sambil membawa nampan berisi manisan mangga buatannya sendiri. Aku memang jarang melamun, dia sangat tahu bahwa tak pernah aku membiarkan pikiranku kosong tanpa melakukan apapun.
Aku suka berdiskusi dengan siapapun, atau melakukan apapun yang dapat memberdayakan potensiku, tak membiarkan tubuhku nganggur.
"Cuma sedang mikir dek"
Aku toh tak mungkin menceritakan ke istri yg luar biasa baik seperti dia bahwa aku sedang memikirkan wanita lain.
"La yo kok tumben, seperti sedang jatuh cinta saja" selorohnya yang membuat aku terdiam kaku di tempat. Kulihat dia dengan intens, menelisik matanya yang memancarkan sorot kecewa.
"Saya itu sudah 20 tahun lebih jadi istri mas, perubahan seperti apapun pada diri mas, saya pasti tahu." Sambungnya sambil tersenyum, dan melempar pandangan ke depan menyaksikan tanaman sayuran kami yang semakin hijau dan subur.
"Adek tahu mas lagi jatuh cinta?"
Tanyaku sarkasme.
"Ya tahu lah mas, sama siapa, saya juga tahu." Dia menjawab dengan cengengesan menutupi ekspresi kekecewaannya.
"Kok adek diam?" Aku masih mengejarnya dengan pertanyaan
"Karena saya percaya, mas nggak akan aneh-aneh. Mas ndak mungkin nekat berselingkuh, karena mas itu orang yang berfikir dengan nalar dan logika, mas punya Guru yang dianut, yang pasti mas tidak akan mengkhianati Guru mas, mas punya Tuhan yang mas tahu akan selalu mengawasi mas dan mas takkan sembarangan bersikap."
Aku mengerjap kagum, menopang daguku sembari menatap istriku yang sederhana ini. Mencoba memulihkan hati dan pikiranku.
"Jatuh cinta itu normal kok mas, adek sangat sadar. Apalagi mas itu selalu berinteraksi dengan banyak orang, banyak wanita yang memiliki karakter beda-beda yang pasti membuat mas merasa dapat angin segar. Kan emang kadang kita bosan melihat pasangan kita melulu selama bertahun-tahun. Makanya adek sadar, mas pasti akan merasakan ini suatu saat. Dengan entah siapa. Tapi saya percaya mas suami yang bertanggung jawab atas segala tindakan yang mas lakukan."
Wah, luar biasa sekali pemikiran istriku ini.
"Wih, kamu kok keren to dek?" Ujarku akhirnya sambil memencet hidungnya.
"Kan suamiku yang mengajari berfikir tenang atas segala sesuatu yang tidak mengenakkan hati sekalipun. Dengan fikiran tenang, maka kita akan berfikir logika. Begitu to kata mas biasanya?"
Aku manggut-manggut, dalam hati bersyukur memiliki istri seperti dia.
"Ya wes, sana dek panggil dia. Mas pengen ngobrol sama dia bersama adek, agar mas bisa netralkan perasaan mas ini sama dia."
"Siapa mas?"
"Loh, katanya adek tahu mas sekarang sedang jatuh cinta sama siapa?"
Ada senyum luka, tapi dia mencoba hilangkan. Dan biar saja, aku ingin tahu bagaimana hatiku nanti dan bagaimana hati istriku nanti, juga bagaiman hatinya nanti. Meski aku tak tahu, apa yang dirasakan wanita itu padaku.
Kemudian istriku mengeluarkan gawainya, mengetik sesuatu dan meletakkannya di atas meja di samping manisan yang dia bawa tadi. Kulirik apa yang dikirimkannya kepada wanita itu. Dan tersenyum melihat pesan itu sudah centang hijau di gawainya.
"Mas mau kopi?" Ujarnya kemudian dan beranjak pergi meninggalkan balkon.
"Iya, seperti biasa ya, dan buatkan dia wedang jahe kering racikanmu itu buat dia dek, dia suka itu" jawabku sedikit berteriak.
"Cie...cie... Hapal banget sama kesukaan wanitanya." Jawabnya juga dengan sedikit berteriak dari dapur.
Aku tersenyum. Merasakan debaran yang entah untuk siapa, istriku atau seseorang yang sudah kudengar suara motornya di depan rumahku itu.
Selesai, jangan tanya next ya... Karena ini cerpen.
Yulia Tanjung
Nganjuk, 25 September 2019
Ini cerpen apa cerita bersambung untuk novel, kok puanjang hehehe
BalasHapusCerpen tapi panjang... Hehe
BalasHapusCoba di terusin mbak hehe
BalasHapusBagus mb
BalasHapusNext dong...hihihi...jangan digantung, aq kalau jd istri sahnya pasti bakal cemburu ga karuan itu 😂
BalasHapusSebenarnya masih penasaran
BalasHapusSemangat kak
BalasHapusAduh kok aku ikut sakit ya jadi istrinya. Kelanjutannya dong kak😀
BalasHapus👍😊
BalasHapus👍👍
BalasHapuspintar memanage cemburu
BalasHapusWah. Ada ya wanita seperti itu? 😀 cerita bagus. Salam kenal dari london
BalasHapusWah tapi saya tetap penasaran endingnya jika memang ada. Hehehe
BalasHapusKeren kakak 👍😊
BalasHapus