Sustainable Living

Key words: Basah, Plastik, Macet

Sepertinya panitia ODOP memberi tiga key words di atas untuk menggiring kita-kita nulis tentang persampahan, lingkungan atau global warming. Iya ga sih? Itu prasangkaku ya...

Okey, kalau ini benar, aku ikutin apa yang diharap pada panitia tercinta. Hehehe...

Sedih deh, saat melihat semakin hari semakin banyak sampah plastik yang menumpuk di beberapa daerah di Indonesia. Seperti kita tahu, di tahun 2016 Indonesia tercatat sebagai penghasil sampah terbesar ke dua di dunia setelah Cina. Tahun 2018 Cina berbenah dan Indonesia naik peringkat menjadi negara penghasil sampah nomer satu. Duh, malunya...

Kalau lihat beberapa drama Korea, sering kan kita lihat bahwa sampah di negara itu terkelola dengan sangat baik. Setiap rumah memiliki empat wadah berbeda di depan rumah masing-masing. Sampah plastik, sampah basah, sampah kertas dan sampah B3. Setiap rumah mengelola sampahnya sendiri-sendiri dan bertanggung jawab terhadap sampahnya sendiri. Itu baru okey. Coba tengok di negara kita. Jangankan depan rumah masing-masing yang memiliki 4 wadah untuk memilah sampah, di tempat umum saja yang kadang sudah disediakan 3 kotak sampah berbeda kita tidak membuangnya dengan benar. Bahkan banyak dari kita membuang sampah tidak pada tempatnya. Bahkan ada yang terang-terangan buang sampah di sungai. Pengen nangis deh lihatnya. Setelah itu sungai meluber saat musim hujan karena salurannya macet oleh sampah yang menumpuk, trus banjir ke tempat kita dengan air yang berbau tidak sedap. Kalau sudah begitu teriak-teriak deh ke pemerintah, katanya nggak becus bekerja. Padahal kita sendiri yang buang kan? Di mana urat kemaluan kita sebenarnya?

Sama sekali bukan bermaksud membandingkan dengan negara lain, tapi ya, memang itu kenyataannya.

Sampah harus di kelola dari sumbernya. Mana sumbernya? Rumah tangga kan? Diri kita sendiri. Jika dikelola dari sumbernya artinya setiap rumah sadar dengan lingkungan, sadar bagaimana mengelola sampahnya, bukan petugas kebersihan, pemerintah atau instansi kebersihan yang lain. Tapi dimulai dari kita sendiri. Wong kita yang nyampah, masak orang lain yang urus sampah kita?

Bagaimana harusnya kita mengelola sampah kita? Ada yang belum tahu? Bohong banget kalau ada yang ngaku tidak tahu bagaimana kelola sampah. Pemerintah akhir-akhir ini sering menyeru tentang sustainable living. Yups, dengan 3R. Recycle, Reduse, Reuse. Begitu kira-kira.

Dengan sistem sustainable living yaitu kita kumpulkan sampah yang bisa didaur ulang dan bisa kita serahkan pada bank-bank sampah yang sudah banyak menyebar di seluruh Indonesia. Sampah kering atau sampah anorganik mah gampang. Ada bank sampah beres deh. Tidak usah dibahas lama ya. Yang penting konsisten dan memiliki kemauan untuk memilah sampah anorganik.

Apalagi dengan kita memilah sampah kering dan kita tabung di bank sampah, kita bisa dapat duit dari apa yang kita buang. Kalau ngomongin duit, emak-emak lebih semangat kayaknya. Hehe

Tapi bagaimana dengan sampah basah kita? Atau sampah organik kita? Apa cukup di buang di sungai? Oh, no... Air sungai kita tidak menjadi jernih ya karena ini penyebabnya, dampaknya kita semakin kehabisan air jernih dari hari ke hari. Atau dibakar? Jangan juga dong. Karena itu sangat berbahaya. Karbon pada plastik bercampur hidrogen dan klorida pada sisa makanan jika disulut api akan membentuk dioksin dan furan. Dan kedua zat itu meskipun dalam konsentrasi yang sangat kecil saja bisa mengakibatkan kematian. Paparan dioksin dalam jangka panjang akan menyebabkan kanker. Makanya di Indonesia, kangker adalah penyakit mematikan nomer satu. Dan satu lagi, proses pembakaran dapat menipiskan lapisan ozon karena emisi karbondioksida yang dihasilkan. Jadi kalau mau bakar-bakar sampah, mikir dulu ya...

Terus, gimana dong mengelola sampah organik kita nih?

Ada banyak cara sebenarnya, tapi di sini akan diulas tiga cara saja, ga usah terlalu banyak, tiga saja dan di jalankan, akan berdampak luar biasa. Apa sajakah itu?

1. Biopori

Lubang biopori sendiri merupakan sebuah lubang berbentuk silinder vertikal yang dibuat masuk ke dalam tanah, dimana lubang ini digunakan sebagai metode resapan air yang dapat membantu mengurangi genangan air dengan cara membantu meningkatkan daya resap air di dalam tanah.

Prinsip kerja yang dimiliki adalah dengan  cara membuat lubang biopori itu untuk meningkatkan daya serap tahan dengan cara membuat lubang serta menutupnya dengan menggunakan sampah organik. Nah, kita bisa buang sampah organik kita di biopori yang kita buat di sekitar tempat tinggal kita. Sampah organik ini nantinya akan menghasilkan kompos yang dapat memberikan dampak baik bagi fauna tanah di sekitar sehingga ke depannya tanah akan jauh lebih subur dan tercipta banyak pori-pori tanah. Banyak sekali manfaat yang dapat ditemukan dari lubang biopori ini. Seperti mencegah banjir, tempat pembuangan sampah organik, sebagai resapan air, menyuburkan tanah karena fauna dalam tanah berkembang biak dengan subur dan mereka akan menyuburkan tanah pula. Dan masih banyak manfaat biopori yang lain.

2. Kompos

Dengan sampah organik yang kita kumpulkan dan kita campur dengan tanah. Maka akan menjadi kompos yang bisa kita pakai untuk media tanam dan sangat bagus untuk tanaman kita. Dijamin, tanaman kita akan subur dan sehat. Apalagi kalau kita tanam sayuran sendiri. Sayuran yang kita tanam akan menjadi sayuran sehat dan organik. Non pestisida. Kereeennn... Kita bisa makan sayur sehat tiap hati.

3. Felita

Felita adalah Fermentasi Limbah Rumah Tangga. Kita bisa membuatnya sendiri. Ini adalah sistem pembuangan sampah organik yang sangat sehat dan sustainable. Felita ini bisa kita buat sendiri dari tabung plastik yang sudah kita beri saringan di bawah yang kita beri jarak sekitar 10-15 cm dari dasar. Untuk menampung air yang dihasilkan. Kita pasang kran juga di bagian dasarnya untuk mengambil air yang sudah penuh.

Nah...
Sampah organik, atau sisa makan kita yang tidak habis, bisa kita masukkan ke dalam tabung, kemudian kita tabur atau kita semprot dengan starter yang ada, atau istilah lain dari starter adalah bakteri baik yang bisa kita dapat di toko online. Esoknya saat kita ada sisa makanan atau ada sampah organik dari sisa kita masak, bisa kita masukkan ke dalam wadah felita tadi dan kita semprot/tabur dengan bakteri baik. Begitu seterusnya. Lama kelamaan akan ada air yang menetes yang sudah kita tampung di bawah wadah tadi. Air itu bisa kita pakai untuk pupuk cair organik. Kalau kita punya tanaman, kita beri pupuk itu, hasilnya akan membuat kita terkejut dengan bahagia. Hehe...

Dan sampah padatan felita tadi, bisa kita campur dengan tanah dan kita jadikan kompos untuk media tanam kita.

Atau karena itu hasil fermentasi, bisa kita buat makanan ikan lele yang kita budi daya, atau bisa buat makanan ayam, makanan sapi atau ternak yang lain. Keren kan? Sustainable Living is always amazing

Saat kita bisa mengelola sampah kita, maka kita akan terhindar dari segala mala petaka.  Dengan hidup sehat dimulai dengan kelola sampah dari sumbernya, banyak sekali manfaat yang bisa diambil dari sistem itu.

Dengan berbiopori kita akan semakin merasakan suburnya tanah kita, tanah yang subur sayang dong kalau kita anggurin saja, trus kita jadi menanam kan? Menanam sayur, cabe, buah kita sendiri, kita kasih pupuk cair dari hasil felita kita tadi. Sayuran kita subur, cabe kita subur, kita akan lebih sehat. Harga cabai naikpun kita nggak akan gusar, tetep bisa bikin sambal yang pedas. Hehe...

Terus kita juga bisa makan lele yang kita budidaya sendiri dengan sehat karena kita kasih makan hasil padatan felita tadi kan? Makanan itu sangat bagus untuk ternak kita. Karena sudah terfermentasi dengan baik oleh bakteri yang baik.

Gimana?
Asik dan sehatkan dengan sustainable living?

Masih malas mengelola sampah kita sendiri? Come on... Jangan biarkan bumi kita menjerit lagi

Go green go healthy

Nganjuk, 15 September 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP