Antara Bagus dan Ayu part 1
Menangislah, cinta...!
(Antara Bagus dan Ayu)
#AntaraBagusDanAyuPart1
#ABDA
Akhirnya, aku dapat tersenyum bahagia telah menikahi wanita yang kucintai. Pernikahan sebelumnya adalah kesalahan karena kami tidak saling suka, tepatnya aku tak pernah mencintai istri pilihan mendiang ayah itu. Aku menikahinya hanya karena permintaan ayah yang ingin mengangkat martabat keluarga sahabat kecil ayah di desa. Aku tak akan mendapat warisan ayah jika menolak permintaannya.
Menikahi wanita kejawen yang hanya lulusan SMA selama satahun membuatku menahan segalanya. Aku tak pernah mencintainya, tak pernah menginginkannya. Ini hanya pernikahan semu yang segera ingin kuahiri.
Dua bulan lalu, Tuhan mengabulkan doa yang selama ini kupanjatkan untuk dapat menikahi wanita idamanku. Mungkin aku anak tak tahudiri yang merasa bahagia sekaligus sedih dengan kematian ayah. Hari ke tujuh meninggalnya ayah, aku menceraikan Ayu, dan bulan berikutnya menikahi Naomi gadis bermata sipit dan berkulit putih yang aku pacari sejak kuliah. Yeah, 5 tahun adalah hubungan yang cukup matang dan tak mudah untuk memutuskannya begitu saja. Dia keturunan Jepang, perawakannya kecil, imut dan manja. Kecantikan, kebaikan hatinya serta kecerdasannya tak akan sanggup aku lupakan. Setahun menikah dengan Ayu tak membuatku bisa melupakan Naomi, bahkan semakin membara rasa ini.
Mudah saja menceraikan Ayu karena kami jarang berkomunikasi, kami tidur dengan kamar terpisah. Memang dia istri yang baik, selalu menyiapkan segala keperluanku. Tapi diapun tahu, aku menikahinya dengan terpaksa. Dia juga tahu aku mencintai Naomi. Maka saat aku utarakan niat untuk menceraikannya sepeninggal ayah, dia menerima dengan anggukan.
Mudahkan? Aku masih menjadi anak berbakti dengan menuruti kemauan ayah untuk menikahi putri sahabatnya, aku masih mendapat warisan ayah sebagai pewaris tunggalnya, dan sekarang menikahi wanita pujaanku tanpa kendala apapun. Tuhan begitu Maha Penyayang.
Selesai resepsi, aku pamit sebentar kepada Naomi dan keluarganya untuk memboyong segala pakaian dan keperluan di rumah. Biarlah rumah yang dulu itu menjadi milik Ayu. Aku tak berniat menempatinya. Sebuah rumah jerih payahku dan Naomi yang menabung untuk membeli rumah di kawasan Jakarta Selatan sudah siap untuk ditempati sejak lama. Itu rumah idaman kami. Tempatnya lebih dekat dengan tempat kerja Naomi.
"Ibu Ayu mana?" Tanyaku pada Mbak Ira, yang membukakan pintu dengan kagetnya.
"Tuan akan tinggal di sini bersama istri baru tuan?" Mbak Ira mengikuti tak menjawab pertanyaanku.
"Tidak, saya akan pergi. Rumah ini akan ditempati Bu Ayu". Aku berhenti sejenak, memperhatikan perempuan yang duduk di gazebo dalam yang bersebelahan dengan dapur terbuka bergaya modern.
"Tapi tuan, Bu Ayu juga sudah beres-beres dan akan meninggalkan rumah ini". Kukernyitkan dahiku. Aku tak pernah menyuruhnya pergi. Tapi aku juga belum pernah memberi tahunya, bahwa rumah ini adalah haknya.
"Aku akan bicara padanya" pungkasku dan berjalan mendekati gazebo.
Punggungnya berguncang tak seirama, kepalanya disandarkan pada tiang gazebo. Semakin dekat, aku bisa mendengar isakannya. Dia...menangis?
"Aku akan pergi dari rumah ini". Tubuhnya gelagapan, tangannya menyapu wajahnya dengan cepat, dan berdiri dengan kaku, kemudian berbalik ke arahku. Senyumnya terukir terpaksa di atas wajahnya yang merah dan sembab.
"Rumah ini milikmu sekarang, aku datang hanya akan mengambil barang milikku"
Kataku sedikit canggung. Melihat seorang wanita menangis membuat hati sedikit tak enak.
"Saya yang akan pergi, Mas. Ini rumah Mas Bagus" Aku diam. Menatap matanya yang baru kali ini kulakukan. Mata itu begitu....indah, meski tampak redup. Wajahnya oval dengan rambut dikucir kuda, anak rambutnya terurai mengelilingi wajah tirus itu. Hidung bangir yang terlihat merah tampak serasi menempel di wajahnya. Ya Tuhan... Baru kali ini aku menamati sosok di depanku setelah setahun bersama.
"Ehm...Tunggu!" Sadar dari lamunan karena melihatnya beranjak pergi meninggalkanku.
"Aku sudah putuskan, rumah ini menjadi hakmu. Jangan menolak. Anggap ini pemberian ayah. Karena ayah yang membelikannya untukmu" Ayu menoleh, memandangku dengan tatapan yang sulit kuartikan.
Kuulurkan tangan, mengajaknya berjabat
"Sampai jumpa. Dan maaf, jika selama setahun ini aku bersikap tak baik padamu. Terimakasih telah melayaniku dengan baik selama menjadi istriku" seketika matanya berkaca. Dia membalas jabatanku dengan diam. Dan menunduk, menyembunyikan air matanya yang telah deras di pipinya.
Ya Tuhan. Aku tersadar, jabatanku adalah pertama kalinya aku menyentuh wanita ini. Ada desir aneh yang merambati hatiku dan menjalar panas di sekujur tubuh. Tanpa bisa kukendalikan, kutarik tubuhnya dalam dekapan. Tubuhnya menegang, kemudian tak lama bergetar hebat karena tangis. Kueratkan pelukanku. Ada perasaan bersalah yang tiba-tiba menyayat. Walau bagaimanapun, aku tahu dia gadis baik dan sederhana.
"Maafkan aku, Yu. Sungguh, maafkan aku"
Dia menggeleng di atas dadaku sembari berucap
"Mas Bagus ndak pernah menyakiti saya, Terimakasih pernah menjadi bagian dari hidup saya" Isaknya membuat semakin sulit melepaskan pelukanku. Gusti.... Ada apa dengan aku ini?
Perlahan dia melepaskan diri dari dekapan, mendorong tubuhku dengan lembut. Aku bahkan seakan enggan melepaskan tubuhnya.
"Istri Mas Bagus pasti sudah menunggu. Pulanglah ke sana Mas" Aku mengangguk berat. Manatap matanya yang penuh dengan sorotan cinta dan luka.
"Mas bawa beberapa baju saja. Barang mas yang lainnya akan saya rapikan dan akan saya suruh kurir untuk mengantarkannya. Kirimkan alamat Mas Bagus" Sekali lagi aku mengangguk menatapnya lama dan berbalik menuju kamarku untuk mengambil beberapa potong pakaianku, seperti saran Ayu.
"Mas..." Aku berbalik cepat setelah beberapa langkah mendengar panggilannya.
"Selamat menempuh hidup baru, semoga selalu bahagia." Wajahnya teduh dan nampak sangat rela melepasku. Senyumnya tulus. Aku mengangguk, membalikkan badanku dan kembali melangkah dengan hati yang teramat berat.
Ayu Kumala Ningrum.
Aku melafalkan namanya. Seakan mengukir namanya di sana. Ah tidak, seharusnya bukan nama itu yang aku ukir. Aku menggeleng mencoba meluruskan pikiran dan hatiku dan menyebut satu nama lain yang sedang menungguku di rumah baru kami. Tapi wajah wanita di Gazebo itu, seakan sulit kuhilangkan.
***
Ini cerbung pertama saya di KBM. Semoga ada yang berkenan membacanya. Mohon kritik dan saran ya...para mastaaah... 😊😊
Wih wih keren 👍👍👍
BalasHapusMakasih
HapusHalo Kakak, pengaturan paragraf mohon dirapikan ya. Supaya enak dan sedap dipandang mata. Ada beberapa koreksi lho setelah saya baca
BalasHapusSiaaappp.... Iya nih.. aku bermasalah dengan penataan paragraf... Tolong....
HapusLanjuttt yaaa
BalasHapusUwew.....deskripsi rumah mengharukan
BalasHapusKok bisa diskripsi rumah bisa mengharukan?
HapusAsyik ... ada cerbung buat baca malam2
BalasHapusHorrreee..,
HapusKa Ayu kita main 😜💃💃
BalasHapusAda nama aku y hh
BalasHapus😊👍
BalasHapus