Surat Balasan Pramoedya

#Bumi_TantanganKita

Arjunaku Mas Pram...

Menerima suratmu di sore indah saat aku menyapu halaman seakan aku disapa oleh indahnya cakrawala. Cahaya matahari menyinari dari bilik dedaunan pohon maranggi, membias melewati bunga-bunga Rosella yang mulai memerah. Indah sekali. Sebelum membukanya kucium wangi kertasnya dan mendekapnya dalam dadaku, menyalurkan kerinduan tak terbayang kepada pemiliknya. Tanaman indigovera melambai-lambai menyoraki hatiku yang tersipu

Surat itu begitu rapi, kata dan kalimat tersusun sangat indah dengan tulisan tangan yang teramat cantik bak bunga lavender yang membentang di atas bukit Lavender Park, Provence Prancis yang pernah kau ceritakan padaku dulu.

Mataku buram dipenuhi anakan sungai yang mulai merembes di pipi. Aku tak sanggup berkata-kata, aku tak sanggup membacanya. Kudekap lagi membayangkan kau yang berada dalan dekapanku saat itu.

Wahai Sang Penjaga Dewi, Mas Pram terkasih...
Biarkan tubuhku lemas tak bertenaga yang hanya mampu mendengar degup jantungku sendiri. Merasakan kepedihan akan sebuah cinta dan rindu padamu yang sedang berjuang dibalik jeruji, juga kebahagiaan karena aku merasai rasa cintamu padaku, melewati surat indah yang kau kirim.

Aku mungkin tak pandai berkata, tak pintar merangkai makna. Hanya untaian doa dengan segenap rasa cinta yang menyesakkan dada, rindu yang menggebu dan keinginan bertemu yang semua tenaga kutahan.

Angin tak pernah ingkar, dia telah sampaikan rasa cintamu kepadaku di pagi indah saat menemaniku membilas tubuhku di sungai, dia juga menemaniku di siang terik dengan sepoi-sepoi sembari menceritakan sebuah kisah klasik tentang cinta dari negeri Halimun, saat malam dia juga menghiburku dengan sayup indahnya, membiarkanku kedinginan, beku oleh rindumu.

Pangeranku Mas Pramudya Ananta.
Biarkanku membaca suratmu berjuta kali, sampai hafal aku nanti. Agar tak perlu aku menjerit dan terluka menunggu suratmu selanjutnya saat ternyata tanganmu telah hancur oleh rejamnya para tirani. Kita akan bertemu. Saling menyatu dengan cinta dan hanyut dalam indah surga.

Aku akan menunggumu, hingga ke ribut buku-buku tanganku. Akan kutunggu hingga kau datang membawaku ke singgasana mahabbahmu.

Dari yang mencintaimu. Maemunah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP