Wanita Hebatku
Ini loh, inspirasiku.
Ibu kami, yang sekarang kami panggil eyang putri karena untuk membiasakan anak-anak kami.
Dilahirkan dari keluarga miskin sederhana dengan 12 saudaranya. Ayahnya seorang modin yang nyambi sebagai panglima perang di zamannya. Mbah. Affandi nama ayahnya, ibunya, Muhlisoh, lahir dilingkungan pondok pesantren karena bapaknya seorang pendiri pondok di Plosorejo sana. Kemudian menjadi ibu rumah tangga dengan kerjaan sampingan mengajar ngaji di pondok ayahnya.
Ibu kami putri ke 7 yang semasa hidupnya tidak banyak mengenyam pendidikan seperti saudara lainnya, dan pula tidak banyak merasakan pola asuh orang tuanya, karena sejak umur 6-7 tahun, ibuk diasuh pakdenya karena pakdenya kasihan melihat adik perempuannya (ibunya ibu kami) yang mengasuh banyak anak sendirian dengan ekonomi yang pas.
Ibu pernah bercerita, saat masih ikut embah ibu tidak pernah kebagian makanan, karena ludes dihabiskan para kakak laki-laki beliau yang sudah remaja dan juga kelaparan. Maka ibu kami mencari makanan sendiri, dengan memakan daun kelor rebus yang di masak tetangganya yang sedikit tidak waras di sebuah gubuk kecil, dan ibu dengan bercucuran air mata melas mengisi perut yang kosong dengan orang gila itu hampir setiap hari.
Kemudian dipindahkanlah ibu ke kediaman pakdenya di Mojokerto sana, hidup di pondok yang didirikan pakde beliau, awalnya mudah, pakde budenya menyayangi beliau, seperti anak sendiri. hingga ada yang iri dengan keberadaan ibu, dan banyak memfitnah ibu, kemudian keluarga ndalem ikut terpengaruh.
Ibu kami yg sekecil itu sudah banyak mendapat fitnah, cacian, cemooh.
Disebut anak anjing sudah sering, julukan perawan sunthi pun sudah melekat didirinya.
Kemudian di umur 14 tahun, ibu kami dinikahkan pak kyainya, yg merupakan pakdenya dengan santri kesayangan beliau, yang kemudian menjadi bapak kami. Alm. Bapak Abdul Qodir.
Ibu kami dengan ketidak tahuannya menikah dengan pria yang tidak dikenalnya tanpa cinta apalagi sayang. Umur bapak juga waktu itu masih 19 tahun. Sama-sama belum mengerti tentang tetek bengek rumah tangga.
Di awal-awal pernikahan, mereka berdua masih sering main gobak sodor atau main loncat tali bersama remaja-remaja di sekitar rumah kami dulu di Sidoarjo. Lucu memang, penduduk sekitarnya dulu juga menganggap pasangan baru ini sangat menggelikan.
Di umur 18 tahun ibu hamil anak pertama, 3 tahun berikutnya lahir anak ke dua, disusul 3 putri selanjutnya tiap 3 tahun.
Perjuangan membangun rumah yang menuai banyak cemooh dari tetangga sekitar karena bapak hanya bekerja sebagai kuli bangunan, dan nyambi pesuruh penggilingan beras, dirasakan mereka.
Perjuangan menyekolahkan anak-anaknya yang saat itu tidak banyak peduli dengan pendidikan anak, karena buat makan aja susah.
Hingga perjuangan mendidik ke lima anaknya yang penuh dengan kearifan lokal...
Bapak yang romantis dengan anak-anaknya. Dan peran ibu yang nasehatnya serasa air sejuk yang selalu kami rindukan sejak kecil dulu.
Lalu, saat kami mulai beranjak besar, ekonomi kami juga beranjak naik, tapi ada gangguan lain menghadang. Ada yang mengganggu kami dengan cara tidak sehat, dukun, dan sabotase. Kakak tertua kami diganggu dg doktrin yang salah sejak Smp, juga diganggu mentalnya, kakak kami menjadi orang yang sangat tertutup.
Suasana rumah juga sangat tidak kondusif. Kemudian Guru Kami, Alm. Bapak Kyai Munawwar Affandi mengutus kami meninggalkan Sidoarjo dan pindah ke Nganjuk.
Di Nganjuk, ibulah pahlawan utama yang menenangkan hati putri-putrinya untuk belajar menerima keadaan.
Ibu pula yang mangajak anak-anaknya bahkan suaminya untuk move on, melupakan kehidupan kota dan membangun kehidupan di desa, Nganjuk.
Hingga kami mengerti untuk apa sebenarnya manusia dilahirkan di dunia, siapa diri kami ini, dan kemana seharusnya kami kembali nanti...?
Memang tidak mungkin manusia memilih siapa yang harus melahirkan kita, kita dilahirkan dari keluarga yang seperti apa??
Tapi, dari keluarga sederhana inilah kami mengenal cinta, kasih sayang, saling melengkapi, saling mengisi.
Dari wanita inilah awal perjalanan hidup kami
Dari tangan wanita ini kami disuapin (bahkan kadang sampai sekarang, diumur kami yang sudah emak-emak ini)
Dari mulut wanita ini, terlantun nasehat hebat, cerita indah, lagu merdu saat kami menjelang tidur.
Dari hati wanita ini mengalun doa-doa terbaik untuk kami, putra-putrinya sampai para cucunya.
Dan dari rahim ini, kami dilahirkan. hingga mengantarkan kami menuju tempat ini, surga dunia akhirat, mengiring kami menuju dan mengenal Guru yang Hak dan Syah. Yang menunjukkan keberadaan Ilahi.
Ibu memang wanita biasa, yang SD saja tidak tamat, yang tidak bisa baca tulis, yang selalu mengaku paling bodoh dari siapapun.
Tapi, karena dilahirkan dari wanita ini, kami mengenalNya,
Tanpa pencarian bertahun-tahun seperti beberapa saudara Sinorowedi kami yang lain.
Subhanallah...
Mana ada nikmat Anugerah terindah yang bisa menandingi dimaukannya mengenal Sang Raja Munir, Sang Avatar, Sang Penyelamat. Bapak Kyai Tanjung...
Dan doa kami.
Gusti...
Wanita inilah yang melahirkan kami.
Semoga Keselamatan Engkau limpahkan untuknya, Klkeselamatan lahir dan batin. Amiin...
#ibuk
#eyangputri
Nganjuk, 19 September 2019
Yulia Tanjung
Ibu segalanya dalam menemani hidupku
BalasHapussungguh ibu yang sangat hebat..
BalasHapusI miss you Lom
BalasHapusIbu, ibu dan ibu 🤗👍
BalasHapusOrang hebat selalu lahir dari orang hebat pula 😍
BalasHapusTerenyuh.... Ibu memang sosok pahlawan
BalasHapusSemangat yaa
BalasHapus