Tita
Anakku bernama Tita. Aku ingin memanggilnya dengan nama itu karena mengagumi sosok Tita dalam novel 'Rahasia Dua Hari' yang ditulis Muthmainnah, yang bukunya entah hilang ke mana?
Kami memberinya nama Tita agar dia tangguh dan semangat seperti Tita dalam novel itu. Serta kusisipkan doa lain pada nama lengkapnya. Shafira Tazkiya Anindita, Perjalanan Suci yang Sempurna. Kami ingin dia menjadikan perjalanan hidupnya sebagai proses suci yang penuh pembelajaran untuknya menuju keselamatan yang sempurna dan abadi.
Mungkin aku bukan ibu yang baik, hingga perkembangan motoriknya lemah, persis sepertiku. Kalau ada bola yang dilempar kepadanya dia akan kesulitan menangkap bola itu. Seperti aku, bahkan di umur yang sudah emak-emak ini aku masih kesulitan menangkap apa pun yang dilempar ke arahku.
Dari kecil dia suka dengan dongeng, karena sejak sangat kecil aku sering berdongeng sebelum tidur untuknya. Meskipun mulai kelas tiga Sekolah Dasar aku sudah tidak selalu menuruti keinginannya untuk didongengin. Tapi dari situ, kecerdasan emosional dan kecerdasan verbalnya lebih menonjol. Dia pandai menceritakan apa saja yang dia amati.
Dari kecil dia suka berimajinasi. Semua yang dia tonton akan menjadi imajinasinya yang tinggi. Dia pikir putri Sofia itu ada dan akan datang ke rumahnya untuk mengajaknya bermain, dia juga menanti kedatangan Tinkerbell dengan membawa bubuk emasnya untuk terbang bersamanya, dia juga yang menangis histeris setelah melihat film Transformers kemudian mengajak bicara sebuah mobil berwarna kuning yang dia harapkan sebagai Bumblebee tapi tak menjawab pertanyaannya. Setinggi itu imajinasinya.
Beranjak besar, mulai sekolah tingkat dasar kami menyadari kecerdasan imajinasinya tak sebaik kecerdasan kognisinya. Dia lemah memahami pelajaran. Dia baru bisa baca di tingkat kedua sekolah dasar. Aku sama sekali tidak menekan dia agar bisa baca. Karena sampai kelas tiga, umurnya masih bermain. Setiap ada pekerjaan rumah dari sekolah tidak kutekankan untuk mengerjakan PR nya, aku malah membiarkannya saja saat dia tak mau mengerjakan PR meski aku tahu. Aku ingin dia menikmati masa kecilnya.
Tapi dampaknya, anakku dianggap 'bodoh' oleh teman-temannya dan banyak yang tidak menyukai anakku. Anakku jadi korban bully, dia juga tak banyak punya teman. Temannya hanya memanfaatkannya saja. Awalnya dia menangis, dan sangat tertekan. Tapi kami mengajarinya untuk pinter ngempet, ngalah, memaafkan dan sabar. Seperti yang diajarkan Guru kami, Bapak Kyai Tanjung.
"Mama, adek nggak papa nggak disukai teman-teman. Tapi adek percaya, suatu saat nanti teman-teman akan suka sama adek, karena adek orangnya baik, nggak suka marah-marah dan suka ngalah." Aku mencium keningnya dengan sangat lama saat dia ungkap itu di sela dongeng yang aku bacakan sebelum tidur. Menahan air mata yang akan menetes sembari merapal doa panjang untuknya. Dan mengamini apa yang dia katakan.
Anakku bukan anak nakal, dia selalu mengalah pada siapa pun, dia akan rela disuruh-suruh saat bersama teman-temannya untuk ambil ini itu. Aku melihatnya, tapi kubiarkan saja. Karena itu akan mengajarkannya kerelaan. Sakit sebenarnya, tapi aku mencoba menekan ego sekuat tenaga, karena itulah pelajaran berharga untuknya.
Aku banyak belajar darinya. Sekecil itu sudah menjadi tauladan bagiku.
"Adek tadi dibully temanku di sekolah mama." Ceritanya suatu hari.
"Jilbab sekolahku dilepas paksa dan dibuang di sampah, terus tak ambil dan diambil paksa lagi sama temanku dan mau dibuang di sungai samping sekolah. Aku nangis, tapi nggak ada yg bantu aku. Sampai ada salah satu temanku yang baik menolongku, dan memarahinya temanku yang ambil jilbabku tadi."
Ibu mana yang tak emosi mendengar cerita seperti itu. Tapi aku tahan. Aku yakin dia akan mendapat solusi sendiri.
Suatu hari dia bercerita, bahwa seluruh temannya di kelas marah dan tak mau berteman dengannya. Aku tanya mengapa, dia juga tak tahu apa salahnya, tiba-tiba dia dimarahin seluruh temannya. Ada salah paham dengan salah seorang temannya, dan yang lain ikut marah pada Tita karena itu. Aku pikir itu karena dia yang tak sadar melakukan kesalahan hingga adanya salah paham. Kubiarkan dia menangis. Sampai di hari berikutnya dia mikir itu sampai panas badannya dan sakit tidak masuk sekolah. Esoknya dia sudah sembuh tapi tetep tak mau sekolah.
Agar dia mau masuk sekolah, kubelikan bolpoin tiga pack untuk dibagikan ke teman-temannya sembari meminta maaf atas kesalahannya sebelumnya dan berjanji akan lebih hati-hati bersikap. Dia mau dan masuk sekolah dengan bekal percaya diri lagi sambil membawa bulpoin-bulpoin itu. Tapi aku menyelipkan doa, semoga dia tidak menganggap itu sogokan untuk bisa membuat teman-temannya mau tersenyum dengannya lagi.
Sekarang, aku dan ayahnya menyesali karena merasa tidak becus mendidik anak. Salah dari awal yang tak kami sadari, tidak membiasakan disiplin dari awal.
Tapi setiap hal pasti memiliki hikmah sendiri-sendiri. Itu saja yang kami percaya.
Karena seperti namanya, kami ingin anak kami bersikap selamat dan menyelamatkan hingga akhir hayatnya.
***
Yulia Tanjung
Nganjuk, 26 September 2019
👍😉
BalasHapusMakasih selalu mampir
HapusWah jadi ingin cerita juga soal putra aaya
BalasHapusHayuuukk, ditunggu ya linknya...
BalasHapusSemoga selalu menjadi anak sholehah Tita
BalasHapus