Pecah Dadaku

Aku ingin menceritakan pengalamanku dua tahun yang lalu. Sebenarnya ini perjalanan biasa, tapi ini sangat luar biasa sebagai pengalaman spiritualku. Tentang hati kotorku yang butuh dicuci sampai bersih.

Waktu itu kami sedang perjalanan ke Magelang nderek mujahadah di markas Akmil Magelang

Di perjalanan sampai daerah Bagor,  mobil mogok,  ngambek tidak mau jalan.  Kemudian para bapak yang terlihat gusar bercampur khawatir mengusahakan sebisanya,  menghubungi mobil sewa yang lain sebagai alternatif,  karena menunggu mobil diservice,  jelas tidak mungkin,  karena perjalanan membutuhkan waktu 8 jam,  dan kami belum keluar dari daerah Nganjuk. 

Rasa bosan dan kecewa mulai menggoda nafsuku. Aku hanya bisa mengusahakan agar tidak menjadi amarah bahkan sampai terlontar dari mulutku.

Kemudian aku mencoba buka WAG yang ada. Keluarga mengabarkan kondisi Eyang Kakung.  Semakin mak tratap.
Duh, Bapak...Bisakan hati ini, lesan ini untuk bersandar padaMu.

Sebenarnya, kalau bisa jujur. 
Sejak dari awal saat rombongan ke Magelang ini terbentuk, sudah tidak nyaman di hati.

Aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap bertahan di rombongan kantor pusat. 
Tapi akhirnya aku dikeluarkan karena kami sudah membentuk rombongan sendiri.

Ampuni kami Bapak...
Ini pasti karena saking kurangnya lakon kami,  kurangnya bersandar kami, dan tingginya ego kami.

Jadi ingat dhawuh Bapak. Saat sebuah kegiatan teknis tidak berjalan baik,  itu karena pasti ada ego yang menyertai.

Hhm...
Aku merindukanNya,  Bapak.

Tapi ini sudah terjadi, tidak ada yang harus disesali. Bahkan sampai pecah dadamu, tahan, pendam sekuatmu. Jangan pernah luapkan emosimu. Begitulah Beliau mengajarkan kami.

Satu jam berselang akhirnya kami menemukan mobil pengganti, sedikit lebih sesak dan sopir pertama kami jadi penumpang karena mobil sewaan sudah bawa sopir sendiri. It's okey. Aku berusaha menikmati perjalanan.

Kemudian aku lupa dengan sebalku di awal tadi. Semua bernyanyi di mobil sambil cerita-cerita nabi.

Sampai Magelang agak telat. Tapi everything went well. Aku bisa ikutin setiap kegiatan mujahadah di sini. Dan bertemu banyak sodara sinorowedi yang luar biasa, saling mengukuhkan dan saling memuji.

Shalat maghrib lanjut isya dan istirahat sebentar, kemudian mulai kajian. Bapak Kyai membuka paradigma beragama. Beliau menuturkan bahwa beragama tidak hanya shalat, mengaji atau ritual-ritual yang tampak. Bahkan bekerja, bersosial, bermasyarakat, dan bertanam dengan memakmurkan bumi Allah adalah beragama. Karena agama tidak hanya dibatasi dengan ritual-ritual yang tampak.

Luar biasa sekali.
Kemudian Bapak Kyai juga membuka fakta sejarah yang banyak dibelokkan. Bukankah sejarah ditulis oleh penguasa saat itu? Tinggal penguasa saat itu menulisnya dengan niat apa?

Inilah mengapa aku selalu mengagumi Beliau, Bapak Kyai Tanjung. Dunia seakan berada dalam genggaman Bapak. Dan tak pernah sekalipun aku tidak takjub dengan apa yang Beliau sampaikan.

Kajian sampai pukul 00.00 tepat. Istirahat sebentar dan pukul 02.30 shalat malam. Sampai subuh, Bapak memberi cerita sebagai pikukuh yang luar biasa. Tentang bagaimana para nabi dulu berjuang, tentang darah para nabi yang dikorbankan untuk menegakkan agama Allah. Agama keselamatan. Kami semua terisak mendengarnya.

Selesai sarapan aku bertemu salah satu sodara dari Jakarta, Bu Ai. Orang yang polos dan lucu meski sudah berumur separuh abad. Ngegemesin, hehe...

Bagitulah, pasti ada hikmah dari setiap kejadian. Coba aku menuruti amarahku dari awal, aku tak akan mendapatkan siraman rohani dan pikukuh yang begitu luar biasa ini.

Kami pulang, aku ga ikut rombongan awal, aku ikut paklikku yang ternyata juga nderek kajian di Magelang. Perjalanan lebih longgar dan menyenangkan.  Di mobil paklik melengkapi cerita yang juga luar biasa tentang sejarah islam sebenarnya. Secara, paklikku ini ahli sejarah. Dan itu amazing.

Suatu saat akan dibuka sejarah yang sebenarnya oleh yang berhak dan yang sah menyampaikan.

Karena akan datang jaman akhir yang akan dibukanya segala tabir, segala kebenaran.

Yulia Tanjung
15 September 2019

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP