Habibie oh Habibie
Seperti ungkapan seorang teman.
Otak Habibie..
Itulah yang aku kenal saat SD tentang standard jenius bangsa ini. Hingga jadi bagian dalam lirik lagu Omar Bakrinya Iwan Fals. Dan sejak itulah aku mencoba menggali jauh tentangmu. Penasaran dengan Nurtaniomu. Kebetulan ada dua omku keterima bekerja di sana, aku selalu ingin masuk ke dalam pabrik pesawatmu, IPTN.
Perlahan, makin ingin mengenalmu.
Penasaran tentang di mana kamu studi. Jerman. Mimpi-mimpiku tentang negeri indah dan penuh orang cerdas menggiring langkahku. Perlahan tapi pasti, aku bisa mengunjungi kampus tempatmu menimba ilmu bersama Romo Mangun, di kampus sederhana RWTH. Kampus tak mewah gedungnya tapi di situ gudangnya manusia jenius seluruh dunia. Wow...rasanya seperti mimpi. Melintasi kampusmu di Aachen. Perlahan, rasanya aku tergiring makin mendekatimu. Kagum dan bangga tentang visimu pada bangsa ini. Aku pun masih merasa mimpi saat mendapat undangan acara penganugerahan penghargaan dari AJI. Engkau hadir di sana. Bercerita tentang hari-hari setelah pasanganmu berpulang, tentang kegiatan berenangmu setiap pagi. Deg-degku ingin bersalaman denganmu. Tapi engkau di atas panggung. Sedang aku di kursi tribun undangan.
Ternyata panitia memanggil namaku untuk naik ke panggung. Engkau ada di sana, aku bersalaman denganmu, aduuuh... membuncah bahagiaku mendapat anugerah penghargaan itu dari kawan-kawan jurnalis dan sepanggung denganmu.
Rasanya seperti mimpi...
Ah, aku melamun lagi pak....
Tentang negeri indah itu, tentang kampus bertembok merah bata di Aachen yang kukunjungi tahun lalu. Tentang visimu yang kau gundahkan kepada Romo Mangun sahabatmu di Gereja tertua Jerman, Dom. Bangunan abad ke VIII yang sudah mengenal tehnologi lift. Aku mengingat-ingat pula tentang telepon besi yang besar dan berat di Nurtanio, Bandung.
Di kereta malam ini di ujung timur pulau Jawa, aku terbayang stasiun Kereta Api kota tua Aachen. Lagu BCL melantun, sountrack film tentang kisah cintamu dengan Ainun. Ah, berkelebat peristiwa bersalaman denganmu saat acara penganugerahan itu.
Semua memanggilmu eyang..
Terimakasih Eyang Habibie, engkau salah satu penuntun mimpiku tentang memajukan bangsa ini. Jadilah pendoa di surga untuk kami yang masih harus terus berjuang untuk negeri ini. Bahagialah engkau di sana, bertemu kembali dengan kekasihmu, Bu Ainun dan sahabatmu Romo Mangun.
Sugeng tindak idola, Eyang BJ Habibie.
***
Mengenalnya pertama kali dari kakak-kakakku yang memuja sosok ini. Banyak bercerita tentang kejeniusannya kamudian menjadi magnet tersendiri untuk kakak ke dua dan ke tigaku untuk bersekolah di SMA IPTN di Surabaya. Begitupun juga denganku. Tapi kemudian aku sadar, aku tidak secerdas itu. Dan aku perlahan melupakan sosok Habibie.
Jujur, aku tidak banyak terinspirasi olehnya. Tapi masa kecilku aku sempat menjadikannya sebagai idola. Bahkan di diary masa kecilku kutulis namanya sebagai Idolaku. Akupun menyebutkan namanya saat ditanya bu guru siapa idola di hidupku.
Beranjak dewasa, namanya tenggelam dengan idola-idola yang lain di masa remajaku. Apalagi dia masuk atau dimasukkan Soeharto di ranah politik, perlahan mengikis rasa kagumku padanya. Mungkin aku tak adil menyama ratakan rasa tak sukaku terhadap politik padanya.
Kemudian nama besarnya muncul lagi setelah Reza Rahardian memainkan sosoknya dalam film Ainun-Habibie. Banyak orang kembali memujanya. Aku, sedikit. Karena dalam benakku aku sudah memiliki pujaan hati. Guruku.
Membaca ungkapan teman di atas, aku tergugu. Menyesali pemikiranku yang sedikit nyeleneh, hatiku yang kotor tentang sosokmu yang picik aku nilai.
Dan mengingat kembali inspirasi-inspirasi menakjubkan tentangmu yang membangun banyak Habibie baru dengan cita-cita membangun bangsa ini.
Mungkin ini yang menjadikanku tak maju dari dulu. Aku tak punya sosok hebat sepertimu yang mendorongku lebih maju dengan mencapai banyak hal dalam hidupku.
Bodohnya aku.
Dan di malamku yang buta ini, aku terbangun membaca rentetan balasan sahabat-sahabatku tentang ungkapan tak pantasku akan wafatnya, membuat aku terisak dan menyadari begitu kotornya hatiku. Maafku akan kuungkapkan dalam doa untuknya.
Kemudian aku mengenang masa kecilku dulu yang sempat mengidolakannya. Di mana aku yang itu? Aku mencarinya dan menemukan bahwa aku menghormatinya dan mengidolakannya kemudian sekarang teramat kehilangannya.
Orang jenius itu telah berpulang. Aku tak pernah bertemu dengannya, tapi aku merindukannya.
Aku mencarinya...
Aku ingin melihatnya, tapi aku telat
Dan aku menyesalinya.
***
Yulia Tanjung
Nganjuk, 11 September 2019
🙏 selamat beristirahat Eyang Habibie
BalasHapus