Aku Adalah Bunglon
Aku tuh seperti bunglon dalam dunia literasi. Saat remaja dan hati mudah berbunga-bunga karena di-senyum-in gebetan, aku suka menulis cerita cinta yang tokoh utamanya aku dan si doi. Jadilah cerpen bergenre 'lebay' versi gadis ingusan yang masih duduk di bangku sekolah. Hehe... Saat si doi ternyata sedang dekat dengan seseorang, maka tulisanku menjadi sebuah prosa rilis yang penuh dengan kesedihan tak terperi seakan bumi sedang tidak berada pada poros yang tepat. Jangan lupa, nulisnya sambil nangis-nangis, kamar dikunci, mogok makan sampai seisi rumah ikutan bingung. Hhmmm...klasik sekali.
Dari situ aku jadi cerpenis, bisa menulis cerita fiksi dengan alur yang aku bikin semenarik mungkin adalah kepuasan tersendiri. Aku tak pernah gagal membuat orang yang membaca cerpenku berteriak sebel atau teriak gemes di akhir cerita. Membuat fiksi romance adalah jagoku saat duduk di SMA dulu. Dan, aku lebih suka dengan sad ending.
Menginjak dewasa, aku mulai nyaman menulis fiksi islami. Masih di cerpen. Rasanya keimananku akan bertambah berlipat-lipat setelah menulis satu cerpen gitu. Aku ingin menginspirasi banyak orang dengan tulisanku. Kadang aku angkat tema kesederhanaan, kemiskinan, perubahan hidup yang lebih 'alim' dan baik, cinta orang tua dan lain-lain. Menulis cerpen islami itu seakan menyerat aku menjadi pendakwah dadakan. Kena atau tidak di hati pembacanya kupikir itu hak Tuhan. Meskipun pembaca kumpulan cerpenku hanya kalangan terbatas saja. Sodara, temen sekelas, temen seperkuliah, dan beberapa pecinta cerpenku yang lain. Ih... Sombong, berapa biji sih? 😀😀
Eh, tapi aku pernah lo, menjadi anggota redaksi majalah lokal di daerahku, aku khusus mengelolah bagian rubrik cerpen. Kalau ada responden yang mau kirim karyanya, aku akan muat di rubrik itu, tapi tak jarang selama beberapa edisi tak ada yang mau mengirim naskah, otomatis aku sendiri yang harus mengisi rubrik itu dengan karyaku. Kadang dalam satu hari, aku bisa menulis 3 sampai 4 cerpen sekaligus. Keren ya? Sekarang? Hihi... Jangan tanya! 😆
Kemudian, ada saat aku merasa menjadi pujangga hebat dengan menulis kata-kata memabukkan sekaligus menggelikan kalau dibaca sekarang. 🙈 Itu saat di mana aku jatuh cinta sama pria hebat dan menakjubkan yang sekarang menjadi ayah anak-anakku ini. Eaa...
Aku menulis sosoknya dalam buku diary yang kuhias dengan sangat manis, kadang kubuat sebuah cerita indah, kadang aku menulis prosa rilis yang mempesona, pernah pula kubuat sajak puisi nan ciamik. Benar-benar pujangga karbitan, hehehe... Rasanya setiap saat ingin sekali aku menulis tentang rasaku yang indah tentangnya.
Tapi anehnya, setelah menikah dengan pria idaman tadi, aku jadi mandul. Maksudnya aku tak bisa menulis lagi, mencoba menulis selalu gagal. Rasanya semua kata-kataku habis diserap oleh pujangga cinta karbitan sebelum mendapatkan cinta pria tadi. Kemana larinya pujangga itu setelah berhasil mendapatkan cinta pujaan hatinya? Kemudian disusul datangnya buah hati kami, dunia menulis seakan sudah hilang dari angan. Aku lebih sering membaca. Lebih banyak novel. Dan mulai suka dengan bacaan yang berbau sejarah, sejarah apa saja. Nasional atau internasional. Aku membaca novel tebal tulisan Dan Brown-Davinci Code hanya dalam dua hari saja, aku suka cerita seperti itu, penuh teka-teki. Mengajak pembacanya mikir. Aku juga mulai gila dengan sejarah islam yang sebenarnya, karena dari sini aku banyak menemukan kejanggalan sejarah yang seperti dihilangkan agar tidak diketahui khalayak umum. Karena ternyata sejarah ditulis oleh penguasa di jamannya. Begitupun dengan sejarah Indonesia, banyak yang tak diceritakan seperti semestinya. Kemudian buku yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku adalah buku berjudul 'Karbala, Pembantaian Cucu Nabi, Husain Bin Ali Bin Abi Thalib' membaca itu aku nangis tiga hari tiga malam sampai panas badanku kebanyakan menangis. 😑
Aku lama fakum di menulis, hingga di tahun 2012 aku mulai menulis kajian Bapak Kyaiku. Aku menulis apapun Dhawuh Beliau. Aku jadi tergila-gila dengan Dhawuh Beliau. Dan aku harus menulisnya, kalau tak mau aku menjadi gila karena menyesalinya. Apa yang Kyai kami sampaikan adalah tentang bagaimana beragama sebenarnya, tentang sejarah, tentang bagaimana membuat kita pintar menahan diri dari gejolak amarah, emosi, keakuan, ego dan banyak hal lagi. Apa yang Beliau sampaikan seakan candu buatku. Dari situ aku mulai menulis tulisan-tulisan receh yang intinya pesan baik untuk diriku sendiri. Aku mulai belajar membaca buku kemudian meresume ke dalam buku dan membuat literasi dengan bahasa aku sendiri. Rasanya saat itu, aku begitu rindu dengan dunia menulis. Karena aku fakum sekitar 5 tahun. Cukup kaku tangan ini untuk menulis lagi.
Di awal 2014 ada sebuah komunitas literasi lokal dengan nama Komupedia. Sebuah komunitas keren yang kegiatannya share isi buku atau bedah buku. Ada kelas online juga kelas offline. Kopdar di tiap minggunya, kami akan bahas tentang buku yang sudah kami baca seminggu sebelumnya. Seru sekali. Dari sana mulai membaca bacaan non-fiksi sekaligus belajar menulis non-fiksi, dan aku serasa hidup. Rasanya kok menulis non-fiksi itu jauuuuuuh lebih enak dan mudah. Kata-kata mengalir dengan lancar tanpa harus mikir jalan atau alur cerita, diksi, penokohan dan lain-lain seperti di fiksi itu. Aku hanya menulis dari apa yang aku baca dengan data-data yang sudah aku catat dalam buku resume yang sudah aku buat saat membaca tadi. Mudah ditebak, aku mulai nyaman dengan menulis dan membaca non-fiksi.
Bingungkan aku inu lebih ke genre tulisan yang seperti apa? Aku suka semua, aku suka menulis. Meskipun aku sudah mulai nyaman dengan tulisan non-fiksi, tapi aku masih menulis cerpen, atau cerbung yang sekarang dalam projek kolaborasi dengan anggota Komunitas Belajar Menulis di Facebook. Juga ada beberapa calon novel yang on going yang entah kapan aku bisa menyelesaikannya. Hehe...
Dan tahukah kamu?
Aku bahkan sekarang mulai menulis puisi. Aku menjadi bunglon puisi sekarang gara-gara salah satu seseakun di facebook yang membuat puisi indah sekali dan tanpa sengaja aku mencoba menjawab puisinya dengan puisi di kolom komentar. Lanjut sampai panjaaaaang gitu komentar kami yang saling sahut menyahut berbalas puisi. Dan itu membiusku. Aku mulai gandrung dengan membuat sajak-sajak berima itu. Menulis puisi seakan mencurahkan segala rasa kita dengan sangat indah, ajaib dan menakjubkan. Dasarnya, aku dari kecil suka membaca puisi, sering ikut lomba baca puisi dan sering menjuarainya.
Satu yang belum aku bisa dalan dunia menulis. Aku belum bisa menulis sebuah lagu, karena menulis lagu butuh kemampuan memainkan alat musik juga. Dan itu aku belum punya.
Jadi, apa genre tulisanku?
Siapa bisa menjawabnya sekarang?
Bantu aku menjawabnya
Karena aku tak tahu jawabnya?
Yulia Tanjung
Nganjuk, 20 September 2019
Yang penting menulis, Mbak hehehe
BalasHapusKeluarkan kata2mu lewat tulisan 💪😍
BalasHapusApapun gentre nya yang penting nulis he he 🤩🤩🤩
BalasHapusMasyaAllah, super keren. Panjang ya pengalaman literasinya... sukses selalu, Mbak... 🥰
BalasHapusKlo ditelisik ... Spertinya lebih ke fiksi y?? Hehe 😅
BalasHapusHoalah ini mah singa yang baru bangun. Hehe
BalasHapusAku tahu genre apa tulisan Kakak.
Tapi aku gak mau bantu menjawabnya. Hehe
Kalo kusimpulkan sih nonfiksi...
BalasHapus