NAD day 6

#30HariMenulis2019_hari_6
#tema_not_human
#nomer127
#568words

Tema:
NOT HUMAN
“Bayangkan bahwa Anda bukan manusia. Hendak menjadi apakah Anda? Tuliskan.”
***

Aku berdiri bersandar pada dinding di depannya. Ada kilatan cahaya yang tak bisa disembunyikan pemiliknya keluar dari mata kemudian tetesan demi tetesan keluar setelahnya.

Bahunya naik turun diikuti suara isak tertahan yang berusaha disembunyikan.  Direngkuhnya tubuhku, mencoba menyalurkan kesedihan yang membelenggu. Aku hanya diam tanpa bisa berbuat apa-apa.

"Aku harus bagaimana, Di? Aku sudah mencoba sekuat tenaga. Tapi usahaku masih tak ada harganya. Aku harus bagaimana?aku ingin pulang".

Aku mencoba meraihnya, tapi tetap saja. Tangan dan kakiku kaku tak bergerak. Dan aku hanya bisa membisu dan menatapnya penuh cinta. Semoga hanya dengan ini aku bisa meringankan kesedihannya.

***

"Di... Kau tahu? Aku rasa dia mulai menyayangiku. Buktinya, dia tadi mau menggandeng tanganku saat kami menyebrang tadi. Hanya sebentar. Aku takut, takut yang indah dan menyenangkan. Oh...Di, bahagianya hari ini"

Senyumnya mengembang dengan indah. Membuatku ikut merasa bahagia luar biasa. Mata bulatnya berbinar menyiratkan cahaya menyejukkan.

Ah... Semoga ini akan bertahan lama. Melihatnya bahagia adalah kebahagiaan tak terkira untukku. Setelah membelaiku pelan. Dia bersiul bahagia sembari melangkah meninggalkanku. Aku ikut bernyanyi lagu indah dalam hati.

***

"Di... Sebenarnya apa yang dipikirkannya? Mengapa dia murung? Ada kesedihan di matanya? Aku ingin sekali bertanya, tapi bibirku kelu. Aku ingin menjadi penghilang kesedihannya. Tapi bagaimana bisa? Dia tak pernah mau mencoba berbicara padaku. Di.... Apa yang harus aku lakukan?"

Ditatapnya foto yang bertengger di atas mejanya sekejap. Matanya menyiratkan cinta yang menyakitkan.

"Di... Aku bersumpah... Aku akan menjadi kebahagiaannya. Aku akan jujur padanya. Meskipun dulu aku membencinya, tapi aku mencintainya sekarang. Aku tak akan menutupinya. Biar saja dia membenciku. Aku tak perduli. Tuhan menyatukan kami untuk sebuah cinta. Aku yakin kami mengalami masa-masa berat. Mencoba mencintai satu sama lain. Tapi, mungkin perempuan lebih mudah jatuh cinta. Aku tak perduli Di...Aku akan jujur. Dukung aku ya Di..."

Aku mengangguk. Meski dia tak melihatnya, tapi aku mendukung keputusannya. Takkan ada yang bisa memisahkan dua insan ini. Bahkan sampai maut memisahkan.

***

Aku bergetar saat tangan lain meraihku. Didekapnya tubuhku sambil berurai air mata. Berkali-kali di sebutnya satu nama yang sangat kuhafal. Aku masih tak mengerti apa yang telah terjadi. Tangannya membelaiku dengan getaran yang pelan-pelan melemah.

"Ternyata, dia menuliskan semuanya di sini. Tentang segala yang dia rasakan, segala perjuangannya untuk mencintaiku".

"Maafkan aku Maya... Harusnya aku tahu,  harusnya aku jujur bahwa akupun telah jatuh cinta padamu sebelum kecelakaan itu. Sebelum takdir merenggutmu dariku".

"Maya.... Maafkan aku. Yang tak pernah tahu, bahwa kaupun sudah mulai menyayangiku. Maafkan aku Maya..."

Aku kaku dalam dekapannya. Maya? Kecelakaan? Dia meninggalkanku begitu saja? Bagaimana aku sekarang melewati hari tanpanya? Aku ingin menjerit, ingin menampar seseorang yang mendekapku sekarang.

Semuanya sudah terlambat. Semua tak ada artinya.

Oh Maya... Padahal masih banyak halaman kosong di diriku yang belum ditulisinya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP